web analytics
  

Goa Jepang Purwakarta, Tak Tembus Cahaya dan Dihuni Ribuan Kelelawar

Jumat, 11 Oktober 2019 10:53 WIB Dede Nurhasanudin
Umum - Regional, Goa Jepang Purwakarta, Tak Tembus Cahaya dan Dihuni Ribuan Kelelawar, Goa Jepang Purwakarta, berita purwakarta, tempat bersejarah purwakarta, ayopurwakarta, purwakarta hari ini

Ginanjar Saputra menunjukan Goa Jepang di Purwakarta. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

PURWAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Di Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta terdapat sebuah terowongan menyerupai gua yang ternyata belum banyak diketahui masyarakat luas. Masyarakat setempat menyebutnya Gua Jepang karena dibangun oleh penduduk setempat pada zaman penjajahan Jepang.

Menurut warga setempat Ginanjar Saputra (24), Gua Jepang ini masih belum tereksplorasi dan belum diteliti oleh pihak manapun. Menurutnya, di dalam goa juga masih banyak ribuan hewan kelelawar yang menetap.

Hal itu diketahui setelah Ginanjar masuk ke dalam gua itu beberapa tahun lalu. Ia menjelaskan, kondisi di dalam gua cukup gelap hingga tidak tembus cahaya senter.

AYO BACA : Pemkab Purwakarta Siapkan Trauma Healing Korban 'Hujan Batu'

"Dulu 2001 saya pernah masuk bersama rombongan. Masuk ke dalam pakai lampu petromak. Karena senter biasa atau lampu ponsel tak tembus cahaya," ujar Ginanjar, Kamis (10/10/2019).

Ia mengatakan, gua tersebut saat ini dilarang dimasuki masyarakat atas alasan keselamatan. Gua yang diperkirakan berusia ratusan tahun ini tetap menjadi rahasia dan memiliki cerita tersendiri dibaliknya. "Sekarang untuk umum tidak bisa," kata dia.

Gua Jepang tersebut pertama kali ditemukan pada 2000 oleh seorang warga yang tengah berburu hewan. Warga tersebut tiba-tiba meligat sebuah gua di balik semak belukar.

AYO BACA : Purwakarta Miliki Layanan Persalinan Darurat 'Jabang Tutuka'

"Namanya pak Ade yang menemukan goa ini. Sekarang sudah tak tinggal di sini. Pas tahu, pak Ade langsung ke lari ke kampung untuk memberitahukan warga," kata dia.

Ia mengatakan, para tetua di Desa Pusakamulya berpesan agar gua tersebut tetap dipertahankan keasilannya. "Nenek saya yang sudah sepuh diam dan tersenyum saja. Hanya saja orang tua saat itu hanya berpesan jangan sampai gua itu diubah saja," ujarnya.

Warga setempat lainnya, Agus Saprudin (50) mengatakan, berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat, gua ini terbentuk secara alami sebelum dibangun kembali oleh penduduk setempat pada zaman penjajahan Jepang. Goa ini berukuran tinggi 2,5 meter, lebar 3 meter lebih dan memiliki kamar sebanyak 9 ruang dengan luas sekitar 5 meter.

"Belum sempat selesai dibangun. Karena Jepang kembali, perang dunia kedua kalah. Tapi dari cerita dan kisah orang tua dulu sudah bersejarah dari zaman Belanda. Dari saya kecil sampai kini goa masih seperti itu," ujar dia.

AYO BACA : Bupati Purwakarta Dorong OPD Buat Program Penanganan Sampah Plastik

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers