web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Lika-liku Para Srikandi BTPN Syariah

Kamis, 10 Oktober 2019 15:14 WIB Rizma Riyandi

Dari kiri Ratih, Rara, Dinny, dan Rima. (ayobandung.com/Rizma Riyandi)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Ningrat Lestari (25) atau akrab disapa Rara, terlihat begitu sumeringah ketika berpapasan dengan orang lain. 

Senyumnya mengembang saat bercerita mengenai pengalamannya menjadi Community Officer (CO) Mobile Marketing Syariah (MMS) program Pinjaman Masa Depan (PMD) BTPN Syariah.

Dia mengaku bangga dan senang turun ke lapangan mencari nasabah PMD. Sebab, ada kepuasan tersendiri yang diperoleh Rara saat melihat nasabah binaannya terbantu melalui PMD BTPN Syariah.

Meski begitu, Rara tak menafikkan pekerjaannya sangat berat. Untuk mendapatkan nasabah saja harus naik turun perbukitan Kabupaten Bandung. Bahkan, tak jarang pencariannya baru membuahkan hasil setelah memakan waktu lama.

"Pernah ada calon nasabah menghubungi saya, bilang mau ikut PMD, tapi karena saking lamanya saya juga sudah lupa apa saya pernah datang ke tempat calon nasabah ini," ujar Rara sambil tertawa kecil di Jalan Patuha, Lengkong, Kota Bandung, Rabu (9/10/2019).

AYO BACA : Semester I/2019, BTPN Syariah Cetak Kinerja Positif

Perjuangannya sebagai CO tak habis di situ. Setelahnya, Rara harus berjuang membina para nasabah yang tergabung dalam kelompok-kelompok. Satu kelompok nasabah PMD, paling sedikit terdiri dari 15 orang.

Hal serupa juga dialami Ratih Kattrin Syawalin (33), BM Hub Bandung Kulon BTPN Syariah. Walaupun awalnya kaget, perempuan yang sempat bekerja di salah satu bank swasta konvensional ini mengaku bersyukur hijrah ke BTPN Syariah.

"Kalau lihat pekerjaan yang dulu kan saya tidak membayangkan kerja di BTPN ini bakal turun ke lapangan. Masuk ke sawah-sawah, nongkrong di warung, menghadapi ibu-ibu," ujarnya.

Dia mengaku pekerjaannya saat ini jauh lebih humanis jika dibandingkan dengan pekerjaannya dulu yang hanya menanti nasabah di kantor. 

Selain itu, menurut Ratih, semangatnya ke lapangan akan selalu bertambah saat menemui nasabah yang baik di kawasan rural area.

AYO BACA : Nasabah Inspiratif btpn Syariah 2: Kerja Keras Iis

Meski mereka cenderung polos, pada dasarnya nasabah di pedesaan lebih jujur. Apalagi sasaran PMD adalah kaum perempuan, terutama ibu-ibu, mereka lebih mudah diatur dan diedukasi.

Hal ini dibenarkan oleh Dinny Yuliawati (26), BM Hub Andir BTPN Syariah. Akan tetapi, kenyataannya tetap saja ada kesulitan-kesulitan tertentu yang datang dari nasabah. Misalnya, ada nasabah yang kabur, tak melunasi cicilan.

"Ada saja nasabah yang pergi, misal jadi TKW (tenaga kerja wanita). Tapi untungnya, sistem kami (PMD) kan kelompok, jadi kalau ada yang kabur harus tanggung renteng, diganti sama kelompoknya," ujar Dinny.

Meski banyak kesulitan yang dihadapi, Dinny yang telah bergabung dengan btpn Syariah sejak 2012 itu mengaku tidak menyesal bekerja seperti sekarang. Pasalnya dengan bekerja di BTPN Syariah, Dini bisa meraih cita-citanya satu per satu.

"Alhamdulillah saya bisa kuliah serta membantu ibu dan bapa," katanya. Pengalaman yang sama juga dirasakan Rima Rahmayanti (21).

Selain bekerja sebagai CO MMS, dia juga bisa melanjutkan kuliah. Pasalnya pada saat ia bergabung di BTPN Syariah tahun 2016, Rima baru saja lulus SMA.

"Dulu boro-boro kepikiran mau kuliah. Tapi setelah bekerja di btpn Syariah, alhamdulillah ada kesempatan dan bisa kuliah," ujar Rima.

Menurutnya, selain para nasabah, para pegawai terutama CO MMS dan BM sangat terbantu dengan kehadiran BTPN Syariah. Lantaran lebaga keuangan berbasis ekonomi islam ini dapat menyejahterakan semua kalangan. 

AYO BACA : Nasabah Inspiratif btpn Syariah 1: Berkah Pakaian Dalam

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers