web analytics
  

Nasabah Inspiratif btpn Syariah 1: Berkah Pakaian Dalam

Kamis, 10 Oktober 2019 10:32 WIB Rizma Riyandi

Proses pembuatan celana dalam di rumah Yeti Cahyati di Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (9/10/2019). (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

SOREANG, AYOBANDUNG.COM -- Berlusin-lusin pakaian dalam pria dan wanita tertumpuk di setiap sudut rumah Yeti Cahyati (53) yang terletak di Soreang, Kabupaten Bandung. Ada yang berwarna cerah, mulai dari merah muda hingga hijau, sampai yang bernada gelap seperti abu-abu dan coklat.

Sementara di bagian lain rumah, suara mesin khas usaha konveksi terus terdengar. Setidaknya ada lima karyawan yang tampak berkutat dengan mesin-mesin tersebut. Namun Yeti juga memiliki tiga karyawan yang dipekerjakan di luar rumah.

Usaha Yeti di bidang konveksi terbilang sukses. Pasalnya, saat ini ia sudah mampu memproduksi celana dalam sampai 1.300 potong sehari dan memasarkannya sampai ke luar daerah, di antaranya Cimahi, Jakarta, Surabaya, Palangkaraya, Nunukan, dan Bangka Belitung.

Bahkan, setelah dibantu sang anak, Ikbal Kurniawan (23), bisnis Yeti sudah bisa memasuki ranah bisnis digital. "Sejak 2016, tiga tahun lalu saya mulai membantu ibu jualan online," kata Ikbal saat ditemui di rumah Yeti, Rabu (9/10/2019).

Produk pakaian dalam dengan merk BHK (Baba Hideung Kaya) itu sudah bisa dibeli dengan mudah di berbagai platform e-commerce. Salah satunya di Shopee dengan akun Bos Grosiran dan Lazada dengan akun Fortune Song.

AYO BACA : Industri Tekstil Kabupaten Bandung Terancam Produk Impor

Keberhasilan Yeti pun didukung dengan kualitas produk yang bagus dan harga yang murah. Satu lusin pakaian dalam wanita dibanderol Rp65 ribu, sedangkan celana dalam pria Rp50 ribu.

Yeti mengaku, permintaan pasar terhadap pakaian dalam buatannya semakin tinggi. Bahkan Yeti dan Ikbal sering keteteran untuk memenuhi pesanan. Maka itu saat ini Yeti berusaha fokus untuk memenuhi pesanan dari reseler dengan model tertentu saja.

Dari hasil penjualan pakaian dalam, Yeti mampu meraup omset Rp20 juta setiap minggu. Dengan usaha ini, ia pun bisa membiayai kehidupan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.

Meski begitu, cerita sukses Yeti tidak terjadi secara instan. Awalnya ia hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Namun semenjak bergabung dengan program Pembiayaan Masa Depan (PMD) dari btpn Syariah, Yeti mulai memiliki kepercayaan diri untuk usaha.

"Awalnya saya dapat pinjaman dari btpn syariah hanya Rp1,5 juta," kata Yeti mengingat masa-masa awal menjadi nasabah btpn Syariah.

Dengan uang tersebut, Yeti mulanya berjualan gorengan, kemudian bolu pisang. Semakin lama, usahanya makin menguntungkan, hingga akhirnya Yeti memberanikan diri untuk membuka konveksi.

AYO BACA : API: Perjanjian Dagang Kerek Ekspor Tekstil ke Uni Eropa

Awal memulai usaha konveksi, Yeti membuat leging dan kerudung. Meski penjualannya cukup menguntungkan, Yeti merasa tak begitu maksimal memproduksi produk ini.

Kemudian Yeti pun memutuskan membuat pakaian dalam. Setelah dicoba, ternyata penjualan produk pakaian dalam jauh lebih sederhana dan menguntungkan. "Ya mungkin hokinya di pakaian dalam," papar Yeti. Oleh karenanya, Ia pun melanjutkan produksi pakaian dalam hingga sekarang.

Dibantu oleh suami dan anaknya, usaha konveksi Yeti pun semakin berkembang. Sejalan dengan itu, Yeti pun semakin dipercaya oleh btpn syariah dan mendapat pinjaman yang semakin besar.

"Sekarang pinjaman dari btpn ke saya Rp35 juta," ujar Yeti dengan wajah sumeringah.

Ia merasa sangat terbantu oleh btpn Syariah. Bahkan menurutnya, melalui program PMD yang dibuat secara berkelompok, nasabah mendapat bimbingan intensif tidak hanya dari segi keuangan, tapi juga membantu nasabah dari berbagai aspek kehidupan.

"Bagi saya, jadi nasabah btpn Syariah itu banyak manfaatnya. Kami (nasabah) juga diberi penyuluhan kesehatan, seperti cara mencuci tangan yang benar, mencegah kanker payudara, dan bahaya kegemukan," kata Yeti.

Yeti sangat bersyukur bisa menjadi nasabah btpn Syariah. Sebab dengan bantuan kredit btpn Syariah, Yeti akhirnya mampu meraih cita-citanya satu per satu.

"Alhamdulillah, semua cita-cita sudah tercapai. Tinggal satu lagi, saya pengen umrah. Mudah-mudahan bisa segera tercapai," ungkap Yeti sambil tersenyum.

AYO BACA : PTA RI-Mozambik Buka Perluasan Pasar Afrika

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers