web analytics
  

[Lipkhas] Akankah Si Jalak Harupat Terpilih Jadi Venue Piala Dunia U-20?

Rabu, 6 November 2019 21:03 WIB Mildan Abdalloh
Bandung Raya - Bandung, [Lipkhas] Akankah Si Jalak Harupat Terpilih Jadi Venue Piala Dunia U-20?, Stadion SI Jalak Harupat, Piala Dunia U-20,

Foto udara Stadion Si Jalak Harupat di Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (25/10/2019). (ANTARA)

KUTAWARINGIN, AYOBANDUNG.COM -- Stadion Si Jalak Harupat menjadi salah satu kandidat untuk digunakan venue Piala Dunia U-20 pada 2021 mendatang. Namun MC Persib Bandung, Didi Mainaki menilai kecil kemungkinan Stadion kebanggaan Kabupaten Bandung tersebut akan dipilih.

Didi mengungkapkan sejumlah alasan tipisnya harapan Si Jalak Harupat akan dipilih menjadi venue Piala Dunia U-20. Salah satunya masalah penyebaran stadion.

"Kandidat stadion itu banyak di sekitar Jawa bagian barat. PSSI atau pemerintah tentu menginginkan venue itu tersebar dari Sabang sampai Merauke," tutur Didi, Rabu (6/11/2019).

Sebagai warga Kabupaten Bandung, Didi mengaku akan merasa bangga jika Si Jalak Harupat digunakan menjadi venue Piala Dunia U-20. Namun, dia berpikir realistis dengan segala kemungkinan dan kondisi.

AYO BACA : Si Jalak Harupat Siap Dijadikan Venue Piala Dunia U-20

"Kalau ditanya pribadi, jujur sangat ingin Si Jalak Harupat jadi venue. Tapi berpikir realiatis saja, karena saingannya banyak, semua daerah juga pasti menginkan stadionnya jadi venue. Kemungkinan Si Jalak Harupat tetap ada dan kalau dilihat dari sisi kualitas stadion sudah standar internasional," katanya.

Kelemahan lainnya yang membuat Si Kalak Harupat tipis kemungkinan dijadikan venue Piala Dunia U-20 terletak dari sisi pendukung.

Didi yang juga wartawan RRI mengungkapkan, ada banyak fasilitas pendukung yang harus disiapkan, seperti kondisi di luar lapangan.

Pada World Cup Rusia tahun lalu, Didi menjadi salah satu wartawan yang dikirim ke negeri beruang merah.

AYO BACA : [Lipkhas] Si Jalak Harupat, Venue Piala Dunia U-20 yang Perlu Banyak Berbenah

"Di Rusia itu, hanya butuh satu sampai dua jam saja untuk mengosongkan stadion dari suporter. Itu mungkin yang menjadi standar FIFA. Untuk di sini? Berjam-jam saja stadion masih dipenuhi suporter," ujarnya.

Stadion yang kosong hanya dalam waktu kurang dari dua jam kata Didi dikarenakan fasilitas transportasi massal yang baik.

Selain banyak terdapat bus, di Rusia terdapat kereta bawah tanah di dekat stadion. Sementara di Si Jalak Harupat, hanya terdapat beberapa trayek angkutan kota, bahkan nyaris tidak ada bus umum yang melintas kawasan stadion.

"Yang menjadi suporter Piala Dunia itu bukan hanya warga lokal, tapi dari belahan dunia. Mereka mungkin tidak akan menggunakan kendaraan pribadi, tapi butuh angkutan massal," ujarnya.

Sementara untuk membangun jaringan transportasi massal, dibutuhkan waktu yang lumayan lama. Jika si Jalak Harupat ingin dipilih menjadi venue Piala Dunia U-20, pemerintah kata Didi harus menyiapkan sarana transportasi massal yang nyaman dan aman juga memadai.

AYO BACA : Dispora Minta Panpel Lebih Perketat Pintu Masuk Si Jalak Harupat

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers