web analytics
  

Pelantikan Presiden dan Kabinet Baru Gairahkan Pasar Modal

Kamis, 24 Oktober 2019 20:01 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Bisnis - Finansial, Pelantikan Presiden dan Kabinet Baru Gairahkan Pasar Modal, Pasar Modal, Bestprofit Futures, Pelantikan Presiden, Kabinet Baru,

Konferensi Pers Paparan Kinerja Kuartal III Tahun 2019 PT. Bestprofit Futures (BPF). (Eneng Reni Nuraisyah Jamil/Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI masa periode 2019-2024 serta Kabinet Indonesia Maju dinilai membawa angin segar untuk industri pasar modal. Kepastian dari sisi politik ini diklaim cukup menambah tenaga pasar modal ke arah sentimen positif.

Kondisi positif industri perdagangan berjangka komoditi Indonesia ini pun meraih sentimen positif dari pengaruh perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Hal ini terlihat melalui minat dan animo investor terhadap produk investasi yang bersifat tempat lindung nilai (safe haven), yakni emas yang mengalami sentimen positif di pasar. Maklum, Emas memang merupakan salah satu instrumen investasi yang populer di masyarakat.

Chief Business Officer PT. Bestprofit Futures (BPF), Ani Sofiarni menyampaikan pelantikan presiden dan pengumuman kabinet jilid dua sejauh ini berdampak positif ke pasar modal. Sebab, Ani menilai biasanya indeks saham selalu melaju pada Tahun Pemilu karena pelaku pasar mengapresiasi kepastian politik untuk lima tahun ke depan.

"Untuk saat ini tentunya ada sedikit pengaruh. Tapi melihat dampaknya ke Indonesia gak terlalu besar. Minat tehadap perusahanan berjangka ini juga tidak banyak berpengaruh. Paling yang berpengaruh ke pasar locogold (investasi emas) yang masih mampu mengalami kenaikan yang cukup bagus. Dan gejolak lain yang sangat mempengaruhi sebenarnya gejolak perekonomian global," ungkap Ani dalam paparan kinerja kuartal III Tahun 2019 BPF, di Bandung, Kamis (24/10/2019).

Ani juga menyebut, pasar locogold atau investasi emas kini naik dan berada di jalur penguatan terbaiknya. Penguatan harga emas ini terjadi karena investor mencari tempat lindung nilai atau safe haven dari gejolak pasar yang dipicu oleh perang dagang China AS dan dan proses perceraian Inggris dengan Uni Eropa alias British exit (Brexit).

"Perdagangan di China, dan proses perceraian Inggris dengan Uni Eropa atau British exit (Brexit) memang sangat mempengaruhi sentimen pasar. Tapi locogold ini dianggap invetasi safe haven. Jadi sebenarnya untuk secara keseluruhan ini justru peluang yang bagus untuk menaikkan target," lanjutnya.

Ani juga menyampaikan, sentimen positif tersebut terlihat dari capaian BPF yang berhasil membukukan total volume transaksi sebesar 830.395 lot atau naik 42,16% pada kuartal III tahun 2019 dibandingkan tahun lalu pada posisi yang sama. Volume transaksi bilateral masih menjadi katalis utama sebesar 757.097 lot atau memberikan kontribusi sebesar 91,17% dari total volume transaksi dibandingkan multilateral sebesar 73.298 lot atau hanya menopang sebesar 8,82%.

"Ada kenaikan yang cukup baik yang kami harapkan. Apalagi dengan kondisi gejolak perekonomian global saat ini membuat target pelaku pasar aset safe haven kian ingin mengamankan kekayaannya. Dan Emas terbiasa dipilih sebagai investasi fisik yang menjadi minat para investor. Makanya emas masih dianggap produk primadona untuk perusahaan berjangka," kata Ani.

Sementara itu peluang di akhir 2019, Ani mengungkapkan dari target di awal sebesar 20% untuk total volume transaksi dan jumlah nasabah baru diyakini akan tercapai seiring situasi ekonomi global yang mulai membaik, dan daya investasi yang kian menggeliat di dalam negeri. 

"Kami menargetkan bisa naik ke pertumbuhan investasi mencapai 35% karena sampai kuartal III naik ke angka 26%, data ini sampai September 2019. Terlebih melihat tren gejolak ekonomi saat ini locogold masih di minati sampai akhir tahun ini, karena dianggap investasi yang  aman oleh investor," katanya.

Karenanya, Ani menyebut, BPF menangkap sinyal peluang tersebut dengan lebih giat melakukan edukasi dan meningkatkan kualitas SDM untuk menggenjot produksi, menunjang pengetahuan, dan kemampuan SDM terutama di divisi marketing.

AYO BACA : Rupiah Terus Menguat Sambut Kabinet Baru

“Seluruh pencapaian ini cukup memuaskan. Kami yakin sampai akhir tahun kinerja BPF akan melesat sesuai ekspektasi," ujar Ani.

Di sisi lain, untuk performa kantor cabang, BPF cabang Bandung sepanjang Januari hingga September 2019 mengantongi pertumbuhan jumlah nasabah baru sebesar 75,86%, menjadi 102 nasabah dibandingkan hingga akhir September 2018 sebesar 58 nasabah baru. Atas pencapaian ini, BPF Bandung menjadi jawara untuk cabang BPF di luar Jakarta dari sisi peningkatan jumlah nasabah baru.

Pimpinan Cabang BPF Bandung, Ida Widaeni menyampaikan, nasabah BPF Bandung masih didominasi dari segmen profesional dan pengusaha. Dari sisi umur rata-rata di atas usia 35 tahun ke atas, sementara untuk gender mayoritas masih laki-laki.

Laju pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat, khususnya Bandung mengalami peningkatan setiap tahun di atas 5%. Kondisi ini berimbas positif terhadap berkembangnya para pengusaha baru maupun tingkat pendapatan masyarakat, terutama di pusat kota. 

"Target wilayah prospek kami hampir mencakup seluruh wilayah Jawa Barat meski kantor operasional ada di Bandung. Kami fokus pada kantong-kantong wilayah potensial, seperti Cirebon, Garut, Bogor, dan Sukabumi," ungkap Ida.

Lanjutnya, strategi BPF Bandung adalah menjaga kualitas nasabah baik dari sisi profil maupun pelayanan cabang. Nasabah yang dibidik, kata dia, adalah mereka yang memiliki kemampuan finansial cukup mapan dan memahami benar investasi di perdagangan berjangka.

"Dengan fokus pada kualitas profil dan pelayanan, kami berharap tingkat kepuasan nasabah BPF Bandung mencapai 80% lebih dan mereka bisa menjadi duta BPF untuk merekomendasikan kami kepada calon nasabah lain," katanya

Total volume transaksi BPF Bandung hingga kuartal III tahun ini mencapai 33.237 lot atau 34,38% dibandingkan tahun lalu pada posisi yang sama sebesar 24.734 lot. Produk bilateral atau Sistem Perdagangan Alternatif memberikan kontribusi terbesar dengan porsi 28.953 lot dibandingkan total volume transaksi produk multilateral atau komoditi sebsar 4.284 lot.

“Target kami, dalam lima tahun ke depan adalah menjadi kantor cabang terbaik dari sisi pertumbuhan nasabah baru dan volume transaksi dengan pertumbuhan di atas 70%,” ujar Ida.

Saat ini BPF menempati urutan kedua teratas dari lima perusahaan pialang berjangka terbesar nasional, berdasarkan data Bursa Berjangka Jakarta. Total pangsa pasar BPF mencapai 13,39%. Selain kinerja transaksi, laporan Perseroan juga mencatat total nasabah baru hingga September 2019 mencapai 2.076, mengalami peningkatan sebesar 26,20% dibandingkan tahun sebelumnya pada posisi yang sama  sebanyak 1.645 nasabah baru.

Di sisi lain untuk meningkatkan pelayanan, BPF disempurnakan oleh fasilitas layanan SITNA  (Sistem Informasi Transaksi Nasabah) dari PT. Kliring Berjangka Indonesia dan PT. Bursa Berjangka Jakarta. Melalui SITNA, setiap transaksi kontrak berjangka yang tercatat di bursa berjangka dapat dipantau oleh nasabah.

AYO BACA : Sambut Kabinet Baru, IHSG Diprediksi Menguat

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers