web analytics
  

Gaya Hidup 'Zero Waste' Tak Sekadar Sedotan Stainless

Kamis, 26 September 2019 11:47 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, Gaya Hidup 'Zero Waste' Tak Sekadar Sedotan Stainless, toko organis, toko organis bandung, belanja barang organik, toko organik di bandung, belanja di bandung

Seorang petugas tengah berjaga di Toko Organis, penyedia kebutuhan hidup sehari-hari berkonsep isi ulang ramah lingkungan di Bandung. (ayobandung.com/Nur Khansa)

CIBEUNYING KALER, AYOBANDUNG.COM---Saat ini, gaya hidup zero waste atau bebas sampah mulai banyak didengungkan di media sosial. Gaya hidup tersbeut mengedepankan minimalisasi sampah dalam kehidupan sehari-hari, bahkan hingga mencapai nihil sampah.

Seiring dengan populernya gerakan ini yang perlahan menjelma tren, banyak pula peralatan penunjang gaya hidup zero waste yang diburu oleh masyarakat. Salah satunya adalah sedotan alternatif pengguna plastik yang terbuat dari stainless steel.

Tren penggunaan sedotan ini belakangan menjamur, terutama di kalangan anak muda kota-kota besar tak terkecuali Bandung. Namun, gaya hidup zero waste sesungguhnya tak terbatas pada hal tersebut.

"Sekarang banyak anggapan muncul bahwa dengan hanya membawa tumbler minuman atau sedotan stainless sudah mengusung zero waste, padahal pe-er menuju gaya hidup tersebut masih banyak," ungkap humas Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) Bandung, Sri Wulandari ketika ditemui Ayobandung.com belum lama ini.

AYO BACA : Aa Gym Luncurkan Pupuk Organik

Sebagai pihak yang telah lama bergelut mensosialisasikan gerakan zero waste, Sri mengatakan, pengertian mengenai gaya hidup tersebut sendiri beragam. Baginya, inti dari zero waste adalah kembali kepada gaya hidup masyarakat terdahulu yang serba memanfaatkan sumber daya alam sekitar untuk menunjang keperluan hidup sehari-hari.

"Sebetulnya bagus sih jadi tren, tapi pemahaman yang kami pegang adalah gaya hidup yang kembali lagi ke zaman dulu. Lebih alami dan dekat dengan alam," ungkapnya.

Dia mencontohkan, hal tersebut seperti memanfaatkan dan pisang yang tersedia di dekat rumah untuk makan alih-alih harus membeli peralatan makan di tempat lain. Atau, memanfaatkan tumbuhan tertentu sebagai bumbu masak.

"Pakai yang tersedia sedekat mungkin dengan kita, manfaatkan yang alami. Memakai produk alami ini siklusnya tertutup, artinya tak ada yang terbuang menjadi sampah di TPA karena bisa diurai lagi di alam," jelasnya.

AYO BACA : Pemkab Garut Bakal Sediakan Peralatan Tanggulangi Sampah

Selain itu, dia mengatakan, prinsip tersebut juga dapat mengurangi emisi gas yang dihasilkan setiap orang ketika berkendara menggunakan kendaraan bermotor.

"Orang lama dahulu memang memperhitungkan agar tak perlu ada perjalanan jauh," ungkapnya.

Mulai dari berhemat

Bila ingin memulai hidup zero waste, Sri mengatakan, selain dapat dimulai dari membawa tumbler wadah minum dan sedotan stainless tersebut, hal yang dapat menjadi lebih efektif juga bisa dilakukan lewat meminimalisasi pembelanjaan makanan atau barang dengan kemasan di toko-toko maupun pasar.

"Kalau mau jalan-jalan bisa bawa makanan dari rumah, atau benar-benar berpikir apakah kota membutuhkan sesuatu tersbeut atau hanya ingin. Jangan sampai membeli tumbler minum hanya karena kemasannya yang lucu padahal di rumah masih ada benda berfungsi sama," jelasnya.

Selain itu, membiasakan berbelanja dengan daftar belanjaan dan membawa wadah yang diperlukan untuk masing-masing barang juga perlu dilakukan. Pasalnya, hal ini dapat menanamkan kebiasaan mengurangi sampah mulai dari tidak membeli barang yang tidak diperlukan (yang akhirnya kerap berujung menjadi sampah).

"Kalau mau berbelanja ke pasar, bisa bikin daftar belanjaan dulu, kemudian disiapkan wadahnya untuk membawa belanjaan tersebut. Intinya perencanaan," jelasnya.

AYO BACA : Kabupaten Bandung Produksi 131.759 Ton Padi Organik Per Musim Panen

Editor: Rizma Riyandi
dewanpers