web analytics
  

Sulit Konsentrasi Tanda Anak Alami Disabilitas Psikososial?

Jumat, 26 Juli 2019 14:00 WIB M. Naufal Hafizh
Gaya Hidup - Sehat, Sulit Konsentrasi Tanda Anak Alami Disabilitas Psikososial?, Sulit, Konsentrasi, Tanda, Disabilitas, Psikososial, kesehatan, sulit konsentrasi,

Ilustrasi. (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM—Ketua Umum Alpha-I Indonesia dan Ragam Institute Yossa Nainggolan menjelaskan, salah satu gejala anak mengalami disabilitas psikososial yaitu sulit berkonsentrasi.

"Untuk memastikannya, perlu ada pengecekan baik secara medis maupun psikologis," kata Yossa saat peluncuran buku panduan Mengenal Anak dengan Disabilitas Psikososial di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

AYO BACA : 6 Kebiasaan Baik untuk Menggenjot Kinerja Otak

Selain sulit berkonsentrasi, gejala-gejala awal disabilitas psikososial adalah berbuat kenakalan yang tidak wajar dan suasana hati berubah drastis seperti tiba-tiba mengamuk. Anak pun akan menarik diri dari lingkungan sosial serta kehilangan minat pada teman dan kegiatan yang biasanya mereka nikmati.

Perasaan cemas, panik, dan tiba-tiba merasakan takut yang luar biasa dan tanpa alasan yang jelas pun merupakan gejala-gejala awal disabilitas psikososial. Meyakini sesuatu yang tidak nyata dan mengalami halusinasi pun bisa menjadi tanda disabilitas psikososial.

AYO BACA : Jalan Kaki Ampuh Atasi Lemak Perut? Ini Kata Ahli

"Selain itu, memiliki gerakan tertentu dalam waktu yang lama, menyalahgunakan zat adiktif seperti menghirup lem aibon atau bensin, bicara tidak runut atau tidak teratur, dan merusak fisik diri sendiri," tuturnya.

Yossa mengatakan, untuk memastikan perlu ada pengecekan baik secara medis maupun psikologis. Pengecekan diperlukan untuk mengetahui jenis disabilitas yang dialami dan terapi yang harus dilakukan.

"Selain keluhan-keluhan psikologis tersebut, gejala-gejala awal anak dengan disabilitas psikososial juga dapat berupa keluhan-keluhan fisik seperti sakit perut dan sakit kepala yang terus menerus," katanya.

Jika keluhan-keluhan fisik berlangsung terus-menerus tetapi pemeriksaan medis tidak menemukan penyakit, keluarga dan orang tua perlu memeriksakan secara psikologis.

Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Nahar, mengatakan, anak penyandang disabilitas psikososial harus dijangkau agar hak-haknya tetap terpenuhi. Jika mereka tidak dijangkau, sering hak-hak mereka dilanggar, misalnya dipasung oleh keluarga atau didiskriminasi oleh masyarakat.

AYO BACA : Ini Manfaat Yoga bagi Anak

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers