web analytics
  

LIPKHAS GEMPA: Warga Kira Sesar Lembang adalah Obyek Wisata Baru

Kamis, 8 Agustus 2019 11:43 WIB Mildan Abdalloh
Bandung Raya - Bandung, LIPKHAS GEMPA: Warga Kira Sesar Lembang adalah Obyek Wisata Baru, Sesar Lembang, Wisata Baru

Obyek wisata Tebing Keraton yang berada di kawasan patahan Lembang. (Nur Khansa/ayobandung)

CIMENYAN, AYOBANDUNG.COM --  Kampung Cikawari, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung merupakan dusun paling ujung berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat.

Kampung yang sebagian besar warganya mengandalkan hidup dari pertanian itu, berjarak tidak jauh dari Tebing Keraton yang merupakan obyek wisata di atas Sesar Lembang.

Walaupun jarak dari Sesar Lembang tidak jauh, namun sebagian besar warga Kampung Cikawari malah sama sekali tidak mengetahui patahan lempeng bumi tersebut.

Seorang ibu rumah tangga, Elah Nurhayati, mengaku tidak mengetahui Sesar Lembang ketika ayobandung.com menanyainya. Bahkan dia mengira jika Sesar Lembang adalah destinasi wisata baru di sekitar Cimenyan.

"Tidak tahu. Sekarang mah banyak tempat wisata baru di sekitar sini," ujar Elah, Kamis (9/8/2019).

Elah hanya mengetahui objek wisata ikonik di Kecamatan Cimenyan, Tebing Keraton. Jarak dari Cikawari ke Tebing Keraton disebut Elah tidak terlalu jauh jika ditempuh menggunakan sepeda motor.

"Nah kalau Tebing Keraton mah dekat. Itu pas di balik bukit ini," ujar Elah sambil menunjuk sebuah bukit yang tidak jauh dari rumahnya. Jarak bukit yang ditunjuk Elah paling satu kilometer.

Sejauh ini, kata Elah, dia belum pernah mendapat sosialisasi dari pemerintah terkait Sesar Lembang, ketika Ayobandung.com menjelaskan jika Sesar Lembang merupakan patahan lempeng bumi yang berpotensi menimbulkan gempa.

"Belum ada. Di sini mah (informasi) ketinggalan semuanya juga," ungkapnya.

Hal senada diungkapkan warga lainnya, Dadang. Menurutnya pemerintah tidak pernah memberikan sosialisasi Sesar Lembang kepada masyarakat.

Bahkan mitigasi bencana gempa yang berpotensi terjadi jika Sesar Lembang melepaskan energi juga tidak pernah dilakukan.

Warga setempat hanya mengetahui satu cara untuk menyelamatkan diri jika terjadi gempa bumi dengan cara lari ke luar rumah.

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers