web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Ekonomi Lesu, Ini Strategi Honda Bertahan di 2020

Sabtu, 14 Desember 2019 20:40 WIB Nur Khansa Ranawati

Pengunjung melihat salah satu mobil Honda dalam gelaran Christmas with Honda, di Atrium Utama 23 Paskal, Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, Sabtu (14/12/2019). Christmas with Honda ini, menghadirkan beragam hadiah dan penawaran menarik diakhir tahun bagi pengunjung. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

ANDIR, AYOBANDUNG.COM--Pangsa Pasar mobil Honda tahun ini tengah mengalami tekanan cukup besar mengingat kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Direktur Utama Honda Bandung Center (HBC) Iwan Tjandradinata mengatakan sepanjang tahun ini kondisi pasar belum terlalu positif.

"Meski harga komoditas membaik, tapi tambang sedang turun dan itu berpengaruh ke penjualan otomotif," ungkap Iwan Tjandradinata pada konferensi pers yang digelar di Bandung, Sabtu (14/12/2019).

Di samping itu, penyebab lain lesunya industri otomotif akibat tahun politik. Pihaknya akan melakukan sejumlah strategi untuk tetap dapat mempertahankan pasar pada tahun depan.

Terlebih, di tahun ini dan 2020 mendatang, Honda tidak akan mengeluarkan produk baru.

"Tahun ini dan tahun depan merupakan tahun bertahan, bagaimana kita tetap dapat survive di kondisi pasar yang kurang begitu positif," ungkapnya.

Sejumlah strategi tersebut, dia mengatakan, meliputi pengamatan strategu kompetitior, memperkuat internal Honda dengan memaksimalkan penetrasi para sales di setiap daerah, hingga menciptakan sejumlah program dan promo untuk menggaet konsumen.

"Selain memperkuat internal dan memperhatikan strategi kompetitor, di 2020 kami juga akan menciptakan sales program yang diharapkan dapat memicu orang untuk membeli mobil baru," paparnya.

AYO BACA : Honda Jazz Tidak Akan Diproduksi Lagi?

Iwan menyebutkan, pihaknya juga tidak akan menargetkan kenaikan penjualan yang besar tahun depan. Target yang disasar disebut cenderung konservatif, menyesuaikan dengan prediksi pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5%.

"Honda tidak memprediksi kenaikan yang terlalu besar tahun depan, cenderung konservatif di 5%, mengikuti prediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan," ungkapnya.

Adapun penjualan Honda periode Januari hingga November 2019 tembus hingga sekitar 19 ribu unit. Di mana angka tersebut merupakan 97% dari total besaran target yang dipatok hingga Desember 2019.

Meskipun mengalami penurunan dibanding periode yang sama di tahun lalu, namun angka tersebut dinilai bukan hal yang buruk. Honda pun optimistis untuk dapat mengejar sisa target hingga akhir tahun dengan melangsungkan sejumlah promo pembelian edisi natal di sejumlah titik.

"Christmas with Honda di akhir tahun ini juga salah satunya dibuat untuk mengejar ketertinggalan," ungkapnya.

Dia berharap, pada 2020 mendatang, kondisi ekonomi dan politik negara dapat berada dalam kondisi yang stabil. Hal tersebut, dia mengatakan, akan memiliki pengaruh kuat pada kondisi pasar.

"Saya berharap sekali kondisi negara kita tetap aman. Itu yang paling penting, kalau aman mau melakukan apa pun enak dan perekonomian bisa membaik. Biasanya selepas tahun politik pun penjualan dapat meningkat. Semoga hal ini terulang di tahun depan," katanya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers