web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Dinkes: Angka Stunting di Kabupaten Tasikmalaya Capai 33,8%

Jumat, 27 September 2019 11:34 WIB Irpan Wahab Muslim

Ilustrasi -- Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita saat kegiatan Posyandu balita. (ANTARA FOTO/Maulana Surya)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan dan Pengedalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya Dadan Hamdani mengungkapkan, angka stunting di Kabupaten Tasikmalaya cukup tinggi. Hingga memasuki akhir September 2019 ini, jumlahnya mencapai 33,8% dari sebelumnya sebesar 41,73% pada 2013.

"Memang angka stunting di kita masih tinggi, namun untuk penanganannya telah kita upayakan dari tahun ke tahun. Kita lakukan perbaikan gizi sampai bayi lahir umur 2 tahun," kata Dadan kepada wartawan, Kamis (26/9/2019).

AYO BACA : APBD Kabupaten Tasik Tak Alokasikan Dana Rehab Sekolah

Dadan menambahkan, dari 39 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya, terdapat 2 kecamatan  yang angka stuntingnya tinggi, di antaranya Kecamatan Salawu dan Kecamatan Sukarame. Dari masing- masing kecamatan itu terdiri dari 5 desa dengan angka stunting di atas 30%.

"Selain terdapat 10 desa di 2 kecamatan tadi, di Kabupaten Tasikmalaya juga terdapat kurang lebih 185 desa yang angka stuntingnya di atas 20% dan ada 85 desa yang stuntingnya diatas 30%," kata Dadan.

AYO BACA : Peternak Ayam Tasik Tolak Pasal 278 dalam RKUHP

Data ini, kata Dadan, didapat berdasarkan hasil data bulan penimbangan balita pada Februari 2019. Pada bulan itu dilakukan penimbangan pada seluruh balita. Upaya tersebut dilakukan agar menekan angka maupun tidak menghasilkan anak-anak yang stunting.

Pihaknya pun telah melakukan upaya dengan pemberian tablet tambahan pada remaja putri. "Kita juga telah melakukan pembinaan kepada calon pengantin yang tentunya bekerja sama dengan Kemenag serta PAUD Kabupaten Tasikmalaya," ucap Dadan.

Menurutnya, penanganan stunting membutuhkan waktu yang cukup lama dan jangka panjang. Pasalnya berbeda dengan penanganan gizi. Oleh sebab itu, ia berharap jangan sampai ada lagi dan muncul balita-balita stunting.

"Kita dari Dinas Kesehatan berharap 4 tahun ke depan, atau tahun 2023 bebas stunting," harap Dadan.

Dadan mengatakan, sebagai bentuk regulasi komitmen dan legalitas bersama dengan semua unsur, pihaknya telah membentuk tim penanganan stunting baik di tingkat Kabupaten, Kecamatan maupun Desa.

AYO BACA : Kakak Beradik di Tasik Tetap Berkarya Meski Derita Strok

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers