web analytics
  

Milenial Dinilai Kurang Melek Investasi dan Asuransi

Kamis, 29 Agustus 2019 18:02 WIB
Umum - Nasional, Milenial Dinilai Kurang Melek Investasi dan Asuransi, Milenial, Melek, Investasi, Asuransi,

Otoritas Jasa Keuangan.

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM—Generasi milenial dinilai masih kurang melek dalam berinvestasi maupun membeli proteksi melalui asuransi. Bahkan, bagi yang berinvestasi, umumnya tidak melek investasi atau memiliki tingkat literasi rendah.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan generasi milenial termasuk rendah. Usia 18-25 tahun tingkat literasi 32,1 persen, sedangkan usia 25-35 tahun memiliki tingkat literasi 33,5 persen.

"Yang beli produk investasi ada 100 orang, tapi yang mengerti hanya 30 orang. Makanya banyak yang terjebak investasi bodong," ujar Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sondang Martha dalam diskusi Republika, Pilih Mana: Investasi atau Asuransi? di Jakarta, Kamis (29/8).

Sondang menyarankan agar milenial lebih bijak dalam mengatur keuangan. Dia juga menyarankan agar para milenial menggunakan 10 persen dari penghasilan untuk digunakan berasuransi.

AYO BACA : OJK Hentikan 168 Entitas Fintech Ilegal dan 47 Investasi Ilegal

"Harus punya perencanaan keuangan. Kalau merasa punya asuransi itu susah dan ingin langsung berinvestasi, ada produk SiMuda, merger antara asuransi dan investasi," kata Sondang.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Moch Ichsanuddin mengakui, saat ini generasi milenial masih banyak bergantung kepada orang tua.

Meskipun sudah memiliki polis asuransi, namun umumnya pembayaran premi masih ditanggung orang tua.

Kondisi tersebut, menurutnya, berbeda ketika milenial sudah mulai bekerja. Umumnya mereka tidak menganggap penting berasuransi.

AYO BACA : Ingin Beli Saham? Tentukan Tujuan Investasi Sejak Dini

Hal ini berbeda dari pandangan generasi usia 35 tahun ke atas yang sudah memandang pentingnya berinvestasi untuk hari tua.

Gaya hidup hedonisme dinilai menjadi faktor yang menahan milenial menggunakan penghasilan mereka untuk berinvestasi.

"Kalau dari sisi substansi ilmu konsumsi, investasi itu adalah suatu hal menunda konsumsi demi masa depan, asuransi juga. Sekarang perkembangannya, asuransi sudah di-bundling dengan suatu investasi. Asuransi sudah one stop servicing," jelas Ichsanuddin.

Karena itu, ia menyarankan agar milenial mulai melirik memiliki proteksi finansial dengan cara berasuransi dan berinvestasi. Apalagi dengan adanya saluran distribusi digital saat ini.

Adanya penjualan produk investasi melalui e-commerce sangat membantu milenial untuk berinvestasi dengan nilai kecil. Sementara itu, dalam berasuransi, meskipun e-commerce dijadikan saluran distribusi, jumlahnya secara umum masih belum besar.

"Kalau milenial sendiri jumlahnya sekarang memang masih kecil di asuransi. Jalur distribusi pemasaran untuk asuransi digital itu ke depan akan sangat membantu, kalau cuma door to door itu sangat berat," ungkap Ichsanuddin.

AYO BACA : Daftar 73 Investasi Bodong yang Dilarang OJK

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers