web analytics
  
Banner Kemerdekaan

LIPKHAS GEMPA: Rumah Tahan Gempa, Sebuah Upaya Mitigasi Bencana

Rabu, 7 Agustus 2019 13:35 WIB Firda Puri Agustine

Rumah tahan gempa RISHA. (puskim.pu.go.id)

BEKASI, AYOBANDUNG.COM -- Gempa dan bencana tak bisa diprediksi kapan datangnya. Hal itu karena belum ada satu alat pun di dunia yang mampu mendeteksi hal tersebut. Lantas, apa kita harus pasrah saja? Tentulah tidak.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengungkapkan, salah satu hal penting dalam mitigasi bencana gempa bumi adalah membangun rumah dan bangunan tahan gempa.

“Kalau kita lihat ke Jepang, mereka sudah sejak tahun 1980-an menerapkan aturan membangun gedung atau rumah yang harus tahan gempa. Ini bisa meminimalisir jumlah korban,” kata Daryono kepada AyoBekasi, Rabu (7/8/2019).

Sebagai perbandingan saja, gempa Bantul berkekuatan magnitude 6,4 pada 2006 dan gempa Suruga di Jepang yang juga berkekuatan sama. Kedua gempa ini mengakibatkan jumlah korban yang sangat jauh berbeda. Di Bantul hingga 6.000 orang tewas, sementara Suruga hanya 1 orang tewas.

“Kekuatan gempanya sama dengan titik kedalaman yang sama, 10 km, tapi jumlah korban sangat berbeda. Ya itu karena Jepang serius dalam memitigasi bencana dengan menyiapkan rumah tahan gempa,” ujarnya.

Daryono mengingatkan, Indonesia merupakan negeri rawan gempa. Khusus Jakarta, sejarah menyebut bahwa gempa dahsyat pernah meluluhlantakkan kota ini di masa silam. Ada potensi terulangnya kejadian yang sama, apalagi jika dikaitkan dengan kajian ilmiah megathrust Selat Sunda.

“Secara ilmiah, potensi (megathrust Selat Sunda)-nya mencapai magnitude 8,7. Jakarta bisa terdampak antara skala VI-VII MMI yang berarti merusak, sehingga sudah seharusnya pemerintah mengkaji ulang keamanan bangunan yang ada,” katanya.

Pakar Geologi TB Bachtiar menyerukan hal serupa. Menurutnya, mitigasi bencana merupakan prioritas utama yang perlu mendapat perhatian khusus pemerintah. Bukan lagi soal ancaman dan ketakutan akan terjadinya bencana.

Dia menyayangkan jika ada pihak-pihak yang mendiskreditkan penelitian ilmiah tentang potensi gempa di Indonesia. Sebabnya, masyarakat tidak bisa menolak fakta bahwa negeri ini memiliki banyak lempeng dan patahan bumi dari ujung barat hingga timur.

“Bagaimana kita bisa mengubah mindset masyarakat dari takut ancaman gempa menjadi waspada dan siap menghadapi bencana. Pemerintah juga harus sudah membuat program kerja terkait mitigasi bencana, bagaimana membuat rumah tahan gempa dan membuat titik kumpul yang aman,” ujarr Bachtiar. 

 

Editor: Andres Fatubun
dewanpers