web analytics
  

Belajar ‘Mbatik’ di Ibu Kota Batik

Rabu, 2 Oktober 2019 09:06 WIB Netizen Netizen
Netizen, Belajar ‘Mbatik’ di Ibu Kota Batik, Belajar, Mbatik, Ibu Kota, Batik,

Solo Batik Carnival, (Djoko Subinarto)

Melancong ke Kota Solo, Jawa Tengah, agaknya kurang lengkap bila tidak menyambangi sejumlah tempat yang menjadi sentra kain batik. Setidaknya ada beberapa kawasan batik yang wajib dikunjungi oleh wisatawan di kota seluas 44 kilometer persegi dan kini sering dijuluki sebagai ibukotanya batik ini.

Satu di antaranya adalah Kampung Batik Kauman. Di Kauman, para pelancong bukan hanya bisa berbelanja aneka produk batik, tetapi juga dapat mengetahui secara langsung ihwal proses pembuatan kain batik. Jika berminat, pelancong juga bisa mencoba sendiri mbatik alias membuat kain batik dengan jalan dipandu oleh seorang instruktur.

Berdasarkan sejarah, warga Kampung Kauman awalnya berprofesi sebagai abdi dalem. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, sebagian besar dari mereka kemudian lebih memilih menjadi pedagang dan pengusaha batik.

AYO BACA : Yuk Kunjungi Pusat Batik De’ Bhagasasi di Bekasi

Produk utama batik Kampung Kauman adalah batik pakem, yaitu batik klasik yang memunyai makna filosofi pada setiap motifnya. Di samping menyajikan berbagai produk batik, Kampung Batik Kauman juga menyuguhkan nuansa bersejarah berupa sejumlah bangunan kuna bermodel joglo, limasan, dan kolonial.

Selain kampung Kauman, kampung lain yang menjadi sentra batik di Solo adalah Kampung Laweyan. Kampung ini dialiri oleh Sungai Kabanaran, yang di masa silam berfungsi sebagai jalur lalu-lintas perdagangan para saudagar batik.

Awalnya, Kampung Laweyan merupakan sentra kapas dan kain tenun. Aktivitas membatik dimulai tatkala kampung ini kedatangan seorang keturunan Raja Brawijaya V yang bernama Ki Ageng Henis. Ki Ageng Henis inilah yang memperkenalkan dan mengajari para penduduk Laweyan teknik-teknik membuat batik cap maupun batik tulis.

AYO BACA : Ribuan Pelajar Cirebon Pecahkan Rekor Membatik Mega Mendung

Terdapat ratusan perajin batik di Kampung Laweyan saat ini. Sebagaimana halnya di Kampung Kauman, para wisatawan yang berkunjung ke Kampung Laweyan bukan hanya bisa berbelanja aneka produk batik dan melihat proses membuat batik, tetapi juga berkesempatan belajar langsung serta mencoba sendiri bagaimana membuat kain batik.

Museum dan karnaval

Wisatawan yang ingin lebih memperdalam pengetahuannya seputar batik, dapat meluangkan waktu untuk mampir ke Museum Batik Danar Hadi. Museum yang berlokasi di Jalan Slamet Ryadi, Solo, dan diresmikan pada tanggal 20 Oktober 2000 oleh Megawati Soekarno Putri,--waktu itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI--mengoleksi sebanyak 10.000 helai kain batik sehingga menjadikan museum ini sebagai museum dengan koleksi kain batik terbanyak di dunia.

Khusus untuk pecinta dan penikmat mode kontemporer, jangan lewatkan pagelaran busana serba batik tahunan yang dikemas dalam acara Solo Batik Carnival. Pameran busana serba batik ini digelar setiap pertengahan tahun dengan menampilkan aneka kreasi model busana batik yang dibawakan oleh para peragawati dengan konsep fashion carnival.

Dengan konsep tersebut, ratusan peragawati berlenggak-lenggok memamerkan aneka model busana batik dalam sebuah karnaval di jalanan Kota Solo. Sejak dihelat pertama kali tahun 2008, Solo Batik Carnival senantiasa mendapat sambutan meriah dari para pelancong, baik pelancong domestik maupun pelancong mancanegara. Acara karnaval tahunan yang menonjolkan kain batik ini seolah makin mengukuhkan Solo sebagai ibukotanya kain batik.

Djoko Subinarto

AYO BACA : Menumbuhkan Kecintaan Terhadap Batik Melalui Fasion Show

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers