web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Kegagalan Literasi Didorong Kebiasaan 'Hanya Baca Judul'

Minggu, 17 November 2019 18:30 WIB Mildan Abdalloh

Ilustrasi pameran buku. (Ayobandung.com/Irfan Al Faritsi)

JATINANGOR, AYOBANDUNG.COM -- Penulis sekaligus jurnalis senior, Maman Suherman, mengatakan salah satu kegagalan literasi yang menjadi pekerjaan rumah untuk segera diselesaikan adalah kecenderungan orang yang hanya membaca sampul buku atau judul sebuah pemberitaan.

Dia mencontohkan, orang begitu berlomba-lomba memperoleh informasi secepat mungkin dan kemudian menyebarkannya kembali tanpa melakukan pendalaman, bahkan melakukan verifikasi terhadap sebuah bacaan yang dibacanya.

"Ujaran kebencian, hoaks dan bacaan tidak benar lainnya, tersebar begitu cepat karena literasi masyarakat yang baru sampai pada tingkatan membaca, belum kepada memahami, menganalisis juga memverifikasinya. Akhirnya mereka menjadi terbodohi dan turut menyebarkannya," paparnya dalam Kemah Literasi Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Jawa Barat di Bumi Perkemahan Kiara Payung, Sabtu (16/11/2019) malam.

Meski demikian, ia menilai gerakan literasi Indonesia saat ini semakin meningkat. Partisipasi masyarakat pun semakin tinggi dalam acara diskusi literasi.

"Saya optimistis, gerakan keliterasian makin meningkat. FTBM Jawa Barat yang membuat acara kemah literasi seperti ini banyak diburu, padahal tidak gratis, masyarakat tetap datang karena ingin sharing pengetahuan," tutur Maman.

Pria yang akrab disapa Kang Maman itu menyebut keterlibatan masyrakat dalam gerakan literasi sangat diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan bangsa, mengingat negara tidak akan sanggup mencerdaskan seluruh warganya.

Keterlibatan masyarakat dalam gerakan literasi berkembang pesat, bahkan luar biasa. "Saya sabenarnya sedang sakit, tapi tetap datang ke sini karena ingin melihat semangat mereka," ujar pria berkepala plontos tersebut.

Kang Maman yang terkenal akan kutipan-kutipan luar biasa dalam acara ILK (Indonesia Lawak Klub) tersebut melanjutkan, minat akan baca di Indonesia terus mengalami peningkatan yang dibuktikan dengan makin rendahnya angka buta huruf. Hal tersebut menjadi bukti kalau makin banyak warga negara yang telah sadar akan pentingnya membaca.

Angka buta huruf diketahui sudah semakin rendah dari deklarasi Iskandar yang menetapkan angka buta huruf terendah sebanyak 5%. Di Indoneisa sendiri angka buta huruf hanya tinggal 2,5%.

"Masalahnya bukan hanya meningkatkan minat baca, tapi gerakan literasi juga harus mampu memahami apa yang dibaca dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari," kata pria kelahiran 10 November 1965 tersebut.

Gerakan literasi, kata Kang Maman, harus bisa mencapai titik merubah perilaku masyarakat dan memberi kebebasan orang dalam berpikir. Sehingga seluruh pihak harus mulai melakukan gerakan literasi sampai pada titik memahami apa yang dibaca.

"Setelah membaca, harusnya dipahami, diceritakan ulang, dituliskan kembali lalu jelaskan apa yang dibaca. Biasanya dari tahapan ini, pemahaman akan berkurang. Itu yang menjadi kelemahan saat ini dan harus ditingkatkam," katanya.

Gerakan literasi yang sukses dinilai akan mampu menangkal hoaks yang marak terjadi saat ini. Salah satu yang menjadi gerakan literasi gagal kata Maman adalah tidak tuntasnya dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, seperti memahami sesuatu yang dibaca sampai melakukan pendalaman.

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers