web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Bandung Kota Termacet se-Indonesia, Ini Tanggapan Kadishub

Senin, 7 Oktober 2019 15:41 WIB Faqih Rohman Syafei

Kemacetan di Kota Bandung. (Kavin Faza/Ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Survei Bank Pembanguan Asia (Asia Development Bank) menyebutkan bahwa Kota Bandung adalah kota termacet di Indonesia daripada Jakarta maupun Surabaya. Kota Bandung berada di peringkat ke-14 dari 24 kota termacet di Asia. 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung EM Ricky Gustiadi menilai, survei yang dilakukan ADB hanya membandingkan dari satu aspek saja, tidak secara keseluruhan.

"Setelah saya pelajari kajian dari ADB indikator parameter variabel yang dibandingkan hanya dominan ketersediaan angkutan massal," ujarnya saat dihubungi Ayobandung.com, Senin (7/10/2019).

AYO BACA : Tips Menghindari Kemacetan di Jalan Jakarta-Supratman

Menurutnya, aspek-apsek pendukung lainnya seperti indikator level of service, waktu tundaan, panjang antrean, waktu tempuh, dan konsumsi bahan bakar harus menjadi pertimbangan. Dengan begitu, survei tersebut bisa lebih akurat hasilnya. 

"Tetapi untuk indikator level of service, waktu tundaan, panjang antrean, waktu tempuh, konsumsi bahan bakar, dan pengurangan polutan gas buang ramor tidak dilakukan survei detail karena itu terlalu umum sebagai indikator pembandingnya," katanya.

Dia mengatakan, untuk mengatasi kemacetan, pihaknya tengah mengembangkan sistem angkutan umum massal di Kota Bandung. Sistem ini memerlukan anggaran mencapai triliunan, sedangkan Pemkot Bandung memiliki keterbatasan anggaran.

AYO BACA : Akibat Macet, Puncak Bogor Dicoret dari Destinasi Wisata Nasional

"Mencari pola kerja sama dengan badan usaha (KPBU) atau investasi tidak mudah. Kita punya buku Bandung urban mobility project detail dijelaskan rencana pembangunan transportasi di Kota Bandung," ucapnya. 

Sistem tersebut bertujuan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi oleh masyarakat sehingga berdampak pada pengurangan angka kemacetan di Kota Bandung.

"Jumlah pertumbuhan kendaraan (kepemilikan kendaraan pribadi) cukup tinggi dibanding jumlah pertumbuhan pembangunan infrastuktur jalan, artinya masih didominasi penggunaan kendaraan pribadi dibanding menggunakan angkutan umum rasio masih 80%:20%. Jadi, wajar sangat mempengaruhi kemacetan," katanya. 

Ricky, menambahkan, solusi mengatasi kemacetan sudah tertuang dalam rencana strategis Dishub Kota Bandung periode 2018-2023.

"Dishub dalam RPJMD dan Restta Dishub Kota Bandung target kinerjanya untuk 2018-2023 harus mencapai 25% yang menggunakan angkutan umum dari seluruh masyarakat dalam melakukan mobilitas setiap harinya," tambahnya.

AYO BACA : Atasi Macet, Pemkot Bandung Siap Buat Jalan Layang Baru

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers