web analytics
  

Menyelamatkan Kawasan Konservasi Lewat JABAR USIK

Minggu, 22 September 2019 09:32 WIB Rizma Riyandi
Bandung Raya - Bandung, Menyelamatkan Kawasan Konservasi Lewat JABAR USIK, sunda, kawasan konservasi, budaya sunda, urang sunda

Ilustrasi

COBLONG, AYOBANDUNG.COM--Yayasan Kabuyutan Sri Sunda bersama Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Barat melakukan penandatanganan MoU atau Nota Kesepahaman dibidang pendidikan, pengembangan kapasitas masyarakat berbasis budaya Kabuyutan. Acara ini dilakukan berbarengan dengan dilangsungkannya acara ulang tahun FK3I yang ke-25 di Ciwidey yang dihadiri oleh berbagai komunitas.

Dalam penandatanganan ini Yayasan Kabuyutan Sri Sunda menggulirkan program bernama 'JABAR USIK' dalam rangka untuk memulihkan dan menyelamatkan ekosistem kawasan konservasi yang sudah rusak dan terancam rusak melalui peningkatan kapasitas dan pendampingan masyarakat.

Ketua Pelaksana JABAR USIK A. Juliana mengatakan program ini akan dilakukan tahun ini hingga 2030 di sekitar kawasan-kawasan konservasi di Jawa Barat. Sebagai upaya penyelamatan hutan di Jabar yang kondisinya saat ini memprihatinkan. Menurut A. Juliana sasaran program dan gerakan ini ditujukan untuk meningkatkan sinergi para pemangku kepentingan dan masyarakat di sekitar kaki gunung (hutan) dan pemerintah.

A. Juliana menjelaskan ada lima langkah untuk program 'Jabar Usik' ini, yaitu inventarisasi nilai budaya konservasi, edukasi dan peningkatan kapasitas, pendampingan terhadap masyarakat dan juga rehabilitasi kawasan hutan konservasi di sekitar kaki gunung, penguatan kelembagaan masyarakat kabuyutan) sekitar hutan/gunung dan pendirian pusat-pusat kegiatan belajar masyarakat berbasis budaya (dalam rangka upaya konservasi dan pengurangan resiko bencana.
Kabuyutan adalah upaya revitalisasi nilai lama seiring dengan berkembangnya paradigm baru di kalangan masyarakat internasional, dimana hal ini terungkap dalam sebuah ide tentang “masyarakat berbasis ilmu pengetahuan” atau lebih dikenal sebagai Knowledge based society (KBS).

Lebih jauh, UNESCO malah telah mencantumkan hal tersebut dalam laporannya segera setelah pencapaian fase pertama dari World Summit tentang masyarakat Informasi, yaitu mengenai masyarakat berbasis ilmu pengetahuan untuk semua. Sebuah harapan dan sekaligus sebuah tantangan bagi badan dunia tersebut.

Kabuyutan sebagai masyarakat berbasis ilmu pengetahuan tersebut merupakan masyarakat yang sangat ideal menurut Pembina yayasan Kabuyutan Sri Sunda, Vega Karwanda, dalam rangka membangun masyarakat yang memiliki tingkat peradaban yang tinggi. Lebih jauh lagi pemikiran dan budaya sunda telah memperkenalkan sebuah masyarakat ilmu pengetahuan yang didasari oleh nilai-nilai kasih sayang atau sulih asih.

Kearifan sunda memberikan syarat tambahan yang harus bisa dilengkapi oleh masyarakat berbasis ilmu pengetahuan tadi, yaitu bahawa masyarakat berbasis ilmu pengetahuan juga harus memiliki kemampuan untuk bisa mencintai sesamanya, yaitu dibarengi dengan nilai-nilai Silih Asih demikian menurut inisiator Jabar USik, Vega Karwanda.

Editor: Rizma Riyandi
dewanpers