web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Panjang Umur Perjuangan Aksi Kamisan

Minggu, 8 Desember 2019 17:10 WIB Netizen Netizen

(Dok: Media Sosial Aksi Kamisan)

Sampai saat ini, aksi kamisan masih setia dilangsungkan tiap minggunya di berbagai kota di Indonesia. Hanya saja, mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu apa itu aksi kamisan. Saya kerap bertanya kepada teman-teman saya perihal aksi ini, namun tidak banyak, bahkan hampir tidak ada, yang mengetahuinya. Identik dengan nuansa kehitaman yang melekat pada para peserta aksi serta orasi yang dilangsungkan di depan gedung-gedung pemerintahan di berbagai kota yang bersangkutan, apa sih sebenarnya aksi kamisan itu?

Aksi kamisan merupakan sebuah aksi damai sejak 18 Januari 2007 yang diprakarsai oleh para saksi sejarah kasus pelanggaran HAM termasuk para korban itu sendiri maupun kerabat, keluarga, dan teman dari korban yang tumbang pada kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Setelah banyaknya korban yang berjatuhan akibat kasus pelanggaran HAM berat maupun ringan di Indonesia, nyatanya kebanyakan darinya belum ada titik terang berupa penyelesaian oleh negara. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi pihak yang peduli akan hal ini. Sehingga diselenggarakanlah aksi kamisan sebagai bentuk kecaman dan “sindiran halus” terhadap negara.

Sudah berapa banyak aksi yang dilakukan? Aksi terakhir sebelum saya menulis artikel ini dilakukan pada Kamis, 28 desember 2019. Berlangsung rangkaian aksi kamisan ke-612 yang dilakukan di depan Istana Merdeka, Jakarta. Mengambil tema tentang refleksi UU ITE, aksi kamisan tersebut dipimpin oleh Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) (kompas.id, 28-11-2019). Saya merefleksikan suatu hal, bahwa ternyata sudah ratusan aksi kamisan yang telah dilakulan sejak 18 januari 2007. Bukan jumlah yang sedikit, mengingat sedemikian besarnya kekonsistenan para penyelenggara untuk rutin mengadakan aksi ini tiap minggunya serta pelaksanaannya tersebar di 30 kota di Indonesia pula. Betapa gigihnya semangat para aktivis dan peserta-peserta lain yang melaksanakan aksi ini setiap minggunya.

Banyak sekali aksi yang telah dilakukan tersebut, namun sayangnya masih belum terlihat gerak-gerik yang menandakan pemerintah peduli dengan aksi ini. Aksi kamisan terus berjalan tanpa arah dan hasil yang jelas, di lain sisi pemerintah sebagai target dari aksi ini seakan menganggap lalu. Sampai saat ini belum ada respon nyata dari pemerintah untuk menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM Indonesia di telah berlalu, kecuali satu-satunya respon “selintas” yang dilakukan Presiden Jokowi pada 31 Mei 2018 lalu.

Peserta aksi kamisan bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada 31 Mei 2018. Pertemuan itu merupakan yang pertama setelah 11 tahun mereka melakukan aksinya. Dalam pertemuan itu, peserta Kamisan menuntut agar Jokowi mengakui kasus pelanggaran HAM yang sudah masuk dalam tahap penyelidikan di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Kompas.com, 17-1-2019). Catatan, tahun 2019 ini berarti sudah 12 tahun aksi kamisan dilaksanakan.

Setelah pertemuan tersebut, belum ada lagi tindakan nyata dari pemerintah, seakan pertemuan tersebut hanyalah formalitas belaka. Sudah lebih dari satu dekade aksi kamisan berlangsung, apakah kita bisa bilang sia-siakah perjuangannya? Mungkin bisa, hanya saja, seperti kalimat legendaris yang sering digaungkan para aktivis, panjang umur perjuangan. Tidak ada kata mati dari sebuah perjuangan. Hal yang terpenting adalah, keadilan dan hak asasi para korban masih ada yang mau memperjuangkan. Setidaknya, para korban seharusnya tidak gugur dengan sia-sia saja dengan judul “korban pelanggaran HAM”. Saya ingin mengajukan ide, jika pemerintah akhirnya peduli dengan hal ini, judul “korban pelanggaran HAM” tersebut bisa diubah menjadi “Korban Perjuangan HAM”. Negara mengakui adanya pelanggaran HAM dan mau bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah yang ada, maka hal tersebut tidak lagi menjadi sebuah pelanggaran oleh negara. Aksi kamisan akan mencapai target yang diinginkan.

Refleksi terhadap aksi kamisan di Indonesia ini cocok sekali dilakukan dalam rangka memeringati hari HAM internasional yang jatuh pada tanggal 10 Desember, sesuai dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada 1948 oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tanggal 10 Desember 2019 ini, dunia memeringati 54 tahun dibuatnya Perjanjian Internasional untuk HAM. Perjanjian tersebut di antaranya yaitu: Perjanjian Internasional di Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya serta Perjanjian Internasional di Bidang Hak-Hak Sipil dan Politik. Perjanjian tersebut mulai diadopsi pada 16 Desember 1966 oleh Majelis Umum PBB. Perjanjian tersebut, bersama dengan deklarasi pada 1948, menetapkan HAM dasar bagi setiap manusia, yakni: hak-hak sipil, politik, budaya, ekonomi, dan sosial (okezone.com, 10-12-2015).

Merujuk kepada perjanjian internasional dari PBB tersebut, bukankah pemerintah Indonesia seharusnya memenuhi hak-hak yang tertera pada perjanjian terhadap seluruh warga negaranya, tidak terkecuali dari status sosial, ekonomi, dan politik. Kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu pun termasuk kepada kewajiban pemerintah untuk menyelesaikannya. Sebut saja kasus Munir, Marsinah, tragedi Berdarah 13-15 Mei 1998, Semanggi I, Semanggi II, dan lain sebagainya.

Pemerintah tidak bisa lepas selamanya dari kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan dan bahkan belum terakui. Apalah dayanya jika warga negaranya konsisten mengecam dengan aksi damai yang dilangsungkan rutin tiap minggu di hari kamis dengan audiens yang sangat banyak tersebar di berbagai kota di indonesia. Seperti yang dikatakan Sumarsih, ibu dari salah satu korban penembakan di peristiwa Kerusuhan Mei 1998, kamisan berhenti jika hanya tersisa tiga orang yang melakukan aksi. Nyatanya peserta aksi kian banyak tiap minggunya. Identik dengan kostum warna hitam, berdiri tegap tidak peduli dengan situasi, kondisi, dan cuaca yang menerjang. Panjang umur perjuangan aksi kamisan.

Fariza Rizky Ananda

Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel lainnya

dewanpers