web analytics
  

Ribuan Hiu dan Pari Menderita Akibat Sampah Plastik

Rabu, 31 Juli 2019 01:30 WIB Dadi Haryadi
Umum - Internasional, Ribuan Hiu dan Pari Menderita Akibat Sampah Plastik, Sampah Plastik, Hiu, Pari,

Sampah plastik yang bertebaran di sekitar hiu paus di Botubarani, Gorontalo. Foto: (Mongabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Beberapa kasus lain seperti video penyu yang menyedihkan karena ada sedotan yang menyangkut di hidungnya atau ikan yang melemah karena mikroplastik. Tetapi menurut para ilmuwan, hiu dan pari juga merasakan penderitaan akibat polusi plastik.

Dalam jurnal Endangered Species Reportss yang terbit pada 4 Juli 2019, para ilmuwan mencatat ada sekitar 1.000 hiu dan pari yang menderita akibat puing-puing plastik. Bahkan kemungkinan ada lebih banyak ikan yang menderita dari jumlah yang tercatat - studi ini mencakup keterikatan dalam artikel jurnal ilmiah dan di Twitter.  

Hiu dan pari memiliki risiko kepunahan yang tinggi dibandingkan hewan lain, menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), 23% dari spesies diklasifikasikan sebagai least concern.

Sebenarnya, plastik bukan ancaman utama bagi spesies - justru penangkapan ikan dengan cara yang salah merupakan ancaman yang lebih besar. Tetapi dengan banyak nya plastik, bahkan memperburuk keadaan laut.

Dilansir dari laman Livescience, seorang ahli biologi kelautan di Coastal Carolina University, Daniel Abel, telah menyaksikan konsekuensi bagaimana polusi plastik menghancurkan spesies laut. Tahun 2016, saat melakukan penelitian di Winyah Bay, South Carolina, Abel dan murid-muridnya menemukan hiu pasir yang telah terjerat dalam benang kemasan plastik. Plastik itu melilit di sekitar tubuh hiu, sehingga membuat para peneliti ngeri.

Itu menjijikkan bagi kami, kata Abel kepada Live Science.

Selama bertahun-tahun, Habel telah melihat semakin banyak hiu yang terkena tanda-tanda kerusakan dari peralatan manusia, termasuk plastik. Hiu pasir yang ditarik Abel ke atas kapal berhasil selamat - tim Abel mampu membebaskannya dari benang yang memotong kulitnya. Namun menurutnya, tidak semua hiu seberuntung ini. Satu atau dua bulan lagi, dan benang akhirnya akan membunuhnya secara perlahan dan menyakitkan.

Keterikatan bukanlah masalah baru, kata Chris Lowe, direktur Shark Lab di California State University, Long Beach. Ini sama tuanya dengan polusi plastik itu sendiri. Tetapi karena plastik menumpuk di lautan, tingkat keterikatan hanya akan meningkat. Jadi, lebih penting dari sebelumnya untuk mengukur masalah, tambahnya.

Tetapi sampai saat ini, sains belum sepenuhnya mengakui ancaman yang ditimbulkan oleh puing-puing plastik terhadap hiu dan pari, kata Brendan Godley, seorang peneliti hiu di University of Exeter di Inggris, sekaligus penulis utama studi tersebut.  Hal ini juga karena penangkapan ikan yang berlebihan dan tangkapan sampingan - ketika hiu secara tidak sengaja terperangkap dalam jaring.

Masalah keterikatan ini mungkin sedikit di bawah radar, kata Godley.

Tetapi masih ada harapan, menurut Lowe. Dengan fokus baru-baru ini pada penghapusan plastik sekali pakai, dia sudah melihat berkurangnya puing-puing plastik dipesisir yang bisa terbawa ke tengah laut.

Masalahnya tidak akan hilang secara instan, kata Lowe. Tetapi jika kita memiliki kemauan, kita dapat menghentikan ini, katanya kepada Live Science. (Nadia Syailana/Magang)

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers