web analytics
  

Bikin Film Jangan Sekadar Ingin Beda dan Cari Tenar

Selasa, 10 September 2019 16:19 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, Bikin Film Jangan Sekadar Ingin Beda dan Cari Tenar, seni budaya, membuat film, bikin film, studi film

Kuliah umum Program Studi Film dan Televisi Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI) bertajuk 'Potensi Perfilman Indonesia dalam Industri Kreatif' di Auditorium FPSD UPI Bandung, Selasa (10/9/2019). (ayobandung.com/Nur Khansa)

SUKASARI, AYOBANDUNG.COM--Banyak pertanyaan yang muncul di benak para calon sineas muda ataupun para mahasiswa jurusan perfilman tentang cara membuat film yang baik. Apakah harus mengikuti selera pasar, atau harus terlebih dahulu mengidentifikasi keunikan diri sehingga karya yang lahir memiliki sentuhan orisinalitas.

'Kegalauan' di atas salah satunya dapat ditarik benang merahnya dengan menggali niatan diri sendiri dalam membuat film. Bila yang dikejar adalah semata menjadi 'beda' atau ingin terkenal, bisa jadi yang didapat kemudian hanyalah rasa kecewa.

Hal tersebut terungkap dalam sesi diskusi pada kuliah umum Program Studi Film dan Televisi Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI) bertajuk 'Potensi Perfilman Indonesia dalam Industri Kreatif' di Auditorium FPSD UPI Bandung, Selasa (10/9/2019). Dalam kuliah yang dihadiri seratusan mahasiswa tersebut, seniman dan musisi asal Bandung, Pidi Baiq menyebutkan, dalam dunia kreatif, perbedaan adalah hal yang niscaya. Meski demikian, hal tersebut jangan serta-merta dijadikan alasan tunggal dalam membuat karya.

"Di dunia eksakta, kalau jawaban sama dengan orang umum, maka itu adalah hal yang benar. Kalau di dunia kreativitas, jadi sama dengan orang lain berarti nyontek. Itulah kenapa output dari dunia kreatif sering ditentang masyarakat, bisa (dianggap) sebagai solusi ataupun sensasi," ungkapnya.

"Tapi enggak perlu betul-betul ingin beda, ingin jadi yang lain. Bukan sekedar soal outputnya, tapi juga niatannya. Kalau niatnya hanya untuk menjadi beda, untuk dipuji-puji, ya nantinya bakal norak saja jadinya," tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Head of Creative Development Ayo Media Network, Abdallah Gifar Abisena mengatakan, niat dan tujuan adalah sesuatu yang harus dipikirkan matang-matang sebelum memutuskan untuk konsisten berkarya di bidang perfilman. Pasalnya, akan ada desakkan kebutuhan lain seperti kebutuhan materi yang dapat membuat seseorang berkompromi dengan mimpinya.

"Pasar bisa muncul kalau ada kebutuhannya. Yang penting penuhi dulu kebutuhan teman-teman untuk berkarya. Tergantung tujuannya, bisa untuk cari uang atau orientasi lain," ungkapnya.

Bila untuk mencari uang, dia mengatakan, jeli lah untuk menangkap peluang pasar yang besar seperti menjadi videografer pernikahan, misalnya. Itu pun harus dibarengi dengan kemauan untuk terlebih dahulu berinvestasi dalam membuat karya awal.

"Jangan hitung pengeluaran untuk membayar talent atau menyewa alat itu sebagai pengeluaran sebagaimana biaya bayar sewa kost atau bensin. Itu adalah investasi untuk berkarya, bisa jadi nilai pembelanjaan kita sekarang jauh lebih kecil dengan hasilnya kelak," ungkapnya.

Intinya,  dia mengatakan, seseorang harus dapat mengetahui hal apa yang akan dicapai dan alasan dirinya sendiri melakukan hal tersebut.

"Yang penting tau mau ngapain dan kenapa harus melakukan itu. Waktu yang akan membuktikan kita konsisten atau tidak. Jangan berkarya karena sekedar ingin terkenal, karena bila tidak tercapai, apakah tidak akan kecewa?" ungkap Gifar.

Editor: Rizma Riyandi
dewanpers