web analytics
  

Roket Seblak Berdayakan IRT dan Jadi Bekal Jemaah Umrah

Rabu, 2 Oktober 2019 16:08 WIB Andres Fatubun

Roket Seblak sampai ke Bandar Udara Schiphol Amsterdam. (@afgandi)

CIMAHI, AYOBANDUNG.COM -- Orang cerdik memang mampu melihat peluang dari permasalahan orang lain. Begitu pula dengan Roket Seblak yang diciptakan Saiful Adnan pada 2012.

Whats-App-Image-2019-10-02-at-10-42-23

Seblak memang dikenal di masyarakat sebagai makanan berupa campuran kerupuk, makaroni, mi, tulang, basreng bahkan telor dengan racikan bumbu yang super pedas. Ketahanan makanan ini sendiri memang tidak lama karena penyajiannya pun lebih nikmat disantap selagi panas.

Saat orang lain berpikir seblak disajikan dalam keadaan basah justru Adnan malah berpikir sebaliknya. 

Berawal dari rasa empatinya ketika melihat jemaah travel umrah yang tidak bisa menikmati makanan karena rasa yang agak berbeda dengan hidangan Indonesia. Maka dari itu, diciptakanlah seblak dalam keadaan kering.

“Ketika itu koq jemaah tidak bisa menikmati rasa ketika pergi umrah. Ya seperti yang kita tahu makanan yang dihidangkan agak sedikit berbeda. Nah ketika saya bikin seblak itu kemudian saya bawa ke jemaah umrah itu menjadi menemani gurihnya makanan,” ujarnya kepada ayobandung, Selasa (01/10/2019) siang.

Setelah mendapat respons yang baik dari jemaah akhirnya roket seblak dibuat secara masif. 

Namun karena kesibukannya saat itu pembuatan roket seblak sempat tidak tertangani. Sampai pada akhirnya munculah sebuah ide untuk memberdayakan SDM yang tinggal di dekat rumah produksi.

“Saya lihat di sekitar rumah itu banyak ibu-ibu yang pengangguran. Lantas saya berpikir bagaimana caranya saya karyakan ibu-ibu itu karena kelihatannya cuman ngobrol aja. Sampai pada akhirnya saya coba ajarkan formulasinya, cara membuat bumbunya, dan teknik menggorengnya,” jelasnya panjang lebar.

Setelah karya dari ibu-ibu itu dipasarkan kepada jemaah umrah Sidiq Amanah Tour. Munculah obrolan dari mulut ke mulut hingga saat itu permintaan semakin meningkat di luar jemaah.

Penamaan dalam suatu produk seringkali menjadi sebuah doa yang diharapkan pemiliknya. Begitu pun dengan kata Roket yang ada dalam seblak tersebut. Pebisnis memiliki misi ingin memberdayakan masyarakat, sehingga kata roket ini mewakili keinginannya agar produk seblak tersebut bisa mendunia.

Hal tersebut ternyata terbukti ketika ada salah satu pelanggan yang senang pelesiran dan ia membawanya sampai ke Amerika Serikat. Bahkan teman pembisnis yang berada di luar negeri pun ikut penasaran seperti apa rasa dan bentuk seblak itu.

Bisnis yang berawal dengan modal Rp50.000 kini sudah bisa memproduksi sekitar 10 kg kerupuk dalam seminggu. Untuk memaksimalkan pemasarannya pemilik memasukan produk tersebut ke market place Blibli.com.

Satu bungkus Roket Seblak dijual dengan harga eceran Rp15.000. Produk ini terdiri dari 3 level rasa yang berbeda yaitu gagal pedas khusus yang tidak suka pedas, pedas minimal dan pedas maksimal. Bahkan ada satu varian lagi yang dibuat tanpa tambahan MSG namun rasanya tetap gurih.

“Mulanya saat itu saya ada orderan ke kantin RS Jantung Harapan Kita di Jakarta. Nah karena kan kita tidak bisa pungkiri bahwa mecin itu atau MSG masih kontroversi ada yang membolehkan ada yang engga, tapi saya memfasilitasi saja yang memang tidak suka mecin. Akhirnya kita bikin formulasinya dari rempah-rempah, garam dan gula sehingga non- MSG tapi gurihnya tetap dapet” jelasnya.

Proses pembuatannya sendiri memang tidak semudah yang dibayangkan. Perlu skil dan teknik tertentu untuk menghasilkan bentuk kerupuk yang sempurna.

Bahan kerupuk yang digunakan berasal dari penjual yang ada di pasar, sedangkan untuk jenisnya kerupuk Palembang adalah yang paling diminati konsumen. 

Sebetulnya dari segi bumbu, mirip sekali dengan seblak basah pada umumnya. Namun pemilik memformulasikannya agar bumbu tetap kering hingga kualitas kerupuk tetap terjaga. Seblak yang sudah diproduksi bisa tahan selama 6 bulan. Namun masalah kualitas jangan khawatir karena di bawah 3 bulan saja produk ini sudah habis terjual.

Sebagai pemilik, tentunya Adnan memiliki harapan agar UMKM-nya ini bisa lebih masif lagi dengan dibuatnya industri yang lebih besar dan lebih banyak memberdayakan masyarakat sekitar.

“Sekarang sudah ada lima orang ibu-ibu. Namun justru itu tadinya saya mau bikin masif mau dibikin skala industri beneran gitu dan ibu-ibu yang lain sudah banyak yang minta kerjaan. Nah sekarang saya mau memaksimalkan. Insya Allah sebelum tahun ini kita akan coba tingkatkan pemasaran,” ungkapnya. (Dias Ashari/magang)

Editor: Andres Fatubun
dewanpers