web analytics
  

Setahun Oded-Yana: Birokrasi dan Tata Kota, Pengamat Beri Nilai Empat

Jumat, 20 September 2019 15:28 WIB Nur Khansa Ranawati

Pembangunan jembatan layang di Jalan Jakarta. (Nur Khansa Ranawati/ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Dalam satu tahun pemerintahan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung, Oded M. Danial dan Yana Mulyana, terdapat beberapa kebijakan yang dilaksanakan dalam bidang transportasi dan tata kota.

Dua hal terbaru adalah perubaan arus lalulintas di sekitaran Jalan Sukajadi serta pembangunan flyover di Jalan Jakarta-Supratman dan Jalan Laswi-Pelajar Pejuang bekerj asama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan pihak swasta.

Menanggapi hal ini, pengamat kebijakan dan perencanaan tata kota, Frans Ari Prasetyo menilai Oded-Yana masih belum mampu melaksanakan kebijakan tata kota hingga pembangunan infrastruktur dengan didahului kajian yang matang.

Dia melihat rekayasa lalin Sukajadi dan pembangunan flyover hanya trial-error semata, tidak didasari dengan komparasi hasil dari kebijakan sebelumnya. Bila tak dikaji maksimal, hal ini dinilai akan berdampak pada kerugian tak hanya di tingkat anggaran, namun juga ekologis hingga sosiologis warga.

"Harus ada komparasi dulu dengan yang sebelumnya, seperti flyover Antapani. Apakah flyover Antapani itu dianggap berhasil mengurai kemacetan, atau tidak sama sekali? Kalau ternyata gagal ya ngapain diulangi lagi dengan flyover baru. Kalau hanya gimmick pembangunan saja, buat apa," ungkapnya ketika dihubungi Ayobandung.com, Jumat (20/9/2019).

Kalaupun pembangunan tersebut harus dilakukan, Frans mengatakan tentunya harus disertai dengan pembenahan di beberapa hal yang sebelumnya dianggap sebagai kekurangan. Selain itu, ekses yang dihasilkan seperti kemacetan dan hal lainnya juga harus sudah bisa diantisipasi sebelum pembangunan dimulai.

AYO BACA : Setahun Oded-Yana: Menambahkan Program Agamis dalam Misi

Hal serupa juga berlaku untuk rekayasa lalin di Jalan Sukajadi dan sekitarnya. Dampak yang diakibatkan sebelumnya harus dapat ditanggulangi secara maksimal, terutama apabila rekayasa lalin tersebut ternyata pada akhirnya tak berjalan mulus dan harus dikembalikan seperti semula.

"Ada hal yang warga alami, akan ada biaya-biaya yang tidak diperhitungkan, harus ada kompensasi itu. Kritik saya mungkin harus dikaji juga faktor-faktor yang mendukung rekayasa itu. Trasportasi umum malah jadi sulit, karena terpaksa membuat rute baru, memusingkan," ungkapnya.

Frans mengatakan, dia menilai penambahan infrastruktur jalan dan rekayasa arus lalu lintas bukanlah solusi yang mengakar untuk mengurangi kemacetan dan kepadatan lalu lintas. Malahan, bila infrastruktur jalan ditambah, hal tersebut dianggap berpotensi mendorong penambahan kendaraan pribadi baru karena merasa terfasilitasi.

"Saya tidak terlalu suka dengan kebijakan penambagan infrastruktur karena akan membuat beban kota secara ekologis dan sosiologis bertambah. Infrastruktur bertambah juga bisa jadi malah menambah kendaraan pribadi," ungkapnya.

Dia menilai, anggaran yang dikeluarkan untuk penambahan infstruktur jalan atau hal lain yang bersifat memafasilitasi kendaraan pribadi sebaiknya dialihkan untuk membenahi transportasi publik. Angkot, misalnya, sejak lama tidak pernah dikaji ekfetivitas rute trayeknya hingga revitalisasi mobil.

"Seharusnya dananya untuk transportasi publik, jadi rekayasa transportasi publik. Angkot dari 1970-an sampai sekarang tidak pernah ada skenario perubahan sistem trayeknya. Padahal angkot bisa mengakses hampir semua titik-titik padat pemukiman di Kota Bandung. Seharusnya dibuat bagaimana angkot ini beroperasi lebih efisien, trayek tidak menumpuk di satu jalan, dan sebagainya," paparnya.

AYO BACA : Setahun Oded-Yana: Meletakkan Pondasi untuk Kota Bandung yang Lebih Baik

Sekadar 'Main Aman'

Sementara itu, Frans pun menilai pemerintahan Oded-Yana sekedar ikut arus dan belum memiliki ide yang progresif. Oded dinilai cukup kesulitan untuk meneruskan hasil-hasil pembangunan wali kota sebelumnya, Ridwan Kamil (RK) yang kebanyakan bersifat spontan.

"Saya tidak tahu apakah memang pada waktu itu program-program RK memang tidak ada dalam prosedur birokrasi atau RPJMD, sehingga terkesan dilakukan spontan terus. Spontanitas ini yang memang sulit diikuti Oded karena dirinya tidak seperti itu," ungkapnya.

Kebijakan-kebijakan yang bersifat populis, Frans menilai beberapa kali dikeluarkan Oded-Yana, namun nilai urgenisnya dinilai masih minim dan hanya membangkitkan euforia sementara.

"Beberapa kali Oded melakukan manuver seperti ingin bersikap spontan seperti membuat Palestina Walk, tapi di sisi lain juga tujuan urgent untuk membuat itu apa? Oded juga baru-baru ini ingin membuat kebijakan bahwa Bandung itu muslim friendly, apakah selama ini Bandung tidak ramah muslim? Agenda-agenda ini berbeda dengan RK, tapi tetap dia ingin menimbulkan euforia populis," ungkapnya.

Terkait pemeliharaan infratruksur 'peninggalan' RK, Frans menilai hal ini menjadi hal yang cukup dilematis mengingat pada saat itu, RK banyak membangun taman melalui dana pihak ketiga, seperti CSR yang boleh jadi skema pemeliharaannya tidak terdapat di alokasi APBD kota.

"Akhirnya banyak taman yang menjadi kotor tak terawat. Kita enggak bisa menyalahkan Oded sepenuhnya untuk ini, karena dia punya kewenangan untuk menentukan skema maintenance-nya. Bisa jadi karena tidak termaktub di RPJMD, tidak ada anggarannya, atau ya bisa juga tidak mau melakukan itu (pemeliharaan)," ungkapnya.

Hingga, secara umum, Frans memberi nilai angka 4 dari skala 10 untuk setahun kinerja Oded-Yana. Hal ini mempertimbangkan belum ada perubahan menuju kebaikan yang terasa, dan malah terkesan ada kemunduran dari sisi birokrasi dan good governance.

"Hanya 4, karena tidak ada perubahan sama sekali dan tata cara birokrasi malah ada kemunduran. Suka ataupun tidak, RK pada saat ini memberi skema pemerintahan yang baik, minimal tidak melanggar aturan. Kalau Oded-Yana ini mirip di jaman Dada Rosada. Tidak progresif, tidak ada perubahan yang besar ataupun kecil. Main aman saja," ungkapnya.

AYO BACA : Setahun Oded-Yana Hasilkan 134 Penghargaan

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers