web analytics
  

Nasabah Inspiratif btpn Syariah 2: Kerja Keras Iis

Kamis, 10 Oktober 2019 12:03 WIB Rizma Riyandi

Iis Komala, pemilik usaha konveksi pakaian perempuan berlabel A-Mulya di Bojongkoneng, Kabupaten Bandung. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

BOJONGKONENG, AYOBANDUNG.COM -- Iis Komala (44) adalah ibu beranak empat. Namun ia bukan ibu biasa. Iis adalah ibu yang luar biasa. Di samping membesarkan anak-anak, sehari-hari Iis berjibaku dengan kegiatan mendesain pakaian, memotong kain, sampai menjualnya ke berbagai tempat.

Iis adalah otak utama di balik usaha konveksi pakaian perempuan berlabel A-Mulya di Bojongkoneng, Kabupaten Bandung. Berkat kerja kerasnya, saat ini produk A-Mulya sudah dijual ke berbagai daerah, bahkan sampai luar negeri.

"Sekarang saya sudah kirim barang ke Cirebon, Tuban, Pasuruan, dan Samarinda. Tapi reseller ada yang jual baju saya sampe ke Malaysia dan Mesir," kata Iis.

Untuk mendukung usahanya yang terus berkembang, saat ini Iis dibantu 20 karyawan yang kebanyakan merupakan tetangganya sendiri. Iis juga memiliki 20 mesin jahit yang terus beroperasi setiap hari. Omzet penjualan produk A-Mulya sendiri rata-rata mencapai Rp200 juta per pekan.

Semua ini adalah pencapaian yang luar biasa bagi Iis. Karena kesuksesan tersebut ia capai dengan kerja keras yang tidak main-main. Pasalnya, sebelum memulai usaha, Iis hanyalah ibu rumah tangga dengan kondisi ekonomi yang memperihatinkan.

Kondisi Iis yang serba kekurangan membuat banyak orang menyepelekannya, termasuk tak bisa mempercayainya. Bahkan hanya untuk sekedar meminjamkan uang.

AYO BACA : Nasabah Inspiratif btpn Syariah I: Berkah Celana Dalam

"Dulu orang-orang itu nggak percaya sama saya. Sampai saya pernah mau ikut program kredit pinjaman ditolak. Katanya, jangan diajakin kredit, karena saya pasti nggak bisa bayar cicilan" ujar Iis menceritakan masa lalunya.

Namun semuanya berubah saat Iis bergabung dengan program Pembiayaan Masa Depan (PMD) dari btpn Syariah. Karena dari sinilah Iis memperoleh kucuran dana untuk memulai usahanya

"Sebenarnya, saya bisa gabung ke btpn Syariah juga karena tidak sengaja. Kelompok PMD waktu itu kurang seorang, jadi saya diajakin," papar Iis sambil tertawa kecil.

Meski begitu Iis sangat bersyukur, karena ketidaksengajaan yang terjadi padanya malah membawa berkah. Dari pinjaman awal yang hanya senilai Rp2 juta, Iis memulai usaha dibantu suaminya

Dengan uang itu, ia membeli mesin obras dan kain sisa dari konveksi. Kain-kain tersebut ia kreasikan menjadi rok yang hanya dijual di sekitar rumah dengan harga Rp15 ribu sampai Rp20 ribu. Di luar dugaan, ternyata rok buatan Iis semakin disukai pembeli.

"Alhamdulillah banyak yang suka. Malah dulu sampai ada yang pengen banget beli rok saya, tapi dibayar pakai beras," kata Iis tersenyum.

AYO BACA : Industri Tekstil Kabupaten Bandung Terancam Produk Impor

Lama kelamaan Iis pun menambah varian produknya, seperti gamis, gaun, outer, dan berbagai pakaian perempuan dengan harga mulai dari Rp100 ribu sampai Rp160 ribu per kodi.

Sekarang Iis mampu memproduksi 500 potong pakaian perempuan setiap harinya. Penjualannya pun semakin luas. Mulai dari ke Cimahi, sampai akhirnya bisa tembus ke luar negeri seperti sekarang.

Dari usaha konveksi, Iis juga bisa menyekolahkan anak-anaknya. Bahkan anaknya yang pertama sudah lulus kuliah. Sementara anaknya yang kedua sedang menempuh pendidikan di Sekolah Penerbangan. Adapun anak ketiga dan keempat masih sekolah di SMP dan SD.

"Alhamdulillah, setelah bergabung dengan btpn Syariah cita-cita saya untuk menyekolahkan anak-anak tercapai," ungkap Iis. Bahkan saat ini cita-citanya untuk umrah juga bakal jadi kenyataan.

Iis terpilih menjadi nasabah inspiratif yang akan diumrahkan secara gratis pada November mendatang. Usaha yang semakin berkembang juga membuat Iis semakin dipercaya oleh btpn Syariah. Bahkan saat ini Iis dipercaya untuk mendapatkan pinjaman senilai Rp75 juta.

Meski sudah terbilang sukses, Iis tak mau berpuas diri. Ia bermimpi untuk membuka toko kain sendiri. Untuk mencapai cita-citanya tersebut Iis akan terus berusaha dengan moto BDKS khas nasabah btpn Syariah, yakni berani, disiplin, kerja keras, saling bantu.

"Sekarang persaingan usaha pakaian makin ketat, jadi saya harus mempertahankan kualitas produk. Jangan sampai pelanggan kecewa. Kita juga harus mau capek untuk meminimalisasi biaya. Seperti motong kain sendiri dan desain sendiri," ujar Iis penuh semangat.

AYO BACA : PTA RI-Mozambik Buka Perluasan Pasar Afrika

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers