web analytics
  

Keranjingan Main Ponsel, Remaja Alami Cacat Mental

Jumat, 19 Juli 2019 07:51 WIB Andres Fatubun

Ilustrasi.

BEIJING, AYOBANDUNG.COM -- Tidak peduli seberapa sibuknya seseorang dalam menjalani pekerjaan mereka, hingga memberi anak-anak sebuah ponsel untuk mengurangi kesepian mereka.

Orang tua sering memberi anak-anak mereka tab dan ponsel untuk menghibur mereka dengan permainan dan aplikasi lainnya. Tapi di sini ada kasus yang akan membuat Anda memikirkan kembali keputusan memberi ponsel kepada anak.

Dilansir dari Boldsky, seorang remaja mengalami cacat mental setelah menggunakan ponsel selama berjam-jam di China dan bocah lelaki itu adalah anak berusia 13 tahun dari daerah Zhejiang.

Bocah itu diberi ponsel pertamanya hanya 6 bulan sebelum dia hampir sakit jiwa. Karena orang tua anak itu sibuk dengan pekerjaannya, ibu itu memutuskan untuk memberinya hadiah ponsel. Alasan dia memberi anak laki-laki itu ponsel agar mereka dapat tetap berhubungan karena dia dan suaminya sering sibuk di tempat kerja. 

Sesuai laporan, anak itu bermain ponsel hampir sepanjang hari. Karena dia baru menggunakan ponsel selama beberapa bulan, jadi rutinitas anak itu selalu menghabiskan sebagian besar waktunya di ponsel.

Ketika anak itu sedang berada di sekolah tiba-tiba menjadi aneh dan terlihat gila. Dia mulai membenturkan kepalanya tanpa henti ke dinding. Gurunya berusaha menghentikannya dan setelah beberapa saat, ibunya dipanggil. Situasi semakin memburuk saat tubuhnya menjadi lemas. Wajahnya mulai berkedut dan dia tidak responsif terhadap panggilan ibunya. Anak itu dilarikan ke rumah sakit dan dirawat di rumah sakit selama 28 hari. Menurut tim medis kondisinya tidak pernah membaik dan malah menjadi semakin parah sehingga ia menjadi cacat mental. 

Anak 13 tahun itu tampaknya mulai bertingkah seperti bayi karena dia tidak bisa berjalan atau berbicara. Dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri.

Kasusnya kemudian dipelajari di Departemen Neurologi dan Departemen Rheumatologi. Para petugas medis melakukan pemeriksaan terperinci terhadap anak itu dan mempelajari laporan tes sebelumnya dan mendiagnosisnya dengan Ensefalitis Autoimun. Hal ini termasuk kategori penyakit baru yang diperantarai kekebalan yang melibatkan sistem saraf pusat yang mengarah pada gangguan kognitif.

Begitu anak itu didiagnosis dengan kondisi ini, ia diberikan obat dan perawatan. Setelah kondisi anak itu akhirnya mulai membaik, dia mampu berbicara lagi dan bahkan mengenali orang tuanya. Dia kemudian dipulangkan dari rumah sakit. (Nadiah Hamdan)

Editor: Andres Fatubun
dewanpers