web analytics
  

Kemenkes: Penduduk Kota Besar Umumnya Tak Suka Sayur

Jumat, 5 Juli 2019 15:47 WIB Fira Nursyabani

Pengunjung memilih sayuran impor di salah satu pasar modern di Jalan Sunda Kota Bandung, Senin (11/3/2019). Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan kegiatan ekspor sayuran dari Kabupaten Bandung Barat setiap tahunnya mencapai 1.500 ton setahun atau 3,5 sampai 4 ton per hari. (Danny Ramdhani/ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Direktur Gizi Masyarakat Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Doddy Izwardy mengatakan saat ini terjadi kecenderungan warga di kota-kota besar termasuk Jakarta tidak menyukai sayur dan buah. Padahal keduanya merupakan nutrisi penting untuk menghindarkan penyakit degeneratif.

"Banyak kasus berat kurang tidak hanya dialami masyarakat di desa-desa, tetapi juga merambah ke kota-kota besar termasuk Jakarta," kata Doddy di Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Doddy mengatakan banyak dari kasus "stunting" (lambat tumbuh) baru diketahui setelah beberapa lama kemudian setelah orang tua melihat anaknya tidak tumbuh seperti anak normal lainnya.

"Kalaupun bisa ditangani anak-anak ini ke depannya akan terkena penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, dan lain sebagainya di saat usia muda. Banyak kasus di Indonesia penyakit ini banyak dialami mereka yang berusia 30-40 tahun," ujar Doddy.

Dalam diskusi bertajuk "Food and Nutrition and Its Contribution to Increase Society Welfare and Health" yang diselenggarakan Universitas Indonesia (UI) berkerja sama dengan produsen benih sayuran PT East West Seed Indonesia (Ewindo) disebutkan gaya hidup membuat masyarakat tidak lagi memperhatikan nutrisi yang dikonsumsinya.

Peneliti dari Puslit Pranata Pembangunan Universitas Indonesia, Widyono Soetjipto mengingatkan kualitas gizi dalam suatu makanan di negara-negara maju menjadi hal yang sangat penting.

AYO BACA : Makanan yang Baik dan Buruk untuk Dikonsumsi Ketika Migrain

"Patut diingat Indonesia masih menempati peringkat 65 dari mengenai keamanan pangan. Terlihat dari biaya riset dan pengembangan mengenai pangan yang masih rendah," ujar dia.

Sedangkan Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) Ujang Sumarwan mengatakan, penyakit yang mendominasi masyarakat di kota-kota besar saat ini merupakan penyakit-penyakit degeneratif seperti jantung, stroke, dan diabetes.

"Saya menduga ini akibat perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mudah. Dulu untuk membeli makanan kita harus berjalan dulu, namun sekarang ini makanan tinggal dipesan secara online sampai ke rumah," ujar dia.

Ujang mengingat paling penting juga sekarang masyarakat jarang memperhatikan kandungan makanan yang dikonsumsinya idealnya sepertiga karbohidrat, sepertiga protein, dan sepertiga sayuran.

"Isu keamanan pangan sudah menjadi hal yang sangat penting di berbagai negara, konsumen harus jeli untuk mengetahui kandungan gizi dalam suatu makanan," ujar dia.

Managing Director PT East West Seed Indonesia, Glenn Pardede mengakui konsumsi masyarakat Indonesia saat ini mengalami penurunan terlihat daya serap petani-petani sayur yang menjadi binaannya.

AYO BACA : 8 Makanan Pembersih Usus

Glenn mengatakan sesuai standar organisasi pangan dunia (FAO) konsumsi sayuran seharusnya 70 kilogram per orang, terakhir tahun lalu Indonesia masih sekitar 43 kilogram per kapita. Sedangkan tahun ini khawatir semakin turun.

"Indikasinya dapat dilihat harga jual ditingkat petani beberapa komoditi jatuh, misalnya tomat di beberapa daerah sempat jatuh hanya Rp800 per kilogram," ujar dia.

Gleen melihat ada yang salah dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia, padahal dari segi pasokan dan harga sayuran di Indonesia tidak pernah mengalami perubahan serta selalu tersedia di pasar.

"Berbeda dengan buah-buahan yang tergantung musim, untuk sayuran selalu tersedia dan harganya selalu stabil. Sehingga saya juga heran mengapa konsumsi justru turun," ujar dia.

Hal senada juga disampaikan Public Affairs Manager East-West Seed Group Maaike Groot yang menyampaikan industri sayuran memberikan kontribusi besar bagi pembangunan berkelanjutan yang menjadi program pemerintah.

"Salah satu perhatian kami adalah mengenai pemberian nutrisi apalagi kalau melihat angka stunting di Indonesia masih tergolong besar 37 persen dari jumlah anak Indonesia," ujar Maaike.

Pada kesempatan itu, Ewindo juga mengumumkan kegiatan penghargaan inovasi 2019 Panah Merah Innovation Award (PMIA) 2019 untuk memberi penghargaan inovasi kewirausahaan di bidang nutrisi, kesehatan, dan kegiatan sosial lainnya.

Glenn Pardede menerangkan sebagai perusahaan yang bergerak di sektor pertanian memiliki perhatian besar untuk mendorong pemenuhan asupan gizi seimbang dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

“PMIA adalah program tahunan, di mana pada tahun lalu kami fokus pada upaya perubahan dari pertanian tradisional menjadi pertanian modern. Maka tahun ini, kami ingin mendorong munculnya inovasi-inovasi kewirausahaan khususnya di bidang nutrisi, kesehatan dan sosial kemasyarakatan,” ujar Glenn Pardede.

AYO BACA : Pentingnya Membatasi Gula pada Makanan Bayi

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers