web analytics
  

Apakah Menabung Uang Koin Masih Relevan?

Minggu, 7 Juli 2019 08:52 WIB Netizen Netizen
Netizen, Apakah Menabung Uang Koin Masih Relevan?, Uang koin,menabung

Uang koin.(Antara)

Secara teori, menabung adalah menyisihkan sebagian uang (penghasilan) yang dimiliki untuk kebutuhan tak terduga. Menabung berbeda dengan investasi. Investasi adalah kegiatan menunda konsumsi saat ini untuk disisihkan dengan tujuan memperoleh hasil lebih di masa yang akan datang. 

Dari definisi tersebut, terlihat bahwa perbedaan antara menabung dan investasi terletak pada tujuan yang mendasarinya. Menabung dilakukan untuk berjaga-jaga akan kebutuhan tak terduga. Sedangkan investasi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh hasil (lebih) di masa akan datang. Atau dengan kata lain investasi dilakukan untuk melindungi nilai uang dari inflasi sekaligus memperoleh imbal hasil (bunga).

Pada zaman kakek nenek dulu, bahkan mungkin sampai zaman kita masih kecil, menabung dilakukan secara tradisional dengan menyimpan uang dalam celengan. Bahkan dari cerita kakek nenek, mereka pada zamannya menyimpan uang di bawah kasur, di dalam bantal atau hanya diletakkan di dalam lemari. 

Menabung secara tradisional pun identik dengan uang koin. Ketahanan dan masa berlaku yang lebih panjang dibandingkan dengan uang kertas menjadikan uang koin sebagai pilihan utama untuk ditabung. Selain itu, karena uang koin bernilai kecil, sehingga ketika ditabung tidak terasa.

Seiring perkembangan zaman, tabungan pun berkembang. Tidak hanya tabungan konvensional dan deposito, saat ini juga terdapat tabungan bisnis, tabungan haji, tabungan investasi, tabungan valas dan tabungan anak. Anda bisa memilih diantara berbagai jenis tabungan tersebut, sesuai dengan yang anda butuhkan.

Terkikis inflasi, uang koin (receh) sering diremehkan. Perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup, menjadikan menabung uang koin tidak lagi populer. Orang-orang lebih senang untuk menyerahkan urusan tabung menabung ke pihak ketiga (bank). Menabung untuk sekolah anak, dengan jenis tabungan anak dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhan mereka.

Selain itu, uang koin yang ditabung, jika tidak disetor ke bank, sulit untuk dibelanjakan. Hanya toko-toko besar (grosiran) yang mau menerima uang koin sebagai alat transaksi. Bahkan pom bensin pun tidak menerima uang koin sebagai alat transaksi. 

Uang koin dalam jumlah banyak susah untuk dibelanjakan. Uang koin sebagai alat transaksi mungkin dianggap merepotkan karena harus dihitung ulang. Jika disetor ke bank, jumlah kepingan koin yang harus anda miliki sebanyak 500 keping, baik itu pecahan 1000, 500, atau 200 rupiah. Itu pun akan dikenakan biaya sebesar Rp2.500 per kantong. Jika kurang dari jumlah tersebut, tidak akan diterima. Anda harus menunggu hingga terkumpul 500 keping.

Tapi itu bukan berarti bagi anda untuk tidak menabung uang koin. Uang koin, justru bisa mengantarkan anda menjadi “kaya” atau membeli barang-barang mahal. Seperti yang terjadi pada pasangan suami istri Tirta dan Mimin, warga Majalengka yang membeli toyota rush menggunakan uang receh sebesar 40 juta rupiah, sedangkan sisanya dibayar menggunakan uang kertas (dikutip dari https://m.detik.com “Heboh, Petani Majalengka Beli Toyota Rush Pakai Uang Receh” dimuat pada Selasa, 29 Januari 2019). Mereka mengumpulkan 40 juta rupiah selama tujuh tahun. Pak Tirta sendiri sehari-hari berprofesi sebagai petani sekaligus petugas keamanan di salah satu perumahan di Bandung.

Kisah Pak Tirta di atas dapat dijadikan motivasi bagi kita untuk menabung uang koin. Karena apa pun itu, sangat penting bagi kita untuk memiliki tabungan. Pesan orang tua saat menabung, jangan dihitung. Jika demikian, maka menabung uang koin merupakan pilihan tepat. Recehan yang tadinya dianggap remeh, saat dikumpulkan pun tidak akan terasa berat. Tau-tau nanti menjadi bukit. Seperti kata pepatah, sedikit demi sedkit, lama-lama menjadi bukit. 

Menabung uang koin pun memiliki seni tertentu. Menabung uang koin mengajarkan kita akan kesabaran dan konsistensi. Kesabaran karena jika ingin ditabung di bank, kita harus bersabar menunggu hingga 500 keping. Konsistensi, untuk terus menabung agar uang koin yang kita kumpulkan dapat terus bertambah dan tidak terlupakan.

Siska H

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

terbaru

Penyebab Makin Pedasnya Harga Cabai

Netizen Sabtu, 6 Maret 2021 | 20:13 WIB

Akhir-akhir ini di berbagai daerah, masyarakat mengeluhkan melambungnya harga cabai rawit merah hingga Rp.120.000, samp...

Netizen, Penyebab Makin Pedasnya Harga Cabai, Harga Cabai Naik,Harga Cabai Tanjung Naik,BPS

Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi

Netizen Jumat, 5 Maret 2021 | 09:25 WIB

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia genap berusia setahun. Sejak ditemukan kasus perdana di awal Maret tahun 2020, h...

Netizen, Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi, Infokom,COVID-19,PSBB

Kapan Situ Aksan Ada?

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 14:25 WIB

Dalam Peta Topografi tahun 1904-1905, tempat yang kemudian menjadi Situ Aksan, masihlah perkampungan kecil.

Netizen, Kapan Situ Aksan Ada?, Sejarah,Kota Bandung,Topografi,Desa,Abad ke-20,Bandung Baheula

Tiga Terjemahan Pertama

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 10:20 WIB

Pada 1872, Raden Kartawinata sudah bisa menerbitkan tiga judul terjemahan dari bahasa Belanda.

Netizen, Tiga Terjemahan Pertama, raden kartawinata,Sunda,Jawa,Bahasa,Penerjemah,Belanda,R.H. Moeh. Moesa,K.F. Holle,buku,Literatur,Literasi

Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 14:15 WIB

Ada yang bilang bahwa industri dosa sejatinya merupakan usaha mentransfer dana publik ke tangan swasta dengan cara yang...

Netizen, Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras, Minuman Keras (Miras),Perpres investasi miras,Presiden Joko Widodo,Indonesia,Investasi,World Health Organization (WHO),Papua,minuman beralkohol

Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 13:40 WIB

Pada era tahun 90-an, jalan-jalan atau gang-gang kecil di daerah Cicadas juga terkenal dengan sebutan gang "sarebu punte...

Netizen, Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif, Cicadas,Desa Kreatif,Bandung,Gang ,Kampung Kreatif

Khawatir Kini Kina Tinggal Nama

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 15:00 WIB

Pohon kina peninggalan tahun 1855 itu sudah sangat tua, keadaannya sudah dalam posisi bungkuk atau miring, dan kini suda...

Netizen, Khawatir Kini Kina Tinggal Nama, Kina,Pohon,Bandung,Chincona,Chincon,Franz Wilhelm Junghuhn,Karl Justus Hasskarl

Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 13:50 WIB

Kita tidak boleh hanya menekankan kebenaran berbahasa yang diukur oleh kebakuan KBBI, tetapi harus memperhatikan situasi...

Netizen, Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru, Polisi,Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),Santun
dewanpers