web analytics
  

Bajigur Kopi

Kamis, 28 November 2019 11:21 WIB Netizen Netizen

Buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda, Babalik Pikir (cetakan Kiblat Buku Utama, 2004). Di dalamnya ada sedikit gambaran tukang bajigur pada masa sebelum Perang Dunia II di Bandung.

Saya baru tahu bajigur berkaitan dengan kopi. Dari karya tulis Sierk Coolsma (1840-1926) yang mula-mula saya baca perihal bajigur-kopi itu. Dalam Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek (1884), Coolsma mengartikan “badjigoer” sebagai “koffie met suiker en tji-pati of kokoswater, na de vermenging nog eens goed doorgekookt (inz. gebruikt door lieden die 's nachts waken moeten, b. v. by een doode)” (kopi dengan gula dan santan atau air kelapa, yang dimasak dengan cara disatu-padukan semuanya (biasanya diminum oleh orang yang berjaga malam, seperti yang menunggui orang yang meninggal).

Keterangan dari akhir abad ke-19 itu juga bersambung dengan yang terbaca dari bahan-bahan tertulis awal abad ke-20. Misalnya, tulisan C.M. Pleyte, “Toekang Sadap: eene bijdrage tot het leerstuk dat planten bezleide wezens zijn” (1906), menyentil juga ihwal bajigur dalam konteks ritual tukang sadap aren di daerah Galuh atau Ciamis kini. Antara lain katanya, “Deze maaltijd moet bestaan in roode en witte rijstbrei, tangtang angin, rijst in driekautige zakjes van bamboeblad gekookt, en badjigoer, koffie roet suiker en klappermelk” (Makanannya harus terdiri dari bubur merah dan putih, tangtang angin, bacang, dan bajigur, yang yang terbuat dari kopi, gula, dan santan).

Adapun gambaran tukang berjualan bajigur, untuk pertama kalinya, saya temukan dalam novel Sunda pertama, Baroeang ka noe Ngarora; Tjarita Hidji Djalma Tjilaka lantaran meunang Kanjĕri ti Pamadjikan (1914), karya D.K. Ardiwinata. Di situ ada gambaran begini, “Аnое dagang mani neba di sisi djalan kentja katoehoe, damarna pagede-gede; tingkelentreng noe keur ngaladangan tjendol djeung tjingtjau, tingpelengseng beuleum sate djeung maranggi, tingpeledek haseup badjigoer” (Yang berjualan berjajar di pinggir jalan, di kiri dan kanan, pelitanya besar-besar; pekakas yang sedang digunakan untuk melayani pembeli cendol dan cincau beradu dan menimbulkan risik, tercium bakar sate dan maranggi, begitupun dengan asap bajigur).

Kutipan “tingpeledek haseup badjigoersaya kira menandakan cara memasak cairan bajigur itu menggunakan bahan bakar dari batok kelapa, sehingga menimbulkan asap yang banyak dan berbau harum yang khas.

Sementara pada tahun 1920-an di Alun-alun Bandung, kata Kuncen Bandung Haryoto Kunto (Semerbak Bunga di Bandung Raya, 1986), “Awal tahun 1920-an, secara bertahap orang mendirikan gedung bioskop di sekitar alun-alun. Yang pertama berdiri di situ, adalah bangunan ’’Feestterrein”, gedung pertunjukan serba guna, yang menyajikan berbagai macam tontonan. Dari tontonan film bisu, ketuk tilu, gulat dan boksen bisa disaksikan. Adapun tontonan itu, berlangsung semalam suntuk. Seperti pasar malam, di ‘Feestterein’ banyak orang berjualan makanan. Dari jenis makanan kecil seperti kacang goreng, surabi, misro-combro, opak, ketan bakar, kerak ketan, martabak, colenak dan bandros ada tersedia. Selain minuman es-sirop atau goyobod, tersaji pula minuman tradisional bandrek-bajigur, yang sering dijadikan sisindiran – ‘bandrek bajigur, budak pendek gede bujur!’ (Bandrek bajigur, anak pendek besar pantat)”.

Dalam kutipan tersebut menegaskan bahwa pada tahun 1920-an di Alun-alun Bandung dijual bajigur, tetapi ihwal bahan-bahan pembuatannya tidak disebutkan. Dan dari kutipan itu, bajigur menjadi salah satu bahan sisindiran atau pantun. Sepanjang yang saya telusuri memang banyak sisindiran yang menggunakan kata bajigur.

Selain yang disebutkan Haryoto, saya, antara lain mendapatkan pantun, yang rata-rata berisi hal-hal yang lucu dan erotis: “Ka warung jajan bajigur, diangir kalapa cengkir. Sanes abdi henteu mikir, da akangna dibuligir”; “Jalan-jalan ka Cianjur, nincak batu ngajelegur. Hanas meuli bajigur, diambuan bau bujur”; “Jalan-jalan ka Cigugur, nincak batu tigejebur. Diobatan ku bajigur, diambeuan bau cikur”; “Jalan-jalan ka Cikajang, ka sawah mawa bajigur. Niat bade newak mojang, kalahka tigejebur”; “Bajigur ti Bantarengdeng, sarapan bandrek jeung dodol. Bujur angkat rada nyenggeng, ku akang digeol-geol”; “Bajigur lawuhna taleus, papais jeung seupan hui. Tong ibur nyebatkeun tilas, bilih ke uihan deui!”; “Jajan bubur jeung bajigur, keur manco aya nu mentor. Kapungkur keur di Cianjur, mung tauco nu jadi batur”; dan “Goreng hayam dipiringan, kulub sampeu jeung bajigur. Mun akang bade ngiringan, kudu guyub sareng batur”.

AYO BACA : Memburu Kuliner Legendaris Bogor di Kampus IPB

Selain sisindiran, kata bajigur juga digunakan dalam wawangsalan, teka-teki yang terdiri dari sampiran dan isi. Contoh yang saya temukan adalah sebagai berikut: “Cai kiruh dijualan, dijualan ku Mang Jagur”. Wangsalna atau isinya “bajigur”. Ada juga “inuman tina cipati, sok reuwas mun aya gugur”. Isinya “bajigur” juga.

Dalam khazanah tradisi lisan lainnya, kata bajigur ditemukan dalam kakawihan barudak atau nyanyian anak-anak, yang ujung-ujung akhir suku katanya berkaitan dengan ujung awal suku kata baris selanjutnya. Yang paling jelas adalah kakawihanbangbang kalima gobang” dan “Oyong-oyong bangkong”. Beberapa baris awalnya berbunyi “Bang kalima gobang ... bang/Bangkong di tengah sawah ... wah/Wahey tukang bajigur ... gur/Guru sakola desa ... sa …” Sementara dalam “Oyong-oyong bangkong” ada pada baris berikut ini: “Habib tukang bajigur/Gurka kurang ajar/jarah ka Batutulis/lisung nini-nini/Nipong tukang tipu …” (Peperenian Urang Sunda, Rachmat Taufiq Hidayat, spk., 2005).

Foto-01

Buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda, Babalik Pikir (cetakan Kiblat Buku Utama, 2004). Di dalamnya ada sedikit gambaran tukang bajigur pada masa sebelum Perang Dunia II di Bandung.

Gambaran tukang bajigur juga tampak dalam buku bacaan anak berbahasa Sunda karya Samsoedi, Babalik Pikir (1932). Adegan tukang bajigur muncul saat tokoh Si Emed kabur dari penjara kanak-kanak di Semarang, bersama teman satu bui, Si Joko. Saat kecelekaan di Sumedang, Si Joko meninggal dan Si Emed dirawat di rumah sakit selama dua bulan. Setelah sembuh dengan beberapa cacat di tubuhnya, Si Emed berjalan kaki ke Bandung. Saat tiba di daerah Cicadas, dia ditolong oleh tukang bajigur, Pa Halim, yang tidak tega melihat Si Emed mengejar-ngejar ayam yang memakan kue bibika. Kue yang jadi dagangan tukang bajigur.

Oleh Pa Halim, Si Emed diberi pekerjaan menjadi tukang bajigur, sehingga kemudian, “Ayeuna Si Emed geus aya mingguna dijeujeuhkeun kana dagang bajigur, nya teu wudu oge rada payu, cacakan anyar keneh mah, batina mahi keur sakalieun dahar” (Sekarang Si Emed sudah beberapa minggu dipercayai untuk menjadi tukang dagag bajigur. Dagangnya lumayan laku, padahal masih baru. Keuntungannya cukup untuk sekali makan).

Dari kisah Si Emed, paling tidak ada dua hal yang dapat saya catat. Pada tahun 1930-an, sudah ada orang yang berprofesi sebagai tukang dagang bajigur di Bandung. Meski tidak ada penjelasan bahan-bahan pembuatan bajigur tersebut, tetapi kue bibika yang dijual oleh tukang bajigur menjadi menarik. Sebab saat itu, di samping bajigur yang biasanya disajikan di dalam cangkir, minuman tersebut ditemani kudapan lain, yaitu kue bibika.

Selain kisah Si Emed, ternyata dalam kehidupan kaum interniran di Boven Digul, Papua, pada tahun 1930-an juga diwarnai bajigur. Kenyataan ini saya temukan dalam buku karya Rudolf Mrazek yang akan diterbitkan tahun depan, The Complete Lives of Camp People (2020). Di dalam buku tersebut antara lain disebutkan, “Some internees passed through the camp selling badjigoer goting, a hot drink made of coconut milk and spices” (Beberapa interniran melalui kamp yang menjual bajigur goting, minuman panas yang terbuat dari santan dan rempah-rempah). Ternyata pada gambaran ini, kopi tidak dimasukkan sebagai bahan pembuat bajigur.

AYO BACA : Sensasi Bajigur Green Tea di Bajigur Two AA

Namun, belasan tahun setelah terbitnya Babalik Pikir, bila melihat-lihat Kamoes Basa Soenda (1948) susunan R. Satjadibrata, bajigur dikaitkan lagi dengan kopi. Karena menurut Satjadibrata, bajigur adalah “tjikopi noe digodog make goela djeung tjipati” atau “minuman kopi yang dijerang dengan gula dan santan”.  Hal ini senada dengan kamus Sunda-Belanda susunan F.S. Eringa (1984) yang kemudian jadi landasan kamus Sunda-Inggris susunan Hardjadibrata, karena disebutkan bahwa bajigur adalah “drink made of coconut milk, palm sugar and coffee, these are mixed and made to the boil” (minuman yang terbuat dari santan, gula aren dan kopi, yang kesemuanya dicampur dan dijerang).

Demikian pula dalam resep minuman yang dikenal di Belanda pada tahun 1996, sebagaimana yang saya pada daring trouw.nl. Di situ ada resep “Koffie Badjigoer” dalam satu gelas. Bahan-bahannya antara lain “2 flinke theelepels gemalen koffie” (dua sendok teh besar kopi), “suiker” (gula), air mendidih, “een flinke scheut santen” (sedikit santan). Semua bahan dicampurkan sehingga akhirnya kopi mengendap di dasar gelas dan tinggal menikmati minumannya.

Makanya agak aneh bila minuman yang hampir sama dengan wedang jembawuk yaitu minuman kopi dicampur air santan dan gula merah dari Cilacap, Jawa Tengah (Prosiding Seminar Naskah Kuna Nusantara, Dina Isyanti [ed], 2013) dikatakan dalam buku Isi dan kelengkapan rumah tangga tradisional (1986), Bianglala Bahasa (1991) susunan Syofyan Zakaria, dkk., Makanan (1993) oleh Yetti Herayati, dkk., bahkan Ensiklopedi Sunda (2000) yang disunting Ajip Rosidi, tidak dikaitkan dengan kopi.

Sebagai gambaran lebih utuh, berikut lema bajigur dalam Ensiklopedi Sunda. “Minuman bersantan dengan pemanis dari gula kawung (gula aren), dimasak dengan cara dijerang di atas tungku atau di atas anglo. Diminum hangat-hangat, cocok sebagai minuman di daerah berhawa dingin. Biasa dijajakan bersama penganan lain seperti pisang rebus, ubi rebus, kacang rebus, dsb.; dipikul dengan tanggungan (alat pemikul) atau dengan gerobak dorong. Biasa pula dicampur dengan beberapa irisan cangkaleng (kolang-kaling) sehingga terasa khas kebajigurannya. Minuman panas lain yang biasa dijajakan bersama bajigur ialah bandrek”.

Foto-02

Salah satu buku yang membahas mengenai resep membuat bajigur, dengan bahan kopi.

Padahal buku-buku kekinian seperti 505 Masakan Nusantara Favorit (2008) oleh Marta Pratana dan Nanit; 1010 Resep Asli Masakan Indonesia (2008); Wedang: Minuman Segar Berkhasiat (2012) oleh Yunita; Khasiat Bombastis Kopi (2014) karya Femi Olivia; dan Minuman Tradisional Penguat Kekebalan Tubuh (2015) oleh Endang S. Sunaryo sama-sama menyertakan kopi sebagai bahan baku bajigur.

Bila demikian halnya, saya kira bila merunut sejarahnya sejak sumber yang paling lama yang ditemukan, seharusnya bajigur mesti berbahan kopi. Bisa jadi karena berjalannya waktu pakem tersebut berubah, sehingga unsur kopi dihilangkan dan bajigur mengalami simplifikasi dan tambahan kudapan lainnya.

Penulis: Atep Kurnia merupakan peneliti literasi Pusat Studi Sunda. Salah satu karyanya yakni buku 'Googling Gutenberg'. Di samping itu, berbagai tulisan seperti cerpen, puisi, serta feature banyak di media nasional seperti Pikiran Rakyat, Mangle, Kompas.com, dan lainnya.

 

AYO BACA : Bandrek dan Bajigur, Minuman Hangat Khas Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers