web analytics
  

Bandung Termacet se-Indonesia, Pemkot Akan Keluarkan 4 Kebijakan

Selasa, 15 Oktober 2019 17:16 WIB Nur Khansa Ranawati

Wali Kota Bandung Oded M. Danial meninjau Trans Metro Bandung. (Dok. Humas Setda Kota Bandung)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Perhubungan Kota Bandung tengah merancang program pengentasan kemacetan kota. Proyek tersebut bernama Bandung Urban Mobility.

Proyek Bandung Urban Mobility diejawantahkan menjadi beberapa kebijakan transportasi dan infrastruktur jalan. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Manajemen Transportasi dan Parkir Dishub Kota Bandung Asep Kurnia ketika ditemui di Balai Kota Bandung, Selasa (15/10/2019). Dia menyebutkan, proyek tersebut akan diterapkan dengan basis jalan raya dan rel.

"Untuk mengantisipasi kemacetan, Pemkot Bandung sudah memiliki dokumen perencanaan Bandung Urban Mobility Project, dimana pemkot akan bangun transportasi publik berbasis jalan raya dan berbasis rel," ungkapnya.

Beberapa kebijakan baru yang termasuk dalam lingkup proyek tersebut yakni:

1. Penambahan koridor TMB

Saat ini, bus umum Trans Metro Bandung (TMB) dapat diakses warga di empat koridor yang tersedia. Rencananya, pemkot segera menambah koridor kelima jalur Antapani-Stasiun Hall.

Sebanyak 15 bus akan dipersiapkan untuk melayani koridor tersebut. Adapun keempat koridor yang telah beroperasi adalah  Elang-Cibiru, Cicaheum-Cibeureum, Cicaheum-Sarijadi, dan Antapani-Leuwipanjang.

AYO BACA : Bila Terus Bangun Fly Over, Pengamat: 5 Tahun Lagi Bandung Kolaps

"Salah satu kebiajakan berbasis jalan raya adalah TMB. Saat ini ada empat koridor, dan tahun ini akan ditambah satu koridor lagi yakni Antapani-ST. Hall," ungkapnya.

Targetnya, TMB di koridor tersebut dapat mulai beroperasi pada November 2019.

2. Boseh digalakkan kembali

Asep menyebutkan, saat ini program sewa sepeda atau bike sharing 'Boseh' tetap dapat dimanfaatkan. Sejauh ini telah ada 19 stasiun peminjaman yang dapat diakses warga.

"Masing-masing ada tiga sampai 10 sepeda per stasiun, ditempatkan di pusat-pusat kota, alun-alun, dan titik lainnya," ungkapnya.

3.  Penambahan Fly Over

Saat ini, dua buah jembatan layang alias fly over baru tengah dibangun di Kota Bandung, yakni di ruas Jalan Jakata-Supratman serta Jalan Gatot Subroto-Laswi. Rencananya, sejumlah fly over lainnya akan segera dibangun di beberapa ruas jalan yang kerap dipadati kendaraan.

AYO BACA : Surat Terbuka untuk Kadishub Kota Bandung

"Pada 2021 akan dibangun (fly over) di Soekarno Hatta-Kopo, Buahbatu-Soekarno Hatta, dan perempatan Samsat (Kiaracondong)-Soekarno Hatta," ungkapnya.

Sementara itu, pada 2022, fly over akan kembali dibangun di jalan Gedebage-Soekarno Hatta serta Jalan Djundunan-Surya Sumantri. Tak hanya itu, jalan underpass juga rencananya dibangun di sekitar Gasibu pada 2022.

"Underpass itu MoU nya dari Pemkot Bandung, Pemprov Jabar, dan Kementrian PUPR," jelasnya.

4. Konversi Angkot ke Bus

Asep mengatakan, tahun ini Dishub Kota Bandung akan melakukan kajian konversi sejumlah trayek angkot menjadi bus kota. Hal ini akan dilakukan pada sejumlah trayek yang terbilang ramai penumpang, di ruas jalan yang cukup luas untuk menampung bus kota.

"Ada kajian tahun ini, beberapa trayek yang lebar jalannya cukup akan dirubah menjadi bus, diutamakan di jalur gemuk. Sudah ada kerjasama. Rencananya 3 angkot akan dirubah menjadi 1 bus," jelasnya.

Sebelumnya, publik Kota Bandung sempat diramaikan oleh hasil penelitian yang diiniasiasi oleh Asian Development Bank (ADB) mengenai kemacetan kotanya tersebut. Isinya mengungkap bahwa Bandung memiliki tingkat kemacetan yang lebih parah dari Jakarta.

Di tingkat Asia, Bandung berada di urutan ke-14 kota termacet dari total 278 kota yang diteliti. Sementara itu, DKI Jakarta berada di urutan ke-17 dan Surabaya di urutan 20.

AYO BACA : Pakar Tata Kota Sebut Pembangunan Flyover Bukan Solusi Atasi Kemacetan

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers