web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Percaya Diri Menulis Artikel Opini

Jumat, 13 Desember 2019 20:19 WIB Netizen Netizen

Ilustrasi menulis. (Dok Tasya Chrismonita)

AYOBANDUNG.COM -- Kini untuk menulis opini seharusnya kita tidak perlu takut lagi. Tidak seperti zaman orde baru, yang secara terang-terangan merenggut kebebasan berpendapat. Apalagi salah-salah pendapat yang kita ajukan mengkritik pemerintah, tentu malapetaka akan datang kepada penulis yang dengan beraninya menuliskan kritik terhadap pemerintah. Namun, kini kita seharusnya tidak perlu takut untuk menulis pendapat atau opini dan mengirimkannya di media massa.

Adanya Undang-Undang nomor 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Kemudian Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 (“UUD 1945”) dan Pasal 28F yang berisikan, “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”.

Namun, berbeda zaman berbeda pula tantangan untuk menulis sebuah opini. Saya memulai menuliskan sebuah opini ketika mendapatkan mata kuliah “Penulisan Artikel dan Tajuk Rencana” di semester lima ini. Opini pertama yang saya tulis, di hari pertama masuk semester lima ialah mengenai harapan seorang mahasiswa terhadap rektor. Meski kebebasan berpendapat itu ada namun rasa kekhawatiran saya ketika menulis untuk seorang pemimpin itu muncul.

Kini, dengan adanya internet memudahkan kita untuk mengatasi masalah dalam menulis artikel opini. Ketakutan akan tulisan opini saya yang mungkin sangat buruk, biasanya saya akan mencoba membandingkan dengan opini orang lain di internet dengan tema yang mirip. Apakah informasi atau opini yang saya sampaikan layak dibaca oleh khalayak atau tidak. Atau informasi yang akan saya sampaikan ternyata sudah terlebih dahulu dibahas orang lain, maka saya akan berusaha mencari sudut pandang lain.

Mencari sudut pandang yang menarik tidaklah mudah. Namun, beberapa artikel opini yang telah dibuat rupanya masih memiliki kemiripan dengan artikel opini lainnya yang berada di media massa. Biasanya jika sudah begitu, saya akan mencoba hal baru atau beberapa informasi yang tidak disampaikan oleh penulis lainnya.

Selain itu dengan menambahkan data sebagai pelengkap opini argumen saya mengenai suatu topik biasanya saya mencarinya di internet dari sumber-sumber yang memang sudah kredibel. Seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Kominfo, jurnal dari google scholar, dan berbagai sumber lainnya yang sesuai dengan data yang ingin dicari.

Selain melihat artikel opini orang lain di media massa, saya juga membaca beberapa buku mengenai menulis artikel opini. Yang sebenarnya buku yang saya baca itupun anjuran dari para dosen matakuliah yang kemudian dijadikan tugas. Dari buku-buku yang pernah saya baca mengenai penulisan artikel opini dan tajuk rencana setidaknya saya dapat memahami perbedaan macam artikel tersebut.

Dari mulai artikel opini yang berarti artikel yang penulis buat memang berdasarkan opini penulis saja, kemudian tajuk rencana yang dapat ditulis oleh redaksi dan mengatas namakan media tersebut, ada juga artikel ilmiah populer yang berarti penulis tidak hanya menyajikan opini saja namun harus berdasarkan fakta data yang ada dan artikel jurnal atau karya ilmiah yang disajikan hanya untuk masyarakat ilmiah karena pemaparannya sesuai standar penulisan ilmiah atau akademik.

Meski begitu, tetap saja tidak membuat saya dengan percaya diri menulis sebuah opini. Tantangan yang saya hadapi ialah diri sendiri. Saya sampai saat ini pun masih bingung, seperti apa “rasa” pada artikel opini yang saya tuliskan. Mungkin “rasa” pada tulisan saya masih “gado-gado” terkadang serius seperti gaya artikel tirto.id kemudian paragraf selanjutnya seperti artikel opini mojok.co yang terkesan “slengean”.
 
Apalagi artikel opini yang saya buat rata-rata dengan tema yang sudah ditentukan oleh dosen, sehingga artikel tersebut bukan berdasarkan apa yang saya minati. Sekalipun dibebaskan namun harus bersumber pada berita langsung dari koran harian. Setidaknya saya berusaha mencari topik yang diminati. Karena minat sangatlah penting membantu penulis untuk mempermudah menulis sebuah artikel.

Ketika menulis sesuai dengan apa yang diharapkan menjadi salah satu mempermudah untuk menuangkan opini dalam artikel. Rasa minat itu akan menjadi rangkaian pertanyaan di kepala yang ingin segera terjawab melalui pencarian data yang akan dituangkan dalam artikel opini tersebut.

Dari berbagai macam buku yang pernah saya baca mengenai menulis artikel, saya tertarik dengan buku yang ditulis oleh Dedi Purwana dan Agus Wibowo berjudul Lincah Menulis Artikel ilmiah Populer dan Jurnal (Teori dan Praktik). Sudut pandang yang diambil dalam bahasan “Rahasia Menulis Hebat” bukan rentetan teori.

Di dalamnya penulis menuliskan mengenai menciptakan mood menulis, saya merasa mood ialah tantangan ketika ingin menulis. Biasanya saya mulai menulis di sore hari atau malam ketika setelah pulang kuliah kemudian dengan ditemani beberapa cemilan dan yang pasti harus ada suara musik. Mengenali diri sendiri, sangatlah penting karena gairah untuk menulis ditentukan oleh tiap individu bersangkutan.

Dalam buku tersebut juga menuliskan bahwa “Mengidolakan penulis senior itu tidak salah. Bahkan bagi penulis pemula tidak dilarang meniru model penulisan tokoh idolanya”. Mungkin buku tersebut dapat menjawab pertanyaan saya mengenai seperti apa menulis agar memiliki “rasa” sehingga tulisan tersebut menjadi “aku banget”.

Ada beberapa teknik yang disebutkan penulis berdasarkan pengalam dalam bukunya yakni, jika ingin meniru jangan hanya dari satu penulis. Namun apasih yag ditiru? yang ditiru ialah pola pikir, pola pembahasan data, dan pola menyatakan argumen. Kemudian sistematika ditulis dengan gaya logika penulis artikel.

Dengan lebih sering menulis artikel opini tandanya juga kita berlatih untuk mendapatkan “rasa” dalam tulisan artikel kita. Menulis juga dapat melatih percaya diri dengan pendapat diri sendiri. Saya berharap tulisan artikel opini yang selama ini saya tulis seperti “gado-gado” tersebut akhirnya bisa mendapatkan hasil tulisan bahwa ini “aku banget”.

*Tasya Chrismonita
Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Dadi Haryadi

artikel lainnya

dewanpers