web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Predikat Bandung Termacet Jadikan Motivasi Polisi Perbaiki Kinerja

Selasa, 8 Oktober 2019 19:37 WIB Faqih Rohman Syafei

Kasat Lantas Polrestabes Bandung, AKBP Bayu Catur Prabowo. (Faqih Rohman Syafei/Ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Kota Bandung disebut sebagai kota termacet di Indonesia disusul Jakarta dan Surabaya. Hal tersebut berdasarkan survei Bank Pembanguan Asia (Asia Development Bank).

Dalam survei tersebut Kota Bandung berada di peringkat 14 dari 24 kota termacet di Asia. Sedangkan Jakarta di peringkat 17 dan Surabaya peringkat 20.

Menanggapi hal tersebut Kasat Lantas Polrestabes Bandung, Kompol Bayu Catur Prabowo mengatakan survei tersebut menjadi 'cambuk' bagi pihaknya untuk bekerja lebih baik lagi, sehingga lalu lintas di Kota Bandung bisa lancar dan terbebas dari kemacetan. 

"Ini menjadi cambuk buat kami untuk lebih memperbaiki lagi bagaimana lalu lintas di Kota Bandung," ujarnya saat ditemui ayobandung di Mapolrestabes Bandung, Selasa (8/10/2019).

AYO BACA : Bandung Kota Termacet se-Indonesia, Ini Tanggapan Kadishub

Menurutnya, sejumlah indikator yang menjadikan Bandung sebagai kota termacet menjadi perhatiannya. Namun jika menilik dari segi infrastruktur jalan, tidak pernah bertambah sejak dulu sehingga wajar bila Kota Bandung sering macet. 

"Bandung dari dulu hingga saat ini, mungkin tidak banyak perubahan. Dari segi jalan tidak bertambah dari lebar dan panjangnya, artinya, jalan yang berubah itu hanya penambahan dari flyover Pasopati, flyover Antapani, dan penambahan lagi flyover Gatsu dan Jalan Jakarta," katanya.

Dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah volume kendaraan yang mencapai 9.000 unit pertahun, kata dia jalanan Kota Bandung kedepannya tidak akan mampu menampungnya. 

"Kalau indikator awalnya dari sisi jumlah, kalau dilihat dari indikator di awal tidak ada penambahan jalan maupun meningkatnya kendaraan jadi salah satu faktor," ucapnya.

AYO BACA : Bandung Jadi Kota Termacet, Kadishub Akui Terlalu Banyak Kendaraan Pribadi

"Bandung jadi macet juga karena tujuan wisata, baik di Kota Bandung mau pun perlintasan. Mau ke Lembang, banyak yang lewat Pasteur dari situasi tersebut bahwa dari setiap weekend sekitar 30 - 50 ribu kendaraan memasuki Kota Bandung. Weekend pasti macet, karena penambahan jumlah kendaraan signifikan," tambah Bayu.

Bayu menjelaskan upaya menekan kemacetan dengan angkutan massal tidak berjalan efektif. Tidak adanya transportasi terintegrasi dan memadai menjadikan penyebab masyarakat enggan menggunakan transportasi umum.

"Upaya untuk mengurai kemacetan adalah menggunakan sarana transportasi umum. Untuk menggunakan sarana transportasi umum itu sudah ada, tapi masyarakat belum sadar dan belum mencoba beralih," terangnya.

Dia menambahkan pihaknya terus berupaya membuat jalanan Kota Bandung lebih tertib aman lancar. Salah satunya, dengan rekayasa jalan di beberapa titik untuk mengurai kemacetan serta mensosialisasikan masyarakat untuk terti lalu lintas.

"Upaya lainnya kita melakukan penegakan hukum kaitannya dengan ruas jalan yang digunakan untuk parkir dan itu akan dimaksimalkan untuk berlalu lintas," pungkasnya.

AYO BACA : Pengamat Nilai Pemkot Bandung Belum Serius Benahi Transportasi Publik

Editor: Dadi Haryadi

artikel lainnya

dewanpers