web analytics
  

Cegah Depresi dan Bunuh Diri, Psikiater: Mari Budayakan Curhat

Selasa, 15 Oktober 2019 14:29 WIB

Ilustrasi Depresi (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Psikiater sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI, dr Fidiansyah, Sp.Kj menyarankan membudayakan curhat untuk mencegah depresi.

Kasus meninggalnya mantan anggota girl band f(x), Sulli, pada Senin (14/10/2019), seakan kembali menggugah kesadaran masyarakat mengenai banyaknya kasus bunuh diri di dunia.

Menurut Fidiansyah, hingga kini depresi masih menjadi masalah kejiwaan paling banyak yang berakhir pada tindakan bunuh diri.

AYO BACA : 12 Tanda Pria Sedang Depresi, dari Sakit Perut hingga Disfungsi Ereksi

Ketika seseorang depresi, lanjutnya, mereka merasa tidak memiliki jalan keluar.

"Makanya keluarga harus aware terhadap keluhan-keluhan yang dialami oleh penderita," ujar dr Fidiansyah, saat melakukan siaran langsung melalui akun Instagram Kemenkes, Kamis (10/10/2019), dikutip dari Suara, Selasa (15/10/2019).

Ia menambahkan, tanda awal dari kondisi jiwa berasal dari hal-hal yang bersifat umum, seperti tidur, makan atau aktivitas sehari-hari.

AYO BACA : Diet Tinggi Lemak Jenuh Picu Depresi

"Kalau kita tidak mendapatkan suatu kondisi tidur yang tak semestinya, maka itu sudah merupakan tanda awal. Dan itu perlu coba ditelusuri (penyebabnya). Termasuk tidak tidur karena isi kepala masih memikirkan masalah yang belum terselesaikan," jelasnya.

Salah satu cara untuk menghindari depresi adalah dengan mencurahkan isi hati. Inilah, kata Fidiansyah, fungsi dari media sosial yang sebenarnya dapat dijadikan wadah untuk mencurahkan isi hati dan berbagi dengan orang lain.

"Mari kita budayakan untuk curhat pada kondisi apapun, agar dia menjadi pereda dari situasi emosional yang kita simpan sendiri lalu kita berbagi," ujarnya.

Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hampir ada 800.000 kasus tentang bunuh diri setiap tahunnya di dunia. Artinya, setiap 40 detik ada satu orang yang melakukan tindakan tersebut.

Sementara itu, di Indonesia, Fidiansyah mengatakan, setidaknya ada lima orang bunuh diri dalam sehari. Tragisnya, tindakan ini lebih banyak dilakukan oleh anak muda di usia produktif.

"Usia paling banyak (melakukan) bunuh diri itu 15 sampai 29 tahun, generasi milenial," ungkapnya.

AYO BACA : Kontak Batin Anjing dan Majikan

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers