web analytics
  

Empat Faktor Penopang Kehidupan Media

Senin, 4 November 2019 09:40 WIB Netizen Netizen
Netizen, Empat Faktor Penopang Kehidupan Media, kehidupan media, media massa, soeharto, surat kabar, iklan, TV

Ilustrasi surat kabar. (Ayobandung.com)

Rupanya ada empat faktor yakni sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi nasional, keingintahuan masyarakat, dan kemajuan teknologi yang memberi sumbangan terhadap keberhasilan media.

Sederhananya, keempat faktor itu anggap saja mempunyai posisi ceteris paribus. Adapun kesuksesan media, bukan konten, bisa diukur dari pendapatan dan kepopulerannya.  

Salah satu contoh kepiawaian manajemen media menyiasati situasi terjadi pada pemerintahan Presiden Soeharto (1967-1998), yang membatasi  aspirasi masyarakat demi mewujudkan kestabilan politik dan keamanan serta mengamankan pembangunan.

Jumlah partai politik diciutkan melalui penggabungan hingga hanya menjadi tiga saja. Surat kabar yang nakal diberedel. Sejumlah aktifitas ditangkap tanpa diadili kecuali sedikit mahasiswa yang terlibat Malari.

Strategi pemerintahan serupa itu menyebabkan perekonomian tumbuh rata-rata tujuh persen per tahun. Pembangunan di mana-mana dan kesejahteraan rakyat membaik.

Dunia bisnis bergairah. Iklan makin berlimpah setelah perusahaan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.

Bisnis surat kabar turut mengambil manfaat. Koran umum mampu terbit sampai 400 ribu eksemplar tiap hari, konon dengan pendapatan hingga Rp1 miliar sehari. Kontennya masih cenderung mengeritik pemerintah tetapi secara halus hingga tak menyinggung perasaan penguasa. 

Minat baca masyarakat turut meningkat. Penerbit mengakomodirnya dengan dukungan teknologi percetakan yang makin canggih. Mesin cetak mampu memproduksi surat kabar dan majalah dalam jumlah besar. Kebanyakan mesin cetak itu buatan Jerman.

Persaingan Antar Media

‘Kue’ iklan diperebutkan media cetak. Yang berhasil adalah mereka yang mempunyai diferensiasi produk. Bila diferensiasi itu sejalan dengan kepentingan pemasang iklan, maka membenarkan pepatah ...seperti tutup bertemu botol. 

Kemajuan dalam media elektronika menyebabkan persaingan memperebutkan iklan  juga terjadi dengan media televisi. Keunggulan televisi adalah jangkauannya serta dapat menampilkan iklan yang bergerak.

Kelemahannya, tidak cocok untuk iklan laporan keuangan dan duka cita. Pendapatan media cetak mulai menyusut.

Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel)  mengungkapkan belanja iklan pada kuartal pertama 2019, seperti tahun-tahun sebelumnya, dikuasai media TV dengan total belanja iklan Rp 30,9 triliun. Tumbuh 8% dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun sebelumnya. 

Adapun belanja iklan televisi pada 2018 mencapai Rp 110,46 triliun, tumbuh 13,35% dibandingkan dengan periode 2017. Total belanja iklan di TV dan media cetak sepanjang 2016 mencapai Rp134,8 triliun, naik 14% dari 2015.

Porsi iklan di televisi mencapai  77% atau Rp103,8 triliun. Koran meraih 22% yakni Rp29,4 triliun dan majalah Rp1,6 triliun atau hanya 1%.

Zaman keemasan bagi media cetak untuk meraih iklan atau keunggulan dalam pemberitaan sudah menyusut. Beruntung bila, manajemen sudah siap menghadapi pergeseran ini dengan mengubah  struktur biaya, budaya kerja dan teknologinya.

Sebagaimana diketahui, proses produksi koran sangat dibebani biaya pembelian kertas dan biaya cetak. 

Pesaing Baru   

Pada awalnya media cetak dan media TV saling melengkapi, tetapi belakangan secara meyakinkan TV mulai menggusur. Ia memiliki keunggulan dalam kecepatan, menampilkan teks berita, suara dan gambar secara serempak, serta SDM yang inovatif. Kelebihan media cetak yang handy-pun dikikis sebab TV bisa diakses melalui gadget. 

Kehadiran gadget, seperti HP, laptop, komputer, melemahkan posisi media cetak. Pembaca malas membeli koran atau majalah karena harus membayar, beritanya relatif terlambat atau itu-itu juga. Bandingkan dengan berita yang ditampilkan melalui website yang nyaris tak berjarak waktu dan tepat, gratis, dan kanalnya beragam.

Meskipun demikian untuk menjadi pesaing yang sukses. Berita yang ditampilkan media online harus menarik perhatian. Artikelnya mudah dibaca dan difahami. Memenuhi kebutuhan pembaca bahkan bila mungkin melampaui harapan pembaca. Mudah ditemukan. Gampang dikenali.

Media online yang kini mendapat ‘tempat’,  tidak semua memperoleh porsi belanja iklan yang memadai.  Dengan demikian mereka tak punya banyak waktu untuk berleha-leha karena persaingan makin tajam. 

Manajemen media TV yang tak ingin tersingkir, meluncurkan TV Free To Air dengan teknologi digital yang disajikan lewat website.  Di lain pihak SDM media cetak, yang masih menyandang brand lama, menampilkan pula TV digital.

Dalam konteks di atas, mendeteksi selera konsumen merupakan hal yang mutlak. Apakah mereka masih ingin dengan berita-berita online yang bersifat umum atau spesialis?

 

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers