web analytics
  

Soes Kering Enase Terinspirasi Permintaan Konsumen Luar Kota

Selasa, 8 Oktober 2019 10:36 WIB Andres Fatubun

Soes kering Enase.

CIMAHI, AYOBANDUNG.COM -- Sebuah ide memang bisa muncul dari mana saja tak terkecuali dari konsumen. Hal yang sama terjadi dengan Giri sebagai UMKM pembuat kue keringan lebaran dan kue soes basah.

ayobandung-dukung-umkm

“Awalnya sih ambil bisnis kue keringan lebaran saja. Soalnya memang sudah berjalan tahun ke empat. Hingga kurang lebih setahun ini saya coba menekuni kue soes basah”, jelasnya pada ayobandung Senin (7/10/2019) sore.

Untuk pertama memulainya ia mendapat resep kue soes dari temannya hingga akhirnya dieksekusi olehnya. Ia menuturkan kue soes merupakan peluang karena tidak begitu banyak orang-orang yang membuat kue tersebut.

Pemasaran pertama untuk kue soes adalah dengan cara sistem konsinyasi ke toko-toko sekitar rumahnya. Namun risikonya besar karena kekuatan produk yang hanya bisa bertahan selama satu hari. Sehingga dirinya mengubah sistem pemasaran dengan open order melalui media online.

Karena memang target pemasarannya berada di media sosial tentu saja konsumen tidak hanya di dalam kota saja tapi banyak juga yang meminta dari luar Kota. Sehingga ia menyiasati untuk membuat produk yang bisa bertahan lama.

“Awalnya ada konsumen dari Kuningan yang meminta produk soes basah tapi saya tolak karena memang kan barangnya juga cuman bisa bertahan selama satu hari. Akhirnya saya terinspirasi bikin keringannya” ungkapnya.

Faktor kompetitor yang belum banyak bisa menjadi peluang baginya untuk mendapatkan hasil yang jauh dari ekspektasi. Bahkan hal tersebut bisa menyaingi kue keringan lebaran yang lainnya.

Sampai saat ini kue soes kering ini terdiri dari tiga varian rasa di antaranya original, keju dan green tea.

Harga untuk 100 gram di jual dengan Rp17.000 sedangkan untuk 1 kg dibanderol Rp120.000.

Hambatan dari pembuatan kue soes kering ini adalah bagaimana cara menemukan waktunya yang pas agar pada saat kue sudah matang tidak kembali lagi bantat. Giri mengakui memang hal ini pada awalnya sulit bahkan sampai dirinya sempat menyerah untuk tidak melanjutkan bisnis tersebut.

“Mana dari sekian ratus itu sebagiannya bagus dan sebagian tidak dan saya bingung mau digimanain ini. Memang ya harus siap menerima complain dari konsumen tapi jadi banyak belajar” paparnya.

Namun dibalik kesulitan ini justru berbuah berkah bagi orang lain. Tingkat kesulitan dalam pembuatan soes justru membutuhkan banyak orang yang terlibat. Sehingga Giri bisa memberdayakan lebih banyak ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Selain itu juga dirinya ingin bisa merekrut orang-orang yang bisa mumpuni dibidang online untuk bisa membantu menumbuhkan bisnisnya.

Untuk penamaan kueh soes kering "Enase" ternyata memang punya sejarah tersendiri.

“Saya kan dapat support modal dari kakak saya dalam bentuk kerja sama. Beliau juga punya perusahaan dengan nama Enase. Kemudian kakak meminta untuk melanjutkan nama produk saya dengan Enase. Setelah saya tanya apa kepanjangan dari Enase itu ternyata enak sekali dan saya pikir baru oh iya yah enak sekali artinya,” jelasnya sambil tertawa.

Modal awal untuk merintis kue soes ini adalah sebesar 5 juta ini sudah termasuk bahan dan alat. Kini untuk omzet rutin perbulannya bisa menghasilkan sekitar Rp4 juta. Namun saat lebaran penghasilnnya melonjak tajam hingga Rp50 juta.

Untuk yang tertarik dengan produk ini bisa dilihat informasinya di akun instagram @suskering.enase atau bisa tanya-tanya di nomor whatsapp 083174522254. (Dias Ashari/magang)

 

Editor: Andres Fatubun
dewanpers