web analytics
  

Mengintip 'Jeroan' Menara Gedung Sate Bandung

Sabtu, 30 November 2019 19:34 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Baheula - Baheula, Mengintip 'Jeroan'  Menara Gedung Sate Bandung, Gedung sate,gasibu,sejarah gedung sate

Pemandangan Gasibu dari lantai atas Gedung Sate, Sabtu (30/11/2019).(Ayobandung.com/Khansa) (Ist)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM--Banyak orang yang pernah berkunjung atau sekedar berfoto di ikon Kota Bandung, Gedung Sate, namun mungkin tidak seluruhnya pernah mengunjungi menara gedung yang dikenal dengan bentuk "tusuk sate" di atapnya tersebut.

Di kejauhan, menara Gedung Sate nampak hanya memiliki empat sisi balkon dengan pilar dan bentuk pagar khas-nya. Namun ternyata, di sana juga terdapat sebuah ruangan pertemuan khusus yang tidak dibuka setiap saat, dan sarat akan nilai sejarah.

Lantai teratas Gedung Sate ini terletak di lantai empat. Akses menuju lantai tersebut dapat dicapai melalui lift yang tersedia di lantai 1 maupun 2. Namun, akses lift di lantai 1 biasanya tidak terbuka untuk pengunjung umum.

Ketika mencapai lantai 4, Anda akan disambut oleh gang yang nampak sedikit sempit dengan toilet di bagian ujung serta pintu menuju ruangan lainnya di sebelah kanan.

Masuklah ke ruangan yang berada di kanan lift, dan Anda akan menemukan undak-undakan kayu yang sebelumnya digunakan untuk menaruh pajangan benda-benda tradisional khas Jawa Barat. Saat ini, benda-benda tersebut sebagian berada di ruang pamer yang berada di lantai yang sama.

Dari sana, balkon menara Gedung Sate dapat dicapai melalui anak tangga  yang terdapat di salah satu sisi ruangan. Di bagian tengah menara, terdapat sebuah ruangan berdindingkan kaca dengan kursi berjajar di dalamnya.

Di tengah ruangan tersebut, Anda dapat melihat sebuah mesin tua yang sekilas nampak seperti mesin pembuat aromanis. Usut punya usut, mesin tersebut adalah pembunyi sirine yang digunakan sebagai penanda perang di zaman kolonial.

Untuk membunyikan sirine tersebut, petugas harus turun satu lantai guna mengoperasikan mesin. Konon, suara sirine tersebut dapat didengar hingga Cianjur, Pangalengan, dan Cicalengka. Namun, saat ini kekuatan pancar suara sirine tersebut telah dikurangi menjadi dua kilometer saja. Biasanya, sirine dibunyikan pada upacara hari kemerdekaan.

Hal ini pulalah yang menyebabkan munculnya aturan untuk tidak membangun gedung yang lebih tinggi dari Gedung Sate di sekitaran kawasan tersebut, karena khawatir menghalangi suara sirine. Meskipun, saat ini aturan tersebut sudah tidak terlalu diindahkan lagi.

Dari balkon menara tersebut Anda juga dapat melihat adanya garis lurus antara Gedung Sate, Lapangan Gasibu dan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Dulunya, area di sepanjang garis lurus tersebut akan dibangun menjadi kompleks pemerintahan. Namun, karena satu dan lain hal, ketiga lanskap tersebut menjadi ikon yang terpisah.

Soal tusuk sate, ternyata ada kisah lain yang menjadikan puncak menara gedung ini dibuat dengan aksen lingkaran "sate". Beberapa orang menyebutkan bahwa jumlah tersebut menunjukan jumlah dana dalam mata uang Belanda yang habis digunakan untuk membangun Gedung Sate.

Namun, versi lainnya menyebutkan bahwa lingkaran-lingkaran tersebut merupakan penghormatan bagi tujuh pemuda yang gugur berperang melawan tentara Gurkha dan jasadnya berada di sekitaran Gedung Sate. Empat di antara jasad mereka telah ditemukan dan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cikutra. 

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers