web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Ini Biang Kerok Bandung Kian Ambles

Minggu, 8 Desember 2019 17:03 WIB Netizen Netizen

Ilustrasi. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.COM -- Sejumlah media lokal baru-baru ini kembali menyoroti soal penurunan muka tanah di kawasan Bandung Raya. Dikhawatirkan Bandung bakal kian ambles jika tidak diupayakan langkah-langkah pencegahan dengan lebih serius.

Pengambilan air bawah tanah yang berlebihan dan tidak terkendali disebut-sebut sebagai biang kerok bertambahnya penurunan muka tanah di Bandung Raya. Selama ini, ada ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran air di Cekungan Bandung.

Dengan kata lain, terdapat defisit dalam jumlah besar antara penyimpanan air di dalam tanah dan pengeluaran air dari dalam tanah. Jumlah air yang disedot dari dalam tanah selalu jauh lebih besar daripada jumlah air yang disimpan.  

Idealnya, jumlah air yang disimpan di dalam tanah mesti lebih besar dari jumlah air yang disedot. Bukan sebaliknya.

Aktivitas bisnis dan industri yang membutuhkan air secara besar-besaran ikut berkontribusi bagi bagi bertambahnya defisit air bawah tanah di Kota Bandung. Hal ini kian diperparah dengan semakin rusaknya daerah-daerah resapan air di kawasan hulu.

Kebijakan yang cenderung kurang berpihak kepada lingkungan membuat ketersediaan air tanah di kawasan cekungan Bandung terus menyusut.

Contohnya, kemudahan dalam pemberian izin mendirikan bangunan besar dan luas yang justru malah menutup lahan resapan air. Contoh lainnya yaitu pelebaran jalan yang mengurangi jumlah air yang meresap ke dalam tanah.

Semakin sedikitnya air tanah yang meresap ke dalam tanah pada gilirannya melahirkan dua masalah besar yang kini harus dihadapi warga Bandung dan sekitarnya yaitu bencana banjir cileuncang, yang membuat sebagian kawasan Bandung “tenggelam” dan menjadi “daerah wisata air” sewaktu musim penghujan dan paceklik air ketika musim kemarau.

Beberapa langkah nyata perlu dilakukan untuk mencegah semakin menyusutnya air tanah dan menurunnya permukaan tanah di kawasan Cekungan Bandung, yang bakal membuat kawasan Bandung semakin ambles.

Pertama, ketatkan pengawasan dan tegakkan aturan menyangkut pendirian bangunan serta praktik penyedotan air tanah secara besar-besaran dan tidak terkendali oleh kalangan bisnis dan industri di kawasan Bandung Raya.

Tidak perlu ragu untuk menyeret ke meja hijau mereka yang telah menyedot air melebihi izin yang dikeluarkan maupun mereka yang telah membuat rusak daerah resapan air.

Kedua, segera melakukan rehabilitasi daerah-daerah resapan air di seluruh kawasan cekungan Bandung dengan jalan melakukan penghijauan dan menghutankan kembali daerah-daerah tersebut.

Ketiga, instruksikan kepada setiap pemilik bangunan yang memiliki lahan tersisa di sekitar bangunan untuk tidak menutup lahannya dengan material yang justru malah menyebabkan air tidak bisa menyerap ke dalam tanah.

Penutupan halaman rumah, kantor, sekolah maupun gang dengan beton, aspal dan paving block sebaiknya diganti dengan menggunakan grass block yang memungkinkan air lebih banyak menyerap ke dalam tanah di samping masih memungkinkan ditanami rumput sehingga terlihat lebih asri.

Keempat, perluas hutan kota serta terus bangun sumur-sumur resapan di berbagai sudut kota. Selain itu, sumur-sumur resapan ini dibangun pula di setiap rumah warga yang masih memiliki sisa lahan.

Kelima, hentikan sama sekali pendirian bangunan di dalam kota yang banyak menutup ruang terbuka dan membutuhkan banyak air, seperti hotel, apartemen, mall dan pabrik.

Keenam, lakukan moratorium izin penyedotan air bawah tanah. Selain itu, lakukan operasi penertiban secara teratur untuk mencegah adanya penyedotan air bawah tanah besar-besaran secara ilegal.

Di samping sejumlah langkah tersebut di atas, tidak kalah penting adalah mengedukasi masyarakat agat tercipta perilaku hemat air.

Masih banyak warga yang demikian mudah menghambur-hamburkan air bersih untuk aktivitas yang kurang begitu penting.

Gerakan dan edukasi perilaku hemat air perlu digiatkan. Kesadaran masyarakat agar bisa menggunakan air secara efektif dan efisien perlu ditingkatkan.

Djoko Subinarto alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya. 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel lainnya

dewanpers