web analytics
  

Penurunan Tanah di Bandung Tercepat Sedunia

Sabtu, 30 November 2019 20:01 WIB Faqih Rohman Syafei

Peneliti sekaligus Dosen Jurusan Geodesi ITB, Heri Andreas.(Ayobandunh.com/Faqoh Rohman)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM--Wilayah Bandung menghadapi ancaman serius terkait penurunan tanah, yang rata-rata mencapai 20 cm per tahun. 

Peneliti sekaligus Dosen Jurusan Geodesi ITB, Heri Andreas mengatakan saat ini penurunan tanah di wilayah Bandung menjadi yang tercepat di dunia.

"Dengan teknologi bisa melihat seberapa besar penurunan tanah. Setelah pengukuran ditemukan Bandung yang terluas dan tercepat sedunia, bukan di Indonesia. Itu faktanya," ujarnya, Sabtu (30/11/2019).

Fakta ini menjadi perhatian serius sejumlah penelitian asing. Fenomena ini menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan sebuah kota serta penduduknya. 

Sebelumnya, predikat tersebut di sandang Mexico City dengan rata-rata penurunan tanah yang sama. Namun karena adanya manajemen air yang baik serta tidak penghentian pengambilan air tanah, fenomena ini pun berhenti. 

"Sementara di kita, di Bandung dan Jakarta ini belum. Akhirnya sekarang menjadi yang tercepat, dulunya Mexico City sekarang Bandung," katanya.

Dia menjelaskan fenomena penurunan tanah ini di Bandung sudah mulai terjadi sejak tahun 1980-an karena pengambilan air tanah secara berlebihan, khususnya di wilayah sentra industri pabrik.

Dia menyebutkan mulai dari Cimahi, Dayeuhkolot, Majalaya, Banjaran, Rancaekek, dan meluas ke wilayah lainnya. Sehingga berdampak pada penurunan permukaan tanah yang diikuti bangunan di atasnya. 

"Sebenarnya bukti empiris itu sudah jelas kalau kita berhenti mengambil air tanah. Itu juga mencegah krisis air di masa depan," tuturnya. 

Heri mengungkapkan untuk mengatasi fenomena penurunan tanah diperlukan upaya serius dari pemerintah melalui pembuatan regulasi. Selain itu, masyarakat pun harus memulai budaya menghemat air.

"Seperti kasus di Singapura, dia kan 0 % air tanah 100% air permukaan. Air permukaan bisa dari water harvesting, water recycling, retensi area atau waduk, bisa juga revitalisasi sungai," ucapnya. 

Bila upaya tersebut dapat direalisasikan dapat juga mencegah krisis air tanah di Bandung yang diprediksi terjadi tahun 2050 nanti.

"Di Bandung itu sudah zona merah. Nah yang ditakutkan krisis air ini 2050, kalau tidak ditangani bakal krisis air tanah. Mudah-mudahan tidak," katanya. 

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers