web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Wali Kota Keren Berlanjut ke Puisi Mingguraya (Catatan 3 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019)

Senin, 9 Desember 2019 13:09 WIB Netizen Netizen

Musikalisasi pafra pemusik Banjarbaru, dalam pembukaan BRDLF 2019, di Mess L Kota Banjarbaru. (Istimewa)

AYOBANDUNG.COM -- Pada suhu 38 derajat Celcius, usai menyantap sarapan nasi kotak, saya nangkring di belakang mess. Ada kursi-kursi kayu mengelilingi meja berpayung kain besar. Sastarawan dari Barru, Sulsel, Badaruddin Amir, menemani saya ngopi. Kami pun berbincang sekitar cerpen, khususnya mengenai muatan lokalitas.

Sebagai pemancing, saya hadirkan pemandangan lokalitas yang kuat pada cerpen-cerpen Danarto, Putu Wijaya, Seno Gumira Adjidarma, Joni Ariadinata, dan Hamsad Rangkuti.

“Hamsad itu menarik bagi saya. Wajar kalau orang menyebutnya sebagai pengkhayal yang parah. Cerpen-cerpennya bagus. Tapi mungkin generasi milenial tak kenal karya-karya sastrawan kita. Dahulu, Pustaka Jaya banyak masuk ke sekolah-sekolah. Sekarang, malah banyak perpustakaan sekolah berantakan.  Sayang pula, serangan gadget membuat minat baca turun, dan banyak majalah yang memuat cerpen, mati. Masih untung ada koran yang memuat cerpen di hari Minggu. Itu pun banyak yang telah tutup. Namun beruntunglah, di Makassar masih banyak orang menulis cerpen, salah satunya Feisal Oddang yang tengah meroket itu!” tutur Badaruddin Amir.

Saya kemudian menjelaskan sedikit panorama sastrawan di Jawa Barat, yang umumnya lebih tersedot menulis dalam Bahasa Sunda. Beberapa penulis cerpen yang kuat, seperti Budi Rahayu Tamsyah, Godi Suwarna, Deden Abdul Aziz, Darpan Ariawinangun, Hadi AKS, Derry Hudaya, Lugiena Dea, Otang K. Baddy, hingga Absurditas Malka, lebih banyak menulis dalam majalah Mangle, Cupumanik, hingga tabloid Galura yang berbahasa Sunda.

“Itulah sebabnya, jarang penulis muda, khususnya cerpen, dari jawa Barat yang dikenal di tataran nasional. Puisi-puisi mereka juga bagus, namun kadang sulit jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun soal popularitas, ada kekecualian pada Godi Suwarna. Ia sering diundang membacakan puisi Sunda di berbagai kota di Indonesia, bahkan mancanegara. Mungkin karena pembacaannya yang sangat ekspresif, menjadi pertimbangan ia bisa tampil dimana-mana”.

“Wah, kalau di Makassar sudah jarang yang menulis dalam Bahasa Bugis. Media yang memuatnya juga tak ada. La Galigo yang terkenal itu kan sudah sulit diikuti bahasa aslinya. Yang ada sekarang kan diterjemahkannya dari Bahasa Belanda,” senyum getir sastrawan Barru itu.

Perbincangan kami terhenti karena harus mengikuti workshop penerjemahan sastra, yang digelar pukul 09.00 WIT, Jumat, 29 November 2019. Narudin Pituin, sebagai narasumber, telah hadir dan memulai bengkel kerja itu.

AYO BACA : Ke Banjarbaru Kalsel Berkah Novel Amora Magma (Catatan 1, Banjarbaru’s Rainy Day 2019)

“Pada intinya, tak ada puisi yang bisa diterjemahkan. Setiap bahasa mempunyai keunikan tersendiri, yang tidak terdapat dalam bahasa lain. Itulah sebabnya para ahli kadang menyebut karya terjemahan sebagai karya penerjemahnya!” Jelasnya.

Selain Teater Wakapitu, tempat lainnya ialah Mess L. Bangunan setengah kaca ini, memanjang, diteduhi banyak pohon, tempat berbagai produk UMKM Banjarbaru digelar. Baik kuliner maupun tas dan kain, serta beberapa buku karya penulis Kalsel.

bersama-sastrawati-Hudan-Nur-dari-Banjarbaru-Kalsel

Eriyandi Budiman bersama sastrawati Hudan Nur dari Banjarbaru, Kalsel. (Eriyandi Budiman)

Saya menemukan Wajah Seorang Ibu, kumpulan puisi karya Ariffin Noor Habsy, Antologi Cerpen Kalsel terbitan Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, kumpulan Cerpen Enigma, dan Jannani karya Hudan Nur, Amor Fati karya Wayan Jengki Sunarta (Bali), dan Amora Magma, novel saya, serta beberapa novel karya penulis Kalsel lainnya. Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018 juga dipamerkan, bahkan ada pula dua buku tentang seni rupa Kalimantan karya Hajriansyah, sedangkan buku BRDLF tahun 2019 masih disimpan karena akan diluncurkan oleh Walikota.

Acara ni memang asyik. Sore sehabis jumatan dan hujan deras, acara BRDLF 2019 resmi dibuka.  Ketua Panitia, yang juga mantan Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Banjarbaru Drs. Radius Ardanias, MPA mengungkapkan hal penting, “Kami akan terus menjadikan Banjarbaru sebagai Kota Sastra. Maka kami berusaha agar Rainy Day terus dilaksanakan!”. Pernyataan ini juga diperkuat oleh Wali Kota Banjarbaru Drs H Nadjmi Adhani, M.Si,               

“Wali kota kami ini memang baik. Keren pokoknya. Beliau tak hanya mendukung dari segi pendanaan, namun juga waktu, tenaga, dan pikiran. Lihat saja, tadi kan beliau juga membacakan puisi. Dahulu ia memang pembaca puisi yang asyik juga!” tutur Agustina Thamrin, penyair Banjarbaru yang banyak terlibat dalam acara ini.

Dalam acara ini, selain musikalisasi puisi dari penyair Sukardi Wahyudi dari Banjarmasin yang menghadirkan pula penari berkostum burung khas Kalimantan, juga diluncurkan 50 Tahun Sastra banjarbaru: Sejarah dan Jejak Komunitas. Pada peluncuran ini, Ali Syamsudin Arsy, sanga penulis, menyinggung penulusuran tentang data-data, serta harapannya agar Dewan Kesenian Kota Banjarbaru bisa lebih komunikatif dan berkoordinasi secara lebih baik. Memang ada beberapa friksi di Banjarbaru sebagai hal yang biasa terjadi dimana pun. Namun tampaknya tidak terlalu banyak dan menghambat. Termasuk saat kurasi untuk Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day 2019 yang juga diluncurkan, dan salah satu puisinya dibacakan wali kota.

AYO BACA : Membaca Puisi dan Menulis sebagai Penyembuhan (Catatan 2 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival)

Peluncuran-buku-Antologi-Puisi-BRDLF-2019

Peluncuran buku Antologi Puisi BRDLF 2019. (Istimewa)

Menjelang malam larut, acara berlanjut dengan peluncuran buku 12 buku karya sastrawan nasional yang diundang, musik orkestra beraroma Kalimantan, serta pembacaan puisi dari Indonesia, Korea,Sinagpur, dan Thailand.

Membaca Puisi di Tepi Jalan Mingguraya

Usai acara resmi, panitia mengajak kami ke Mingguraya. Alhamdulillah, saat malam beranjak menua, Pak Radius Ardanias mempersilakan saya di mobilnya, hingga kami dapat mengobrol banyak tentang Rainy Day, yang ia rancang sejak awal. “Tahun depan mungkin akan dikelola semacam yayasan yang berkerja sama dengan pemerintah, agar pelaksanaanya lebih baik,” ujarnya di sela-sela percakapan menggerus jalan-jalan mulus di kota yang banyak dihuni para urban itu.

Di Mingguraya, telah banyak sastrawan yang gemar begadang, menikmati kudapan dari beberapa warung kecil yang memenuhi taman kota. Bang Ben, sang Ketua Pelaksana, mengajak saya untuk membacakan puisi depan baligo mini bertuliskan: Aku Telah Membaca Puisi Di Mingguraya.   

“Lebih dari 5000 orang telah membaca puisi di sini. Ada tukang becak, ojol, pedagang, anak jalanan, pelajar, mahasiswa, penyair, karyawan, bahkan Walikota dan Gubernur Kalsel. Yang lucu, pernah ada penyanyi dangdut saya minta membaca puisi di sini. Ia keberatan. Saya terus merayunya. Saya lebih baik nyanyi dangdut di tepi jalan sana daripada membaca puisi, ujar sang penyanyi. Saya persilakan. Eh, ternyata bukan gertakan, ia lalu bernyanyi di pinggir jalan yang dilihat banyak orang. Ia tak malu-malu. Namun setelah menyanyi itu, ia saya tetap ajak baca puisi. Ia pun mengalah. Ia mencoba membaca puisi dan nampak pucat, gemetar, serta keringatnya bercucuran. Yang membuat saya kaget, setelah berhasil membacakan puisi, sang penyanyi itu langsung berlari-lari sambil berteriak: horeee saya telah berhasil...saya berhasil...” tawa Bang Ben, yang juga disambut tawa penyair yang hadir saat itu.

Saya  berdecak kagum.

Begitu indah dan berkesan saya dan penyair lain, dapat membacakan puisi di Mingguraya. Sebuah tempat berkumpul para sasatrawan, dan sebuah panggung selalu disispkan untuk pembacaan puisi setiap minggunya.

*Eriyandi Budiman (Eriyadi Budiman)  lahir di Tasikmalaya, (2/3/1966). Bebebarapa bukunya yang sudah terbit ialah Sederet Tangis dari Tigris (cerpen), Prasasti Kesedihan Izrail (cerpen), Sayap Sorga (puisi), dan  Amora Magma (cerbung/Novel). Menulis dalam  bahasa Indonesia dan Sunda. Tulisannya dimuat di HU Kompas, HU Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Tribun Jabar, Jurnal Kalam, Majalah Sastra Horison, Majalah  Mangle, Web Jabaraca, Web Basa-basi, Cupumanik, dan Galura.

AYO BACA : Puisi dan Prosa di Media Massa untuk Masa Depan Teks Sastra (Catatan 4 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019)

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers