web analytics
  

Toko Buku M.I. Prawira-Winata

Rabu, 30 Oktober 2019 21:59 WIB Netizen Netizen
Netizen, Toko Buku M.I. Prawira-Winata, Toko Buku M.I. Prawira-Winata, Ajip Rosidi,

Gerai Toko Buku MI Prawira-Winata saat mengikuti Jaarbeurs. (Sumber: KITLV)

Meski penerbit partikelir kecil, Toko Buku M.I. Prawira-Winata bisa mengikuti pameran internasional secara berkesinambungan pada 1920-an sehingga buku-buku Sunda bisa ikut dipamerkan kepada peserta dan pengunjung dari mancanegara.

Sudah lama saya mencari keterangan ihwal toko buku dan penerbit M.I. Prawira-Winata. Soalnya, namanya sering sekali disabit-sabit saat membicarakan penerbitan buku-buku Sunda oleh penerbit partikelir sebelum Perang Dunia ke-2. Orang yang termasuk sering menyebut-nyebut nama Toko Buku M.I. Prawira-Winata, antara lain, Ajip Rosidi. 

Ajip membicarakannya paling tidak dalam buku Ngalanglang kasusastran Sunda (1983), Sjafruddin Prawirangegara lebih takut kepada Allah swt (1986), Haji Hasan Mustapa jeung karya-karyana (1989), Sastera dan budaya (1995), Eundeuk-eundeukan (1998), Masadepan budaya daerah (2004), dan Hidup tanpa ijazah (2008). Ada tiga hal yang sering ditulis Ajip dalam bukunya, yaitu mengenai popularitas M.I. Prawira-Winata sebagai toko buku baru dan bekas serta penerbit buku Sunda pada Zaman Normal, judul buku-buku Sunda yang diterbitkan oleh M.I. Prawira-Winata, dan pemerolehan gelar raden M.I. Prawira-Winata pada tahun 1930-an. 

Tetapi soal bagaimana riwayat hidupnya, sepanjang yang saya ketahui, hingga sekarang belum ada yang pernah mengulasnya. Nah, karena saya mendapatkan bahan yang sangat berharga, saya pikir ada baiknya untuk membagikannya kepada khalayak banyak. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, saya mula-mula membahas bahan berharga tersebut yang berisi riwayat hidup M.I. Prawira-Winata dan keluarganya. Sehabis itu, bergerak ke arah riwayat toko buku dan penerbitannya, dan terakhir mengenai semacam prestise dan prestasinya sehingga dapat tampil dalam pameran berskala internasional.

Riwayat R.I. Prawira-Winata

Pada hari Kamis, 8 Maret 2018, saya memperoleh kesempatan untuk melihat dan membaca fotokopi naskah tulisan tangan Raden Ibrahim Prawira-Winata setebal 87 halaman beserta ketikannya setebal 37 halaman. Kang Madroji Suud yang berbaik hati membawanya. Judul naskahnya adalah Sadjarah Mama (Raden Ibrahim Prawira-Winata).

Pada halaman dua naskah, ada keterangan begini: “Ieu seratan Radén Ibrahim Prawira-Winata kapendakna di bumi Nyi Rd. Yuhana Prawira-Winata di Jalan Taman Cibunut 13, Bandung, tina peti buku titipan Rd. Jerman Prawira-Winata, dina taun 1978. Hanjakal buku-buku anu sanésna reksak pisan teu tiasa diaos.”

“Buku aslina ayeuna diropéa ku Rd. Cornel Prawira-Winata, putra Rd. Kornélli Prawira-Winata.”

“Ieu buku di antawaisna janten sumber kanggo nyusun stamboom Silsilah Leluhur Karawang anu terasna ka Rd. Maliki Singawinata (karuhun Nyi Rd. Lasmini/garwa Radén Ibrahim Prawira-Winata) sareng stamboom Silsilah Panembahan Dalem Wangsagoparana anu terasna ka Mas Wirabrata (karuhun Radén Ibrahim Prawira-Winata).”

Dengan kata lain, naskah tersebut ditemukan di rumah Nyi Rd. Yuhana Prawira-Winata di Bandung, dari koleksi buku Rd. Jerman Prawira-Winata, pada 1978. Naskah tersebut kemudian diedit oleh Rd. Cornel Prawira-Winata, putra Rd. Kornelli Prawira-Winata. Naskah tersebut dijadikan sebagai bahan untuk menyusun silsilah leluhur Karawang yang menurunkan Nyi Rd. Lasmini, istri Raden Ibrahim, dan silsilah Panembahan Dalem Wangsagoparana yang menurunkan Raden Ibrahim.

AYO BACA : Jalan Jurnalistik Dajat Hardjakusumah

Kemudian pada kolofon naskah tertulis sebagai berikut, “Sadjarah Mama (Radén Ibrahim Prawira-Winata), Mantri Guru Hormat Sakola Kl. II No. 2 Léngkong-Bandung jeung jadi Sudagar Buku anu mashur satanah Indonésia”. Dengan titimangsa Purwakarta, 15 Januari 1946, 11 Sapar 1365/1877. Di bawahnya ada contoh paraf dan tanda tangan R.I. Prawira-Winata.

Dalam pengantarnya Raden Ibrahim menulis, “Ieu Sadjarah mimiti ditulisna dina poé Salasa peuting (malem Rebo) pukul 10, tanggal 15 Januari 1946 atawa Pahing tanggal 11 Sapar 1365/1877” (naskah Sadjarah mulai ditulis pada hari Selasa malam (malam Rabu) pukul 22.00, tanggal 15 Januari 1946 atau Pahing tanggal 11 Sapar 1365/1877). Keterangan tersebut dilanjutkan dengan titimangsa kelahirannya. Katanya, “Ari Mama dibabarkeun dina poé Rebo tanggal 27 Fébruari 1889, jadi ieu Sadjarah mimiti ditulisna téh dina keur yuswa Mama 56 taun 11 bulan” (Mama dilahirkan pada hari Rabu tanggal 27 Februari 1889, jadi naskah ini mulai ditulis saat Mama berusia 56 tahun 11 bulan”).

Namanya semula memang Mas Ibrahim Prawira-Winata yang sering disingkat M.I. Prawira-Winata. Ayahnya adalah Mantri Gudang Garam dan Onder-Collecteur di Cabangbungin, Rengasdengklok, Mas Wirabrata, dan ibunya Nyi Mas Sitiyamah. Saudara-saudara seayah dan seibunya adalah Mas Ambrah Wirasukarya, Nyi Mas Uniyamah, Nyi Mas Ukiyamah, Mas Uca, Mas Adak, Mas Suminta Kartadinata, Mas Panji Prawiradireja, Nyi Mas Kartomi, Nyi Mas Kastori, dan Mas Suar. Dan saudara berlainan ibunya adalah Mas Ekeh Wiraguna dan Nyi Mas Sukiah.

Mas Ibrahim mulai bekerja sejak 1910. Mula-mula ia bekerja sebagai Candidaat-Onderwijzer Sakola kl. II di Purwakarta yang saat itu dikepalai oleh Raden Maliki Singawinata. Mas Ibrahim kemudian menikah dengan Nyi Raden Lasmini Singawinata di Jalan Tengah, Purwakarta, pada 6 Desember 1910. Pasangan ini dikaruniai 15 orang anak, yaitu Raden Afiatin, Raden Baginda, Raden Kornelli, Raden Jerman, Raden Engeland, Raden Gurnita, Nyi Raden Hidayati, Nyi Raden Ihtiarsih, Raden Fransman (Maman), Nyi Raden Yuhana, Raden Kurnia, Raden Lasmana, Nyi Raden Maria, Nyi Raden Nani, dan Raden Utara. Semuanya berakhiran nama Prawira-Winata.
Pada 1911, Mas Ibrahim pindah ke Bandung dan menetap di Jalan Balonggede No.1. Dua tahun kemudian, pada 1913, ia dipindahkan ke Sumedang untuk mengajar di HIS Sumedang, dalam posisi sebagai Eerste Candidaat-Onderwijzer. Selama di Sumedang, ia menetap di Kampung Cangkudu, Sumedang.

Ia diangkat menjadi Kepala Sakola kl. II di Rengasdengklok dari 1916 hingga 1918. Pada akhir 1918, Mas Ibrahim dipindahkan ke Sukabumi, sebagai kepala sekolah selama beberapa bulan. Kemudian pada akhir 1919, ia dipindahkan ke Bandung, menjadi Kepala Sakola kl. II No. 2 di Lengkong-leutik dan menjadi guru bahasa Melayu di MULO, di Javastraat. Saat itu ia menetap di Jalan Pungkur, dengan menyewa rumah sebesar f 15,- per bulan.

Dari Jalan Pungkur ia pindah ke Kebon-kalapaweg dekat HIS. Pada akhir 1920, Mas Ibrahim sekeluarga pindah ke Balonggedeweg No.1, ke rumah pensiunan Hoofdpanghulu Bandung Haji Hasan Mustapa. Ia mengontrak rumah tersebut sebesar f 45,- per bulan. Pada 1922, Mas Ibrahim menjadi Kepala HBS di Jalan Lengkong dan mengajar bahasa Melayu di MULO Jalan Jawa. Rumahnya saat itu berada di Jalan Pungkur No. 40. Setahun kemudian, pada 1923, ia pindah rumah ke Jalan Balonggede No.1 hingga Januari 1942. Di sela-sela itu, pada 15 Desember 1938, ia mulai dapat menggunakan gelar “Raden” sesuai dengan SK Gubernur Jawa Barat No. c 54/17/22.

Penganugerahan gelar tersebut dilatarbelakangi oleh kehendak anaknya, Fransman. Saat itu Fransman sedang sekolah di HBS yang sebagian besar terdiri dari anak-anak yang bergelar “raden” dan banyak orang yang menyapa Fransman juga engan sebutan “aden” atau “raden”, sehingga menyebabkannya rikuh dan malu (“Maman ari aya nu nyebut ‘adén’ téh lain atoh, ieu mah kalah ka éra nepi ka sok beureum beungeut”). Oleh karena itu, ia berkeras kepada Mas Ibrahim untuk memeriksa garis keturunan dan menguruskan gelar raden tersebut.

Agen Volkslectuur dan Toko Buku M.I.

Publikasi paling lama mengenai M.I. Prawira-Winata adalah koran De Preanger-Bode edisi 21 Agustus 1919. Di situ diberitakan M.I. Prawira-Winata bekerja sebagai guru sekolah umum pribumi pertama di Bandung. Pada 1920, ia mulai mendirikan toko buku merangkap sebagai agen Volkslectuur alias Balai Pustaka di Bandung. Kemudian pada De Preanger-Bode edisi 23 September 1922, ia masih tetap dikenal sebagai agen Balai Pustaka dan tinggal di daerah Pungkur.

Pada buku yang disusunnya sendiri, Pemimpin Hitoengan, bagi Segala Orang jang hendak toeroet oejian Sekolah Goeroe, Goeroe bantoe, Kweekschool, Sekolah-Noormaal dan Goeroe-desa (1922), ada keterangan bahwa Mas Ibrahim adalah “Kepala Sekolah Kl II No 2 Lengkong-Bandoeng”. Namun, informasi yang dapat dipetik lainnya adalah di belakang buku tersebut disertakan iklan Toko Buku M.I. yang berdomisili di Poengkoerweg 46, Bandung.

AYO BACA : Ridwan Kamil Hibahkan Rp100 Juta untuk Perpustakaan Ajip Rosidi

Selanjutnya, hampir selama setahun pada 1924 Toko Buku M.I. memasang iklan pada De Preanger-Bode. Di situ ada informasi menarik yaitu bahwa toko tersebut membeli dan menjual buku-buku bekas berbahasa Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman. Lokasi tokonya ada di Groote Lengkongweg 1.

Antara 1935-1936, dari iklan yang dipasang pada majalah Mooi Bandoeng edisi No 12, Juni 1935 dan edisi No 8, Februari 1936 diketahui bahwa Toko Buku MI mempunyai usaha di bidang penjualan buku, percetakan, penjilidan buku, Encadreerinrichting, dan penyewaan buku (bibliotik). Selain itu, alamatnya juga berubah, yaitu menjadi di Oude Hospitaalweg 32, Bandung, serta mempunyai cabang di Laksanaweg 2.

Memasuki zaman Jepang, saya mendapatkan keterangan seputar Toko Buku M.I. dari koran Asia Raya edisi 6 Mei 1942. Di situ ada pengumuman bahwa “Asia Raya di Bandoeng dapat beli dan minta berlangganan kepada: Agentschap Pengoeroes tn. R Moh Soepardi Natoenaweg 47 dan pada 1. Restoran Banjoemas Pangeran Soemedangweg 33 telp No 53, 2. Kantor OL Mij Boemipoetra telp No. 2546, 3. Coenstraat 6, dan 4. Boekhandel “Prawira-Winata” Katja-katja Wetan No 80A”.

Sementara dari naskah Sadjarah Mama, ada keterangan bahwa pada akhir 1941 sebagian keluarga R.I. Prawira-Winata pindah ke Kampung Simpang, Desa Nagri-Kidul, Purwakarta (Jalan Gembong 70-71), karena istri Raden Ibrahim sakit “Beroerte” atau “Hersenschudding”. Sementara toko buku dan penerbitannya di Jalan Kaca-kaca Wetan 70 masih diurus oleh R.I. Prawira-Winata. Ia baru ikut pindah ke Purwakarta pada 10 Januari 1942, sedangkan tokonya diurus oleh anaknya, Raden Gurnita.

Selama malang melintang di dunia penerbitan buku Sunda, Toko Buku M.I. Prawira-Winata pernah menerbitkan sebanyak 69 judul buku yang terdiri dari 24 judul wawacan dan 45 judul buku umum, yang di dalamnya terdiri dari roman, agama, lelucon, perjalanan, wayang dan lain-lain. Semuanya dalam bahasa Sunda yang diterbitkan pada rentang 1920-1945.

Toko Buku Kecil di Jaarbeurs

Salah satu prestasi yang menjadi prestise bagi Toko Buku M.I. Prawira-Winata adalah ikut berpameran dalam pekan raya tahunan (Jaarbeurs) yang berskala internasional, selama beberapa tahun, pada tahun 1920-an. Menurut penelusuran saya, toko buku ini  paling tidak mengikuti Jaarbeurs di Bandung itu sejak tahun kedua, yaitu pada 1921. Hal ini dapat kita baca dalam majalah Bibliotheekleven edisi 11 November 1921.

Di situ, ada reportase bertajuk “Het Boekwezen op de 2de Nederlandsch Indische Jaarbeurs” yang di dalamnya antara lain menyatakan bahwa Prawira Winata, toko buku kecil di Bandung yang menjual buku Belanda, Melayu, Jawa, Sunda serta kerajinan ikut pameran yang bertempat di Gedung G 7, bersama dengan Theosofische boekhandel “Minerva”, Bond van Evangelisatie, serta Commissie voor de Volkslectuur.

Pada penyelenggaraan Jaarbeurs berikutnya, saya dapat membaca bahwa toko ini mengikutinya pada 1922, 1923, dan 1925. Untuk keikutsertaannya pada Jaarbeurs 1922, kita dapat mengikutinya dalam laporan De Preanger-Bode, dan mingguan Indie: Geillustreerd Weekblad voor Nederland en Kolonien. Dari De Preanger-Bode edisi 23 September 1922, ada tulisan “Inheemsche Stands” atau Gerai Pribumi yang menyatakan bahwa agen Volkslectuur yang dalam hal ini diwakili oleh M.I. Prawira-Winata berpameran di gedung aula untuk mesin, bersama organisasi teosofi. Di gerainya, M.I. Prawira-Winata menyediakan buku berbahasa Belanda, Melayu, Sunda, Jawa, juga pelat dan hasil karya foto yang dikerjakan oleh Raden Moehamad Didi dan Danamihardja.

Sementara dari mingguan Indie edisi No 5, 3 Mei 1922, dapat kita petik informasi bahwa Prawira-Winata bersama-sama dengan Theosophischen Boekhandel, Bond van Evangelisatie, Visser & Co, Commissie voor de Volkslectuur, Partadinata ikut berpameran buku dan penjilidan bertempat di Gedung G 7.

Demikian pula untuk penyelenggaraan Jaarbeurs 1923, Indie edisi No 40, 3 Januari 1923, memberitakan bahwa Gedung 6 yang semi permanen digunakan sebagai tempat pameran perusahaan lampu milik orang Serbia di Surabaya, Joseph Rute & Co, serta gerai buku Bond van Evangelisatiën, Theosophischen Boekhandel, India Semper Florens, dan Prawira-Winata.
Terakhir, informasi keterlibatan Toko Buku M.I. Prawira-Winata pada Jaarbeurs adalah tahun 1925. Hal ini dapat dibaca misalnya dalam keterangan yang diberikan mingguan Indie edisi No 12, 2 September 1925. Di situ kita baca bahwa di Gedung D 2 bagian sayap, Prawirawinata berpameran buku dengan mewakili Volkslectuur.

Dengan demikian, meskipun berjuluk penerbit partikelir kecil, Toko Buku M.I. Prawira-Winata bisa mengikuti kegiatan tahunan berskala internasional secara berkesinambungan dan buku-buku Sunda bisa ikut dipamerkan kepada peserta yang datang dari mancanegara. Barangkali catatan riwayat hidup R.I. Prawira-Winata dan prestasinya dalam mengelola toko buku bisa menjadi catatan penting bagi Ajip Rosidi, termasuk tentu sekalian pembaca budiman. 

Atep Kurnia
Peminat literasi dan budaya Sunda

AYO BACA : Ajip Rosidi dan Nani Wijaya Akhirnya Resmi Menikah

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers