web analytics
  

Audisi Beasiswa Bulu Tangkis Diminta Hentikan Eksploitasi Anak

Jumat, 26 Juli 2019 10:38 WIB Fira Nursyabani
Bandung Raya - Bandung, Audisi Beasiswa Bulu Tangkis Diminta Hentikan Eksploitasi Anak, bahaya rokok, beasiswa bulutangkis, eksploitasi anak

Ilustrasi anak terpapar brand image produk tembakau. (Dok. Lentera Anak)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Lentera Anak dan Smoke Free Bandung mendesak penyelenggara Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2019 untuk tidak memanfaatkan tubuh anak sebagai media promosi brand image produk tembakau tertentu. Audisi yang melibatkan anak-anak usia di bawah 11 dan 13 tahun itu akan dimulai di Kota Bandung pada 28 Juli mendatang.

Kegiatan tersebut diketahui mengharuskan peserta untuk mengenakan kaos dengan tulisan Djarum yang merupakan brand image produk zat adiktif yang berbahaya. Pemanfaatan tubuh anak sebagai media promosi merupakan salah satu bentuk eksploitasi secara ekonomi, menurut Pasal 66 UU Perlindungan Anak No. 35/2014.

Akan ada pihak lain yang mendapatkan keuntungan melalui promosi tersebut yaitu meningkatnya kesadaran terhadap brand produknya. Sementara itu, anak-anak tidak menyadarinya karena mereka mengikuti audisi hanya untuk mengembangkan diri sebagai atlet bulutangkis. 

Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari, mengatakan pemantauan yang dilakukan Lentera Anak sejak 2015 hingga 2018 menunjukkan, panitia mengharuskan anak-anak peserta audisi untuk mengenakan kaos dengan tulisan Djarum yang merupakan brand image produk tembakau. Hal itu membuat anak-anak terlihat seperti iklan berjalan.

AYO BACA : Begini Cara Agar Anak Menjadi Percaya Diri

Kegiatan tersebut juga memborbardir peserta anak dengan berbagai brand image Djarum di seluruh tempat selama kegiatan berlangsung. "Ini bukan sebatas membiasakan brand image produk tembakau kepada anak, namun patut diduga adanya tindakan eksploitasi anak karena memanfaatkan tubuh anak untuk promosi brand image Djarum yang merupakan produk rokok," ujar Lisda, dalam keterangan resminya yang diterima ayobandung.com, Jumat (26/7/2019).

Tak hanya itu, Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis juga melanggar PP 109/2012 Tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.

Dalam Pasal 47 (1) PP itu, penyelenggara dilarang mengikutsertakan anak-anak pada penyelenggaraan kegiatan yang disponsori rokok dan dalam Pasal 37 (a) disebutkan juga tentang larangan menggunakan nama merek dagang dan logo produk tembakau, termasuk brand image produk tembakau.

Mohammad Haqqi dari Smoke-Free Bandung menyatakan, penyelenggaraan audisi ini telah melanggar Peraturan Wali Kota Bandung No. 315 Tahun 2017 Pasal 8 yang berbunyi, 'Setiap orang dilarang untuk mengiklankan, mempromosikan dan memberikan sponsor di seluruh kawasan tanpa rokok’.

AYO BACA : LPSK Sebut Angka Kekerasan Seksual Anak Meningkat 100% Setiap Tahun

Sementara dalam Pasal 5 dicantumkan bahwa GOR KONI di Bandung, tempat kegiatan berlangsung, merupakan fasilitas olahraga yang ditetapkan sebagai Kawasan tanpa rokok.

"Sudah seharusnya kegiatan audisi bulutangkis tidak lagi menggunakan brand image produk tembakau, terlebih lagi kegiatan ini melibatkan anak-anak," ungkapnya.

Sejak 2014, Badminton World Federation (WBF) telah melarang sponsor rokok pada acara bulutangkis. Hal itu yang membuat Djarum mundur pada Indonesia Open 2014 dan digantikan dengan sponsor lain yang bukan produk rokok.

Lentera Anak telah menginformasikan hal ini kepada Wali Kota Bandung Oded M Danial agar melakukan upaya pencegahan terjadinya eksploitasi anak pada audisi ini. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung juga diminta mengawasi kegiatan-kegiatan yang disponsori rokok lainnya, terlebih yang melibatkan anak-anak.

Pemkot Bandung sebagai penerima penghargaan Nindya Kota Layak Anak selama 3 tahun berturut-turut seharusnya juga berkomitmen melindungi anak-anak dari target pemasaran industri rokok. Upaya yang bisa dilakukan salah satunya adalah dengan melarang segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok yang merupakan salah satu indikator Kota Layak Anak.

“Penghargaan Nindya Kota Layak Anak yang diterima Pemerintah Kota Bandung bukan semata-mata prestasi, tetapi juga sebentuk amanah untuk meningkatkan kualitas kesehatan anak-anak yang menjadi harapan masa depan masyarakat Bandung”, kata Haqqi.

AYO BACA : Siswa di Kabupaten Bogor Dibiarkan Belajar Beralas Lantai Bertahun-tahun

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers