web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Mengenal Pneumonia, Penyakit yang Banyak Mengintai Balita

Selasa, 12 November 2019 07:46 WIB Fira Nursyabani

Ilustrasi anak sakit. (PIXABAY)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Tahun lalu, pneumonia merenggut sekitar 19.000 nyawa balita di Inonesia. Dua anak meninggal setiap jamnya karena penyakit ini, berdasarkan penelitian terbaru.

Save the Children, Unicef, dan koalisi “Every Breath Counts” meminta pemerintah Indonesia memperkuat alokasi sumber daya untuk mengatasi pneumonia sebagai komitmen dalam mengurangi angka kematian anak di Indonesia.

Pneumonia merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur, yang membuat anak-anak harus berjuang mati-matian untuk sekedar bernafas. Hal itu karena paru-paru mereka dipenuhi oleh nanah dan cairan.

Penyakit ini adalah salah satu pembunuh utama anak-anak di Indonesia. Pnumonia bahkan menyebabkan 16% kematian pada balita.

Secara global, 802.000 balita meninggal karena pneumonia pada 2018 lalu. Ini menjadikan pneumonia menjadi penyebab kematian balita nomor satu di dunia. Sebagai perbandingan, 437.000 balita meninggal karena diare dan 272.000 karena malaria. 

Lima negara bertanggung jawab atas lebih dari setengah kematian anak akibat pneumonia di dunia: Nigeria (162.000), India (127.000), Pakistan (58.000), Republik Demokratik Kongo (40.000) dan Ethiopia (32.000). Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan tingkat kematian balita karena pneumonia yang tinggi.

Anak-anak dengan sistem kekebalan yang melemah karena infeksi atau kekurangan gizi, dan mereka yang tinggal di daerah dengan tingkat polusi udara dan air yang tidak aman, memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena pneumonia.

Save the Children, Unicef, dan koalisi “Every Breath Counts” menemukan jika anak-anak Indonesia yang lahir dari rumah tangga termiskin memiliki potensi untuk meninggal dua kali lebih mungkin karena penyakit seperti pneumonia sebelum ulang tahun kelima mereka dibanding dengan anak-anak yang berasal dari keluarga berada.

Anak-anak yang tinggal di Papua berpotensi lima kali lebih mungkin untuk meninggal sebelum mencapai usia lima tahun dibandingkan anak-anak di Kepulauan Riau.

Sebagian besar kematian akibat pneumonia sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin maupun antibiotik yang harganya terjangkau.

Namun di Indonesia, jumlah anak-anak usia satu tahun yang mendapat vaksinasi untuk penyakit ini masih sangat rendah. Hal ini tampak dari cakupan vaksinasi dasar (Hib3, DTP3) yang masih di bawah 80%, dan cakupan PCV3 yang hanya 8%. 

Selina Sumbung, Ketua Pengurus YSTC-Save the Children di Indonesia mengatakan pneumonia adalah epidemi kesehatan global yang terlupakan yang menuntut respons internasional yang lebih besar. Secara umum, krisis pneumonia adalah campuran antara ketidaksetaraan atas akses ke perawatan kesehatan dan kesadaran yang rendah.

“Di Indonesia, pneumonia adalah salah satu penyebab utama kematian balita. Tingkat cakupan deteksi pneumonia di Indonesia masih rendah, yaitu 55,8%. Angka ini jauh lebih rendah dari target nasional yaitu 85%," jelasnya, dalam pernyataan resmi yang diterima Ayojakarta.com, Senin (11/11/2018).

Selain itu, kata dia, hanya setengah fasilitas kesehatan primer yang menggunakan pedoman standar pneumonia. Artinya, masih banyak anak-anak dengan penumonia yang berpotensi mendapatkan perawatan kesehatan yang tidak tepat.

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pneumonia seperti praktik menyusui yang rendah, kebersihan tangan, serta polusi udara, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan di Indonesia.

Pada Januari 2020, Indonesia adalah salah satu negara yang diundang untuk menghadiri Forum Global tentang Pneumonia Anak di Spanyol - konferensi internasional besar pertama tentang pneumonia dalam satu dekade terakhir.

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers