web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Membaca Puisi dan Menulis sebagai Penyembuhan (Catatan 2 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival)

Senin, 9 Desember 2019 12:41 WIB Netizen Netizen

Penyair Syam Chaniago dan istri, membaca dan melagukan puisi, dalam pangghung acara BRDF 2019. (Istimewa)

AYOBANDUNG.COM -- Sebetulnya ada Red Dorz, semacam Agoda maupun Airy Room, franchaise hotel kecil di depan peginapan, juga hotel mewah lain ditawarkan panitia. Namun saya memilih menginap dengan semua peserta undangan maupun yang datang atas biaya sendiri, di mes BPSDMD (Balai Pelatihan Sumber Daya Manusia Daerah) di Kota Banjarbaru.

Gedung empat lantai ini milik pemerintahan Provinsi Kalsel, dan atas kebaikan Sang Gubernur, dapat digunakan para peserta dan panitia BRDLF 2019. Luasnya mungkin sekitar satu hektare, yang bersambungan dengan gedung empat lantai lainnya yang lebih bagus, tempat para pejabat mengadakan pelatihan atau pendidikan singkat lainnya.

Di depan pos satpam, di halaman parkir yang luas, tumbuh dua pohon besar dengan hiasan bola bercahaya dalam aneka warna. Ada juga beberapa lampu menyoroti gedung, serta lampu-lampu kecil yang menjalar berkelap-kelip pada dahan dan batang pohonan itu. Jika malam tiba, suasananya tampak meriah. Ya, lampion yang lembut pada keindahannya.

Saya berangkat memenuhi undangan pada Rabu, 27 November, 2019. Pada keesokan harinya, sebelum pembukaan resmi, diadakan workshop atau bengkel kerja penulisan puisi Oleh Bambang Widiatmoko sebagai tutor. “Tempatnya di Teater Wakapitu,” ujar Dila, sang pemandu yang selalu tersenyum ramah.

Saya mengira tempatnya sejenis arena tapal kuda berundak yang dapat dinikmati sambail bersantai, namun rupanya merupakan tempat semacam bioskop mini yang berdampingan dengan Kantor Disarpus Kota Banjarbaru. Sebuah baligo depan gedung, menunjukkan foto wali kota dan wakilnya sambil membawa payung, yang menujukkan dukungan pada acara Rainy Day.

Udara panas di luar mencapai 38 derajat Celcius. Namun segera cess saat saya memasuki gedung berpendingin yang dapat menampung 100 peserta ini. Di sesi ini, Bambang Widitmoko yang dikenal sebagai penyair nasional, memberikan teknik penulisan puisi kepada 20 peserta yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa yang telah mendaftar secara daring. Setiap peserta kemudian diminta membuat puisi. Semua karya peserta kemudian diminta diperbaiki, dan dikirimkan kembali ke email pembicara.

2-okw

Buku buku yang dijual pada mini book fair di depan kantor Disarpus Kota Banjarbaru. (Eriyandi Budiman)

AYO BACA : Ke Banjarbaru Kalsel Berkah Novel Amora Magma (Catatan 1, Banjarbaru’s Rainy Day 2019)

Beberapa sastrawan dari Bali, Balikpapan, dan Banjarbaru, juga turut hadir, ikut berdiskusi soal penulisan puisi yang baik. Di antara waktu rehat, saya menyempatkan melihat pameran kecil buku dengan diskon besar. Mini Book Fair ini, dikelola oleh pengusaha buku murah, yang juga pernah saya lihat di Perpusda Kabupaten Kuningan, dan Bandung Book Fair.

Writing for Healing dan Obrolan Warung Kopi

Ada kejutan.

Di grup WA Rainy Day, seseorang ingin menemui saya, dan kemudian dapat bertemu sebelum sesi workshop kedua. Beliau adalah Arifin Noor Habsy, penulis senior Banjarbaru. “Saya sudah lama memantau karya-karya Anda. Karya Anda kan pernah dimuat di Banjarmasin Pos!” tuturnya dengan suara agak tinggi. Yang membuat saya terharu, ketika ia bercerita saat mulai kehilangan sebelah penglihatannya dua tahun terakhir. Yang lebih mengharukan ia masih terlihat semangat. “Saya masih tetap menulis. Ada buku baru saya yang terbit tahun ini, termasuk ikut dalam menyusun buku 50 Tahun Sastra Banjarbaru, yang ditulis bersama sastrawan Banjarbaru Hudan Nur, dan Ali Syamsudin Arsi. Buku itu akan diluncurkan besok bersama para penulis dari berbagai kota lainnya!”

Duh, sayang. Bandung, rasanya belum punya buku seperti itu.

Pada sesi kedua, sekira pukul 15.30 WIT, saya dan Leenda Madya, penyair dari Semarang yang juga diundang sebagai Promising Writer, tampil memberikan materi Writing for Healing. Di sesi ini Leenda yang pernah memberikan materi ini pada kaum disabilitas di Semarang, mencoba melakukan pembelajaran menulis dan motivasi, agar para penyandang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) mampu mengatasi masalahnya. Materi Leenda diperkaya dengan puisi visual. Dia menarasikan puisinya secara auditif diambah dengan teks puisi serta gambar-gambar video yang menarik. Khususnya ketika ia berpuisi tentang beragam jenis burung di berbagai belahan dunia. Sangat menarik tentunya.

“Puisi-lah yang memberikan sayap pada saya, hingga dapat terbang ke Banjarbaru!” senyum Leenda, yang kemudian diberi banyak tepuk tangan oleh hadirin.

AYO BACA : Wali kota Keren Berlanjut ke Puisi Mingguraya (Catatan 3 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019)

Writing Healing, atau penyembuhan lewat menulis sendiri, merupakan upaya relaksasi untuk menyembuhkan rasa kehilangan. Kehilangan apapun. Cinta, penglihatan, pendengaran, pengucapan, hingga bentuk fisik lainnya, yang dapat hilang atau tiada dari kehidupan kita, baik sejak lahir, maupun saat menikmati hidup. Kesedihan ini, bila tidak dikelola baik akan melahirkan rasa minder bahkan fustasi berkepanjangan.

Namun, lewat penggunaan metode menulis, seperti menulis puisi, hal itu dapat diatasi. Bahkan jika ditekuni justru dapat berprestasi di bidang tulis menulis ini. Dalam dunia psikologi, menulis dapat dikategorikan sebagai self healing, upaya menyembuhkan diri dari luka batin yang menggangu emosi. Setiap orang mungkin pernah merasa terluka, gagal, takut pada masa depan, memarahi diri sendiri, dan sebagainya.  

Salah satu metode ini ialah menulis ekspresif. Menulis telah dibuktikan para pakar psikologi mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan diri dari lubuk hati terdalamnya. Menulis ekspresif hakikatnya ialah mengungkapkan segala esmosi saat galau melanda.

“Tadi, sebelum saya bicara, telah tampil tiga tuna netra dari hadirin yang bermain gitar dan menyanyi. Ada larik yang indah di situ, dari lagu yang diciptakan salah seorang penampil ini: Pantai yang indah, ada lautnya. Saya kira itu adalah kata-kata yang luar biasa. Ini bagian dari upaya writing healing. Larik itu ditulis penuh kebahagiaan. Dia bisa menulis, kemudian bernyanyi!” tutur saya, sambil memberikan beberapa contoh, bagaimana saya sendiri berupaya sembuh dari rasa kehilangan, ketika istri saya keguguran, dan ada anak saya yang sering sakit. Ya. Bertahun-tahun harus bolak-balik ke rumah sakit.

Bukan rumah sehat.

Sepertiga peserta Writing for Healing ini, adalah penderita tunanetra dan bisu tuli, selain para pembimbingnya, serta Psikolog. Saya memotivasi peserta untuk menulis. Apa saja. Puisi, prosa, atau tulisan basajan. “Menulislah. Karena itu mudah. Tulisan tentang cara bahagia membuat lagu, kehilangan sepatu, atau bahkan cara baru memasak ikan. Itu dapat mengobati kita. Mengisi hidup lebih baik!” tuntas saya, menahan haru yang menebar di dada. Terapi menulis ini, juga saya tujukan kepada orang terdekat kaum disabilitas yang mau tidak mau terlibat dalam rasa kehilangan itu.

Usai sesi ini, Bu Khusnul Khotimah, pembawa acara yang juga membawa para orang tua ABK ke acara, mentraktir saya di sebuah kedai kopi ala Bandung. Bersama guru ABK di sekolahnya, kami berbincang sekitar pengalaman menjadi orang tua, yang pernah mengalami masa-masa berat dalam menangani anak. “Saya kira metode writing healing ini harus dikembangkan. Setiap peserta nanti akan saya minta menulis. Kita bimbing terus dalam gurp WA. Bersediakah mengawalnya?”

Saya setuju.

Tersenyum.  

*Eriyandi Budiman (Eriyadi Budiman)  lahir di Tasikmalaya, (2/3/1966). Bebebarapa bukunya yang sudah terbit ialah Sederet Tangis dari Tigris (cerpen), Prasasti Kesedihan Izrail (cerpen), Sayap Sorga (puisi), dan  Amora Magma (cerbung/Novel). Menulis dalam  bahasa Indonesia dan Sunda. Tulisannya dimuat di HU Kompas, HU Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Tribun Jabar, Jurnal Kalam, Majalah Sastra Horison, Majalah  Mangle, Web Jabaraca, Web Basa-basi, Cupumanik, dan Galura.

AYO BACA : Puisi dan Prosa di Media Massa untuk Masa Depan Teks Sastra (Catatan 4 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019)

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com
dewanpers