web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Puisi dan Prosa di Media Massa untuk Masa Depan Teks Sastra (Catatan 4 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019)

Senin, 9 Desember 2019 13:57 WIB Netizen Netizen

berswafoto di ruang referensi Perpustakaan Kota Banjarbaru, Kalsel. (Eriyandi Budiman)

AYOBANDUNG.COM -- Masih ngantuk.

Seharusnya saya masih menggerus kasur. Namun karena tak terbiasa tidur pagi, saya segera beranjak menyeduh kopi di Kantin Kejujuran, dekat lobby. Angin keras menggoyang cuaca panas. Di kursi untuk istirah, dua sastrawan asal Banjarmasin mempersilakan mengikuti obrolan pagi itu. Wow, mereka cerpenis yang pernah berjaya semasa Majalah Anita Cemerlang. Kami berbincang tentang bacaan masa kecil dan remaja, serta kenangan melahap cerpen-cerpen populer di Anita Cemerlang, Pesona, juga yang ada di majalah Hai. Tiga majalah yang pada tahun 70-80-an beroplah tinggi itu, telah berjasa besar, menjadi tempat para penulis muda Indonesia berkarya cerpen.

“Dahulu sulit sekali menembus media Jakarta, termasuk ke Anita. Namun saya terus mencoba, hingga akhirnya masuk. Suatu hari, saya berkesempatan ke Jakarta, lalu bertandang ke sana. Saya mengenalkan diri. Salah seorang redaktur lalu berkata,’Oh ini ya penulis yang banyak ditolak Anita itu!’, ujarnya dengan senyum lebar, menirukan redaktur yang ia maksud. Sialan, jadi saya dikenal karena banyak ditolak, bukan karena pernah masuk Anita!” ujar Sukardi Wahyudi, yang membuat kami juga tertawa. Sastrawan Banjarmasin yang juga menulis puisi ini, membawa dua rekannya dari tempat berbeda. “Yang nari malam tadi itu, bisa sampai 18 jam baru bisa tiba di tempatnya!” tuturnya, salut atas kecintaan rekan-rekannya mengikuti acara ini.

Ya. Selalu saja ada ‘ada-ada saja’ sebagai bumbu cerita.

Namun kami tak bisa ngobrol panjang, karena Sabtu pagi hingga menjelang sore, ada beberapa sesi diskusi yang menarik.

Dalam acara yang disebut Tetabi (Temu, Tatap, dan Bincang) dihadirkan tema tetang Puisi dan Prosa di Media Massa yang menghadirkan narasumber Putu Fajar Arcana (Kompas) dan Mustafa Ismail (Tempo). Sesi ini menarik ketika sebagai penanda budaya, koran besar dan media digital, berperan penting dalam mengomunikasikan dan mempromosikan karya-karya para sastrawan.

“Tentu saja keterikatan sastra pada basis fakta dan data, sebagaimana terjadi pada jurnalistik, tidak berlaku sebagai syarat mutlak pemuatannya di koran-koran kita. Dengan mudah bisa kita temukan pula cerpen-cerpen yang ditulis tidak menggunakan fakta dan data. Cerpen-cerpen itu biasanya berangkat dari basis ingatan dan serpih-serpih pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki oleh para pengarangnya. Dalam pengertian, seorang pengarang merasa tidak perlu mengikuti jejak Faisal Oddang atau yang lainnya, untuk menulis cerita. Bagi mereka menulis sepenuhnya kerja imajinasi, tanpa perlu memperkuatnya dengan fakta dan data,” tutur Putu Fajar Arcana, usai menjelaskan berbagai fakta sejarah sastra di media massa.

AYO BACA : Ke Banjarbaru Kalsel Berkah Novel Amora Magma (Catatan 1, Banjarbaru’s Rainy Day 2019)

Namun, kini banyak perubahan, khususnya yang berbasis internet. Di dunia online kita kenal media baru yang memuat sastra seperti detik.com, basabasi.co, litera.co.id, . “Saya kira, cobalah sastrawan itu masuk juga ke platform baru media digital berbasis internet. Juga seperti ke aplikasi wattpad, dan storial, misalnya. Memang di media sosial, termasuk fesbuk, banyak karya-karya yang tidak terseleksi. Namun, jika sastrawan tidak masuk ke situ, ke platform baru itu, maka media internet itu tidak akan dipenuhi karya-karya yang baik!” tutur Mustafa Ismail.

Kemudian Wacana Minda (Malaysia), Kang Myoung Sook (Korea Selatan), dan Riri Satria (Jakarta) hadir dengan topik Literacy & Literary in Academic Sphere Hope & Reality. Mereka menuturkan proses perkembangan bahasa Indonesia dan para penulisnya. Khusus yang dari Korea, ditayangkan film pendek tentang gairah belajar bahasa Indonesia yang kian tinggi di negeri ginseng itu. “Mereka menyukai bahasa dan budaya Indonesia yang sangat beragam. Mereka juga banyak yang ingin bepergian ataupun bekerja di Indonesia. Kalau Anda lihat tadi dalam tayangan, ada yang suka pada puisi-puisi Chairil Anwar, juga novel-novel Pramoedya!” tutur Kang Myoung Sook yang selalu nampak tersenyum manis.

Sedangkan Riri sastria, yang menghadirkan makalah berjudul Algoritme, Teknologi Digital Ruang Siber, dan Masa Depan Puisi, menyajikan fakta unik tentang aplikasi komputer yang sudah dapat membuat puisi. “Puisi yang diciptakan komputer tentu tanpa jiwa dalam proses penciptaanya. Tapi bisa jadi pembaca menjiwainya, karena tidak tahu bahwa itu dibuat bukan oleh manusia!” senyumnya. Dengan memasukkan kata tertentu, situasi yang diinginkan dan sebagainya, komputer dapat menyusunya menjadi sebuah puisi. Penyair Jawa Barat, perlu juga mewaspadai fenomena ini.

Begitulah.

Hari makin siang.

Kantuk menyerang. Saya mencoba bertahan dengan mengganyang kudapan.

Ruang Baca Senyaman Cafe, dan Lanskap Sastra Banjarbaru

AYO BACA : Membaca Puisi dan Menulis sebagai Penyembuhan (Catatan 2 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival)

Saat rehat, panitia kemudian mengajak kami ke ruang referensi. Tempatnya di tingkat dua Kantor Disarpus Kota Banjarbaru. Mantap betul rupanya. Buku-buku tertata rapi, dalam rak-rak yang dibuat secara miring, menyilang. Ada ruang lesehan baca, juga meja besar untuk membaca yang diterangi lampu-lampu besar seperti di cafe-cafe. Di sela-sela buku, juga terdapat meja baca yang dapat dilipat, serta tangga kecil untuk mengambil buku.

Para peserta, termasuk para sastrawan berbagai negara itu, kemudian tergoda untuk berfotoria. Saya tentu tak melewatkan juga kesempatan ini. Perpustakaan yang luar biasa tentunya. Ia dibuat sangat nyaman dan estetik. Bahkan ketika saya beranjak ke ruang lain, ada ruang baca dengan latar dan disain yang cantik, termasuk dapur tempat memasak dan minum kopi yang dibuat ala cafe.

Usai makan siang dan istirahat secukupnya, sesi kedua berlanjut. Kali ini menghadirkan tamu dari Thailand. Ruslan Yusoh dengan topik Puisi Indonesia dan ASEAN: Tak Kenal Jeruji, menjelaskan proses alot menggunakan bahasa Indonesia dan lokal di negeri Gajah Putih itu. Khususnya di Pattani. “Kami masih perlu buku-buku serta bahan bacaan. Di sana sangat minim sekali. Kami masih perlua bantuan, terutama anak-anak yang sedang belajar. Kami juga tak ingin ada jeruji yang membatasi ekspresi kami, khususnya dalam bersastra,” tuturnya dengan aksen Melayu agak kental.

Di sesi berikutnya, Hudan Nur (Banjarbaru) manggung dengan topik Lanskap Sastra Banjarbaru. Sebuah lanskap tentang perkembangan sastra dan para sastrawannya dari tahun 1960 hingga kini.

“Lanskap sastra Banjarbaru saat ini adalah giat komunitas-komunitas dengan beragam visi dan pandangan masing-masing. Sehingga dinamika bersastra sangat kental namun bersinergi. Di banjarbaru sendiri polemik sastra tentu ada. Ini menunjukkan bahwa sastra Banjarbaru berkembang, sikap kritis dan analitis adalah penyeimbang dari sebuah karya dan giat-giat komunitas yang maju!” ujarnya tangkas, lembut, namun terasa penuh gejolak.

Ya. Diksusi-diskusi yang mengasyikkan tentunya.

Banyak tanya dan jawab yang berkelindan dan sangat menarik bagi pertumbuhan sastra di masa depan, terutama di Banjarbaru. Saya kira, situasi dan kondisi seperti itulah yang kurang dalam perkembangan sastra di Jawa Barat.

Ya. Kini, ada poros baru kekuatan sastra di Kalimantan.

*Eriyandi Budiman (Eriyadi Budiman) lahir di Tasikmalaya, (2/3/1966). Bebebarapa bukunya yang sudah terbit ialah Sederet Tangis dari Tigris (cerpen), Prasasti Kesedihan Izrail (cerpen), Sayap Sorga (puisi), dan Amora Magma (cerbung/Novel). Menulis dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Tulisannya dimuat di HU Kompas, HU Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Tribun Jabar, Jurnal Kalam, Majalah Sastra Horison, Majalah Mangle, Web Jabaraca, Web Basa-basi, Cupumanik, dan Galura.

AYO BACA : Wali kota Keren Berlanjut ke Puisi Mingguraya (Catatan 3 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019)

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers