web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Benarkah Sushi Sehat? Ini Jawaban Ahli Gizi

Senin, 25 November 2019 04:00 WIB

[Ilustrasi] Kata sushi yang berasal dari Jepang mengacu pada nasi musiman, bukan ikan. (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM – Sushi, makanan khas Jepang ini, dipandang sebagai makanan sehat karena tidak dimasak, benarkah?

Juru bicara media untuk Academy of Nutrition and Dietetics di New York, Malina Malkani, RDN, menjelaskan, kata sushi yang berasal dari Jepang mengacu pada nasi musiman, bukan ikan. Hidangan lezat itu termasuk bola-bola kecil nasi ketan yang dihiasi dengan sayuran, telur, atau ikan mentah.

Lalu apakah sushi sehat?

Secara umum, Alyssa Pike, RD, manajer komunikasi nutrisi untuk International Food Information Council Foundation di Washington DC mengatakan, sushi itu sehat.

"Ada beberapa cara untuk membuat sushi, tapi seringkali itu mengandung bahan-bahan seperti tuna dan salmon, yang mengandung omega-3 dan protein," ujarnya seperti dilansir dari laman The Healthy, Minggu (24/11/2019).

Malkani mengatakan, banyak gulungan sushi terdiri atas mentimun (kaya vitamin C, K dan serat), alpukat (penuh lemak tak jenuh tunggal), bungkus rumput laut (kaya yodium dan serat), dan jahe (dengan gingerol, antioksidan) di sampingnya.

Sushi juga mencakup ketiga makronutrien (karbohidrat, lemak, dan protein) memberi tubuh beragam bahan bakar yang enak.

Sehat atau tidaknya sushi tergantung pada pesanan spesifik dan apakah restoran tersebut memiliki reputasi baik. Namun, tambahan nutrisi pasti datang dari sushi yang khas.

"Sushi juga sering disertai dengan makanan padat nabati yang padat nutrisi yang meningkatkan kesehatan, seperti edamame, salad, rumput laut, tempe, tahu, miso, dan sayuran kukus," ujar Malkani.

Restoran terpercaya

Makan ikan mentah dapat menyebabkan risiko kesehatan potensial, termasuk keracunan makanan oleh bakteri seperti Salmonella dan Vibrio vulnificus, serta menelan parasit seperti cacing gelang, cacing pita, dan cacing pipih bersama dengan ikan. "Ikan mentah beku secara komersial pada suhu 4 derajat Fahrenheit selama minimal tiga hari menghancurkan sebagian besar parasit ini," ungkap Malkani.

Siapa pun yang makan sushi hanya boleh memesan dari restoran yang dapat dipercaya atau bereputasi baik.

"Memilih restoran sushi terkemuka yang dikenal berkualitas tinggi, bahan-bahan segar, dan praktik persiapan dan keamanan makanan dapat membantu mengurangi risiko penyakit bawaan makanan," tuturnya.

Rendah merkuri

Keracunan merkuri menjadi salah satu hal yang ditakutkan saat mengonsumsi sushi. Namun, hal itu tergantung pada apa yang Anda pesan. Malkani mengatakan, Anda dapat mengelola risiko dengan mengonsumsi lebih sedikit ikan yang lebih besar, lebih tahan lama seperti ikan pedang, hiu, tuna mata besar, dan king mackerel lebih jarang.

Sebaliknya, pilih opsi mangsa yang lebih kecil seperti salmon, udang, dan cod. Wanita hamil harus menghindari ikan mentah dan ikan yang mengandung merkuri tinggi.

Gunakan sedikit kecap asin

Anda mungkin suka melumuri sushi dengan saus kedelai. Tapi, sayangnya, bumbu yang dicintai ini bisa mengandung natrium yang besar. Satu sendok makan kecap asin dapat memiliki hingga 1.024 miligram sodium.

The American Heart Association merekomendasikan untuk makan tidak lebih dari 2.300 mg sehari jika Anda mencoba menurunkan tekanan darah. Untuk menghindari perut kembung, cobalah kecap rendah natrium atau batasi diri Anda untuk satu tuangkan kecil dari botol.

Hindari terlalu banyak tempura

Memesan tempura sayuran seperti menjatuhkan kacang hijau yang sudah babak belur ke penggorengan. Satu porsi sayuran tempura yang khas dapat memiliki hampir 1.600 kalori, dengan 60 persennya berasal dari minyak yang diserap sayuran.

Kecilkan porsi Anda dengan memesan piring untuk dibagikan di antara sekelompok teman. Batasi juga hidangan katsu dan agemono yang juga digoreng dan karenanya memiliki lebih banyak lemak dan kalori.

Ukuran porsi

Enam hingga delapan potong salmon dan alpukat gulung memiliki sekitar 300 kalori, sementara dua gulungan akan menghasilkan 600 kalori. Anda dapat memotong kalori dengan memesan seporsi sashimi, sup, salad, atau hidangan sayuran rendah kalori yang juga akan membuat Anda kenyang.

Beras merah

Beras merah adalah pilihan yang lebih baik karena memiliki lebih banyak serat dan nutrisi daripada nasi putih. Para peneliti di Harvard School of Public Health menemukan bahwa mereka yang makan beras merah dua kali seminggu memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2,  sedangkan mereka yang makan nasi putih meningkatkan risiko mereka.

Lain kali Anda membeli sushi dari supermarket, raih gulungan nasi merah seperti ini. Banyak restoran juga akan menyiapkan gulungan nasi merah jika Anda hanya bertanya.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers