web analytics
  

67% Calon Jemaah Haji Asal Jabar Berisiko Tinggi

Kamis, 4 Juli 2019 16:26 WIB Nur Khansa Ranawati

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Berli Hamdani Gelung Sakti. (Nur Khansa/ayobandung)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Sebanyak 67% calon jemaah haji asal Jawa Barat saat ini teridentifikasi sebagai golongan risiko tinggi.  Kategorisasi risiko tersebut dipisahkan berdasarkan usia dan riwayat penyakit. Mayoritas di antara calon haji asal Jabar berada pada usia lansia, dan sebagian lain memiliki risiko penyakit tidak menular.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Berli Hamdani Gelung Sakti saat ditemui di Gedung Sate, Kamis (4/7/2019). Untuk mengantisipasi tingginya angka calon haji berisiko tinggi tersebut, dia mengatakan, Dinkes Jabar telah mengerahkan kurang lebih 60 orang  Tim Kesehatan Haji Daerah (TKHD) untuk mendampingi para calon jamaah yang akan bertolak ke tanah suci.

Anggota TKHD tersebut terdiri dari tim dokter dan perawat. Dia mengatakan, sedikitnya ada 28 dokter, 28 perawat dan beberapa orang tenaga medis lainnya yang turut diberangkatkan. 

"Kita menyiapkan TKHD yang akan mengawal kloternya provinsi dan kabupaten kota. Untuk di Jabar ada 28 dokter dan 28 perawat. Total sekitar 60 orang," ungkapnya.

Selain itu, para calon haji terutama yang berisiko tinggi tersebut juga telah diantisipasi keperluan kesehatannya melalui persediaan 70 ton obat-obatan oleh pemerintah pusat. Jumlah tersebut disiapkan berkaca pada data tahun lalu, dimana Jamaah Haji asal Indonesia banyak yang mengalami sakit dan memerlukan obat. 

"Jadi (obat-obatan) tidak dialokasikan per-provinsi. Nanti akan diberikan kepada jamaah yang membutuhkan sesuai dengan kondisi kesehatannya," jelas Berli. 

Meski demikian, tahun ini tidak akan ada pembagian gelang sesuai kategori yang akan memudakan tim medis untuk mengawasi jamaah terutama yang tergolong ke dalam risiko tinggi.  Para jamaah akan dapat diidentifikasi riwayatnya melalui buku kesehatan.

"Memang banyak yang berisiko, tapi saat tes kebugaran dan manasik haji, sudah terdata dan dimasukkan ke buku kesehatan. Mudah-mudahan jamaah bisa bekerja sama menjaga kesehatan dari mulai pemberangkatan di embarkasi sampai pulangnya," ungkapnya. 

Adapun jenis penyakit yang saat ini berisiko diderita para jamaah, Berli mengatakan, telah bergeser menjadi penyakit tidak menular seperti hipertensi hingga kanker.

"Misalnya ada hipertensi, ada faktor kesehatan akrena sudah sepuh, ada juga karena kegemukan, ada yang menderita kanker tapi sebelumnya belum diketahui," paparnya.

Hal tersebut disebabkan oleh para calon jemaah saat ini yang rata-rata sudah mendapatkan vaksin lengkap. Sehingga, risiko terkena penyakit menular seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Middle East Respiratory Syndrome (Mers), hepatitis B dan meningitis sudah berkurang.

"Sekarang (jamaah) sudah menggunakan vaksin dan rata rata Jamaah Haji Jabar sudah mendapatkan vaksin yang lengkap . Termasuk vaksin flu, ada juga yang mengambil vaksin tifoid," ungkapnya. 

Berli juga mengimbau para calon jamaan haji untuk dapat senantiasa menjaga kesehatan sleama berada di tanah suci, meliputi istirahat yang cukup dan teratur juga menjaga pola makan. Pasalnya, saat ini cuaca cukup ekstrim masih terjadi di tanah suci.

"Kalau malam bisa dingin sekali itu berlangsug sampai pagi, dan siang bisa panas sekali. Istirahat bisa dilakukan dua jam sekali, bisa juga sambil dzikir. Saya rasa saat manasik itu sudah disampaikan," pungkasnya.

Editor: Andres Fatubun
dewanpers