web analytics
  

Komoditi Pertanian Indonesia Jadi Andalan di Sejumlah Negara

Sabtu, 7 September 2019 11:14 WIB M. Naufal Hafizh

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan Ali Jamil saat melepas ekspor di Gudang PT Gapura Angkasa, Garuda Indonesia, Tangerang, Banten, Jumat (6/9/2019). (Istimewa)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM—Kementerian Pertanian terus membuka potensi pasar ekspor untuk berbagai komoditas. Salah satunya Hortikultura. Untuk sayuran, misalnya, Kabupaten Bandung tercatat menjadi pemasok andalan ke negara Singapura.

"Pasar produk pertanian khususnya berupa sayuran dan buah-buahan sangat terbuka luas di Singapura," ujar Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan, Ali Jamil saat melepas ekspor di Gudang PT Gapura Angkasa, Garuda Indonesia, Tangerang, Banten, Jumat (6/9/2019).

Ali mengatakan, pemerintah pun tengah berupaya membuka keran ekspor tanaman hias ke berbagai negara di seluruh dunia, di antaranya ekspor tanaman hias yang sudah menembus pasar Belanda.

"Kemudian ada juga beberapa jenis komoditas lainnya yang sudah diekspor ke Cina dan negara-negara lain di kawasan Asia, Eropa, serta Amerika. Adapun jenis yang sering dikirim adalah selada air, jamur, buncis, lobak, bit, labu siam, waluh lokal, dan kentang," katanya.

AYO BACA : Tahun 2019, Ekspor Perkebunan dan Peternakan Tumbuh 4,4%

Kata Ali, semua bahan komoditas itu dikirim dari beberapa daerah seperti Provinsi Jawa Barat, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Indonesia bagian Timur lainnya.

Adapun beberapa produk pertanian yang sudah dilepas pada bulan ini antara lain buah mangga sebanyak 1,6 ton, bibit tanaman hias sebanyak 141,3 ribu batang, Sarang Burung Walet (SBW) sebanyak 51,5 kilogram, telur Hatching Eggs (HE) sebnyak 60,5 ribu butir serta ular jali sebanyak 1.000 ekor.

"Total nilai ekonomi ekspor produk pertanian yang diekspor kali ini sebesar Rp2,2 miliar," katanya.

Sementara itu, khusus untuk pengiriman produk hortikultura, pemerintah sudah membuat rute pengiriman, yakni melalui Bandar Udara Soekarna Hatta dan Pelabuhan Laut Tanjung Priok. Penggunaan di dua lokasi ini dibuat untuk menyesuaikan tingkat ketahanan masing-masing komoditas yang diekspor.

AYO BACA : Kekeringan, Kementan Tak Akan Impor Beras Hingga Akhir Tahun

"Ekspor sayuran ini semakin membuktikan bahwa pemerintah berkomitmen meningkatkan produksi dan kualitas komoditas sayuran. Tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun sanggup mengisi pasar luar negeri," katanya.

Di sisi lain, Balai Karantina Pertanian telah menggagas program Agro Gemilang untuk meningkatkan kualitas barang dan membuka keran ekspor. Program ini tidak hanya berfokus pada pendampingan teknis, namun juga edukasi pada calon eksportir baru dengan menggunakan aplikasi i-MACE.

"Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian, kita harus fokus untuk mendorong ekspor. Inovasi dan terobosan perkarantinaan ditujukan untuk percepatan layanan dan juga fungsi fasilitator," katanya.

Ali menambahkan, saat ini Badan Karantina juga terus melakukan pendampingan pada petani maupun rumah kemas di seluruh daerah. Pendampingan ini bertujuan memenuhi standar bebas hama sesuai syarat dari negara tujuan.

Sedangkan untuk bidang perbenihan dan budidaya, lanjut Jamil, semua unit dan direktorat teknis di lingkup Kementan diharapkan turut berperan aktif melakukan pendampingan.

"Apalagi jumlah ekspor Pertanian terus mengalami peningkatan. Pengiriman berbagai jenis sayuran seminggu 5 kali, sedangkan buah-buahan 3 hingga 4 kali seminggu ke Singapura," tandasnya.

AYO BACA : Cegah Penularan Rabies, 2.000 Vaksin Gratis Dibagikan Kementan di Garut

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers