web analytics
  

DPRD Jabar: Nilai Matematika Rendah Pengaruhi Tingginya Pengangguran dari SMK

Kamis, 18 Juli 2019 15:20 WIB Fira Nursyabani
Umum - Regional, DPRD Jabar: Nilai Matematika Rendah Pengaruhi Tingginya Pengangguran dari SMK, pengangguran jabar, lulusan SMK, Komisi V DPRD Jabar

Ilustrasi pencari kerja. (Kavin Faza/ayobandung.com)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat menyatakan nilai mata pelajaran matematika lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Provinsi Jawa Barat dibandingkan dengan lulusan SMK Jawa Tengah dan Jawa Timur cukup rendah. Hal itu membuat angka pengangguran lulusan SMK di Jawa Barat tinggi.

"Di Jabar itu pelaku industri untuk mencari lulusan SMK dengan nilai (matematika) di atas 3,5 sangat sulit. Di Jateng atau Jatim rata-rata nilainya 6 sampai 7," kata Sekretaris Komisi V DPRD Jawa Barat Abdul Hadi Wijaya ketika dihubungi di Bandung, Kamis (18/7/2019).

AYO BACA : SMK Sumbang Angka Pengangguran Besar, Ridwan Kamil Lakukan Evaluasi

Dia mengatakan akhir-akhir ini SMK menjadi prioritas dibandingkan SMA negeri dan swasta di Jawa Barat dengan harapan bisa langsung bekerja seusai lulus sekolah. "Namun khusus Jabar ada permasalahan ternyata siswa SMK lebih banyak dibandingkan SMA dan secara statistik ketika tidak terserap di dunia kerja maka kontribusinya besar dalam pengangguran," kata dia.

Politisi dari Fraksi PKS DPRD Jawa Barat ini mengatakan fakta tentang rendahnya nilai matematika SMK di Jabar didapatkan pihaknya setelah menelusuri fenomena tersebut ke sejumlah perusahaan di Jawa Barat. Menurut dia, setiap bagian sumber daya manusia perusahaan di Jawa Barat ini menyatakan tidak menerima lulusan SMK bernilai matematika rendah tersebut.

AYO BACA : Pemkot Bandung Komitmen Tekan Angka Pengangguran

Pihak industri, katanya, dengan alasan tersebut cenderung membuka pintu kepada lulusan SMK di luar Jabar contohnya sebuah industri otomotif di Jabar yang bahkan punya kelas jauh di sebuah SMK di Jawa Tengah.

Dia mengatakan berdasarkan hasil audiensi dengan HRD perusahaan ini, nilai matematika menentukan tingkat kemampuan seseorang dalam menanggapi risiko kerja dan pegawai dengan nilai matematika rendah, katanya, memiliki risiko yang tinggi mengalami kecelakaan kerja.

"Jadi pegawai yang nilai matematikanya rendah, potensi mengalami kecelakaan kerja yang tinggi. Kemampuan memprediksi bahaya mereka terbilang lemah," katanya.

Padahal di sisi lain, katanya, siswa SMK ini diharapkan bisa diterima kerja dengan cepat setelah lulus dan ternyata, prestasi masing-masing sebagai penentu untuk peluang mereka. Sementara itu, di sisi lain, Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah industri terbesar di Indonesia.

"Faktor lainnya, ada semacam hambatan mental. Orang Jabar ketika kerja di daerah sendiri, mereka punya mentalitas tinggi hati, suka protes, disiplin rendah, enggan mendapat pekerjaan berat. Itu masukan dari para HRD di Jabar," katanya.

AYO BACA : Industri 4.0, Kemnaker Sebut Kebijakan Tenaga Kerja Disesuaikan

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers