web analytics
  

Komisaris Diminta Usut Dugaan Pelecehan Seksual Garuda Indonesia

Kamis, 12 Desember 2019 06:22 WIB

Maskapai Garuda Indonesia.

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Kementerian BUMN enggan mengurusi dugaan pelecehan seksual yang terjadi dalam tubuh Garuda Indonesia seperti yang dicuitkan akun Twitter @digeeembok.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan dugaan tersebut merupakan ranah internal perusahaan. Kementerian BUMN, kata Arya, telah meminta komisaris Garuda Indonesia untuk menanganinya.

"Kita minta komisaris mengurusi itu, kita bagi-bagi tugas," ujar Arya di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (11/12). 

Arya menilai komisaris akan melakukan investigasi terkait adanya laporan-laporan tentang apa yang terjadi di dalam Garuda Indonesia. "Mereka akan melakukan investigasi dan mencari tahu kalau ada keterlibatan lebih jauh," ucap Arya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir juga telah menanggapi kabar dugaan pelecehan seksual yang menimpa sejumlah pramugari Garuda Indonesia oleh oknum tak bertanggung jawab. Erick memilih menyerahkan isu tentang eksploitasi yang menimpa awak kabin ini kepada pihak kepolisian.

Kementerian BUMN, ujar Erick, lebih mengurusi masalah korporasi dan hal-hal lain yang menyangkut kinerja perusahaan. "Gini lah, kalau amoral seperti itu kan pasti nanti prosesnya bukan di saya. Tapi mungkin hukum yang lain, mungkin di kepolisian," ujar Erick ditemui di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (11/12).

Meski begitu, isu-isu miring yang menimpa Garuda Indonesia terkait adanya pelecehan seksual ini mendapat perhatian Erick selaku pemegang saham mayoritas. Ia ingin, manajemen BUMN nantinya bisa memastikan perlindungan hukum terhadap pegawai perempuan.

"Tidak boleh kaum perempuan, mohon maaf, dijadikan hal-hal yang tidak baiklah," kata Erick.

Erick juga ingin adanya perlindungan terhadap pegawai perempuan di BUMN diperbaiki. Ia ingin, manajemen BUMN nantinya bisa memastikan perlindungan hukum terhadap pegawai perempuan.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Andres Fatubun
dewanpers