web analytics
  

Dampak Pemadaman Listrik: Industri Tekstil Merugi

Minggu, 4 Agustus 2019 17:53 WIB Mildan Abdalloh
Bandung Raya - Bandung, Dampak Pemadaman Listrik: Industri Tekstil Merugi, listrik mati, listrik jawa, listrik banten, macet, lalu lintas padam, macet tol, bandara soekarno hatta, rsud soreang, industri imbas listrik, perusahaan imbas listrik,

ilustrasi industri. (Kavin Faza/Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Berhentinya pasokan listrik akibat gangguan jaringan sutet mengakibatkan kerugian besar terhadap industri tekstil di Jawa Barat.

"Jelas menimbulkan kerugian besar. Saat pemadaman bergilir saja sudah menimbulkan kerugian, apalagi dengan padam secara tiba-tiba seperti ini," ujar Sekretaris Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat, Kevin Hartanto kepada ayobandung.com, Minggu (4/8/2019).

Dia menjelaskan ketika terjadi pemadaman listrik bergilir, PLN akan memberitahukan kepada pihak indsutri. Biasaya jika hal tersebut terjadi, maka industri akan mempersiapkan diri untuk menekan kerugian.

Kevin mengatakan dengan pasokan listrik yang tiba-tiba berhenti, banyak dampak yang akan dirasakan oleh industri tekstil, terutama di hulu.

AYO BACA : RSUD Soreang Andalkan Dua Genset Saat Listrik Mati

"Saat aliran listrik tiba-tiba berhenti seperti sekarang, jelas produksi sedang berjalan dan tiba-tiba terhenti. Itu akan menimbulkan dampak besar," ujarnya.

Dampak besar yang dirasakan oleh industri tekstil bukan hanya produksi yang berhenti, tetapi juga dampak kerugian lain seperti kerusakan peralatan elektronik.

Dia mencontohkan, kerugian yang diderita industri tekstil ketika pasokan listrik tiba tiba terhenti saat produksi pemintalan adalah putusnya benang.

"Untuk menyambung benang yang putus itu butuh waktu beberapa jam. Belum lagi benang yang sedang diproduksi saat pemintalan akan menjadi rusak," ujarnya.

AYO BACA : Layanan Bandara Soekarno-Hatta Tak Terganggu Pemadaman Listrik

Saat proses pencelupan kain juga akan mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh pasokan listrik tiba-tiba terhenti.

"Di proses tenun juga kualitasnya tidak akan sesuai standar, sudah menjadi kategori produk grade B atau lebih rendah. Untuk celup mah sudah pasti terbuang tidak bisa dijual," imbuhnya.

"Semua proses tektil banyak menggunakan peraltan elektronik sensitif, diberi trip beberapa detik saja bisa rusak. Akan ada banyak komponen elektonik rusak. Belum lagi pegawai yang tidak produktif tetap harus dibayar upahnya," tambahnya.

Dengan kondisi tersebut, Kevin mengatakan industri tekstil mengalami kerugian besar dengan terjadinya listrik yang mati secara tiba-tiba.

"Industri tekstil itu tidak seperti garmen yang hanya membutuhkan listrik tidak terlalu besar. Garmen saat mati listrik bisa pakai jenset, kalau industri tekstil di bagian hulu sangat menggantungkan listrik dari PLN. Jadi kerugiannya bisa dihitung sendiri," ujarnya.

AYO BACA : Imbas Listrik Mati, Tol Pasteur Transaksi Manual

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers