web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Jangan Ada Luka Narsissistik antara Kita

Jumat, 6 Desember 2019 09:36 WIB Netizen Netizen

Ilustrasi narsis.(Pixabay)

Imagine all the people

Living life in peace

You may say I'm a dreamer

But I'm not the only one

I hope someday you'll join us

And the world will be as one....

Itulah penggalan lirik lagu Imagine karya John Lennon. Lewat lagu tersebut, mantan dedengkot the Beatles itu membayangkan sebuah dunia yang damai, dunia yang tanpa kekerasan, di mana semua orang bisa bersatu tanpa sekat. Ironinya, Lennon, yang lahir di Liverpool, Inggris, 9 Oktober 1940, harus mengakhiri hidupnya akibat kekerasan yang menimpa dirinya.

Tragis. Pada 8 Desember 1980, Mark David Chapman, salah seorang penggemar fanatik Lennon, menghujani musisi bernama lengkap John Winston Ono Lennon itu dengan sejumlah tembakan dari jarak dekat menggunakan Revolver kaliber 38 buatan Charter Arms, tatkala Lennon, yang waktu itu baru pulang dari studio rekaman Record Plant, hendak memasuki lobi apartemennya di Dakota, New York, Amerika Serikat.

Secara Sengaja

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kekerasan sebagai penggunaan kekuatan fisik secara sengaja, baik yang sifatnya mengancam atau dilakukan seketika, terhadap diri sendiri, seseorang atau sekelompok orang, dengan akibat timbulnya cidera, kematian, gangguan kejiwaan, kecacatan atau berkurangnya hak-hak dasar. WHO sendiri mencatat, saban tahun, lebih dari 1,6 juta orang di seluruh dunia harus kehilangan nyawa akibat kekerasan.

Sejarah umat manusia di mana pun, dari dahulu hingga kini, tidak pernah terlepas dari berbagai aksi kekerasan berdarah-darah nan memilukan, dari satu generasi ke generasi lainnya. Celakanya, kekerasan senantiasa melahirkan kekerasan-kekerasan lainnya. Kekerasan akhirnya seperti lingkaran setan yang sukar untuk bisa kita hentikan.

Buntutnya, dunia yang damai, tenteram dan sejahtera yang kita dambakan tidak pernah benar-benar kita rasakan hingga hari ini. Habis satu kekerasan, terbitlah kekerasan yang lainnya. 

Merujuk kepada laporan bertajuk World Report on Violence and Health, di samping kekerasan interpersonal, dewasa ini juga lazim kita temukan kekerasan kolektif. Ini adalah kekerasan yang dilakukan oleh mereka yang mengidentifikasi dirinya sebagai anggota suatu kelompok atau mewakili suatu kelompok. Kekerasan kolektif biasanya dilakukan untuk tujuan-tujuan politik, ekonomi atau sosial. Bentuk kekerasan kolektif mencangkup antaran lain konflik bersenjata, genosida, penyiksaan dan pelanggaran hak-hak azasi manusia, terorisme serta kejahatan terorganisir.

Luka dan kemarahan

Ada beberapa teori yang bisa dipakai untuk memahami mengapa individu atau sekelompok individu melakukan tindakan kekerasan. Salah satunya adalah lewat teori psikoanalitik yang dikembangkan Sigmund Freud. Berdasarkan pada teori ini, setiap individu pada dasarnya memiliki kemungkinan untuk mengalami apa yang diistilahkan sebagai luka narsissistik(narcissistic blow). Luka narsissistik dapat terjadi apabila individu atau sekelompok individu merasa martabat atau harga diri mereka yang terkait dengan kebangsaan, ideologi politik, keyakinan, keadilan ataupun aspek-aspek lainnya tercabik atau tercampakkan oleh pihak lain.

Menurut Heinz Kohut (1972), luka narsissistik ini pada gilirannya akan memunculkan kemarahan narsissistik (narcissistic rage), yang pada gilirannya dapat mendorong tindakan agresif atau penyerangan, baik secara individu maupun secara kelompok, terorganisir maupun tak teorganisir.

Repotnya, tentu saja, tidak semua individu atau kelompok bakal mampu mengendalikan kemarahan narsissistik mereka. Maka, tak perlu aneh jika ada individu atau pun kelompok individu lantas memilih mengekspresikan kemarahan narsissistiknya itu dengan jalan melakukan serangan menggunakan cara-cara kekerasan yang ekstrem.

Kita semua pasti sepakat bahwa kekerasan sejatinya bukan jalan terbaik dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Seperti telah dipaparkan di muka, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan-kekerasan lainnya. Di sisi lain, kekerasan senantiasa bertentangan dengan prinsip-prinsip perdamaian dan kemanusiaan universal. Benih-benih kekerasan, di mana pun, harus sebisa mungkin kita cegah sedini mungkin.

Langkah-langkah preventif perlu terus dilakukan untuk menangkal berulangnya kekerasan dalam level apa pun -- lokal, nasional, regional maupun internasional. Adalah kewajiban kita semua untuk tidak memberi ruang -- sekecil apa pun -- bagi timbulnya luka-luka narsissistik pada individu atau sekelompok individu di manapun kita berada.

Saling menghargai, saling menghormati, berlaku jujur dan adil adalah langkah untuk mencegah lahirnya luka-luka narsissistik. Ini merupakan salah satu upaya preventif untuk menangkal timbulnya benih-benih kekerasan yang bakal menciderai nilai-nilai kemanusian dan mengoyak-ngoyak peradaban kita.

Penulis: Djoko Subinarto alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya. 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com
dewanpers