web analytics
  

Anak Masuk PAUD, Perlukah?

Selasa, 2 Juli 2019 15:31 WIB Netizen Netizen
Netizen, Anak Masuk PAUD, Perlukah?, pendidikan anak usia dini, PAUD, anak PAUD

Ilustrasi anak PAUD. (Irfan Al-Faritsi/ayobandung.com)

Apakah Anda mempunyai Balita? Masa Balita seringkali dikaitkan dengan istilah Golden Age atau Usia Emas. Usia emas anak adalah masa terpenting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

asa ini menjadi basis serta landasan pertumbuhan dan perkembangan anak. Usia emas terjadi pada masa awal kehidupan anak yaitu 0–6 tahun. Sebagaimana emas, jika ia ditempa dengan baik maka akan tercipta perhiasan yang indah. Begitu pula anak, jika pada usia emasnya dididik dengan baik maka ia akan menjadi anak yang memiliki mental dan karakter yang istimewa.

Orang tua mesti memahami pentingnya usia emas anak untuk menanamkan nilai-nilai dan pendidikan terbaik bagi buah hatinya. Pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap informasi, baik informasi baik maupun buruk.

Oleh karena itu orang tua harus memastikan segala yang diterima anak pada usia emas ini adalah informasi yang baik, perintah yang baik, nasihat yang baik serta pembiasaan yang baik. Jauhkan segala hal negatif dari anak karena apa yang diterimanya pada usia ini akan sangat mempengaruhi kehidupannya di masa depan. Salah satu yang perlu diperhatikan oleh orang tua pada usia emas anak adalah memberinya pendidikan terbaik.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Berdasarkan Pasal 28 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan melalui tiga jalur yaitu informal, formal dan non formal. PAUD adalah jenjang pendidikan yang diberikan kepada anak berusia 0–6 tahun sebelum memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD).

PAUD formal mencakup Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudlatul Athfal (RA) yang diperuntukkan bagi anak berusia 4-6 tahun. PAUD non formal disediakan bagi anak-anak berusia 2-4 tahun yang memiliki beberapa jenis pendidikan yang dikenal dengan Tempat Penitipan Anak (TPA) dan Kelompok Bermain atau Play Group.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Pendidikan anak yang pertama dan terpenting adalah penanaman pendidikan dari keluarga khususnya orang tua.

Bahkan sebuah syair Arab menyebutkan bahwa Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Pendidikan anak di dalam keluarga merupakan fase pembentukan mental dan karakter. Pendidikan di dalam keluarga ditanamkan melalui keteladanan, pembiasaan, perintah dan larangan.

Lalu, seberapa pentingkah bagi orang tua untuk menyekolahkan buah hatinya di jenjang PAUD? PAUD bertujuan untuk membantu perkembangan kognitif dan sosial anak-anak pra sekolah sebelum memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD).

Melalui PAUD, orang tua dapat mengetahui sejauh mana perkembangan kognitif serta motorik anak.  Anak-anak akan bermain dan belajar secara klasikal sehingga secara langsung mereka akan belajar untuk bersosialisasi.

Dalam wadah PAUD, anak-anak akan memahami bagaimana konsep berbagi, konsep bermain bersama, berfokus menerima perintah serta mengikuti kegiatan secara terstruktur. Dapat dikatakan bahwa PAUD merupakan tahap ‘pemanasan’ sebelum masuk ke jenjang Sekolah Dasar (SD).

Berdasarkan data BPS, pada 2018 sebanyak 21,53 persen penduduk 0-6 tahun sedang mengikuti pra sekolah dan sebanyak 6,83 persen pernah mengikuti pra sekolah. Jenis pendidikan pra sekolah yang paling banyak diikuti adalah TK yaitu sebanyak 60,86 persen. Diikuti dengan PAUD/PAUD terintegrasi (30,29 persen), RA (6,18 persen), Kelompok Bermain (2,09) dan Tempat Penitipan Anak (0,57 persen).

Kondisi perkotaan dan perdesaan memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal keikutsertaan anak 0-6 tahun pada pendidikan pra sekolah. Pada 2018, keikutsertaan anak pada pendidikan pra sekolah di daerah perkotaan lebih tinggi (22,53 persen) dibandingkan dengan daerah perdesaan (20,38 persen).

Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Penduduk wanita bekerja di daerah perkotaan lebih banyak dibanding daerah perdesaan, sehingga mereka lebih memilih untuk memberikan pendidikan pra sekolah misalnya di Tempat Penitipan Anak (TPA) maupun Kelompok Bermain. Selain itu, kondisi sosial di perkotaan juga lebih individualis sehingga orang tua lebih memilih pra sekolah sebagai wadah belajar bersosialisasi.

Peran Pemerintah

Memahami pentingnya pemanfaatan usia emas pada anak, pemerintah turut serta berpartisipasi dalam memberikan pendidikan terbaik bagi anak bangsa. Anak-anak merupakan masa depan bangsa yang akan berkontribusi bagi pembangunan negeri di masa yang akan datang sehingga pemerintah wajib menyiapkan anak-anak sebagai generasi unggul. Pemerintah memanfaatkan usia emas dengan berfokus pada pendidikan pra sekolah.

Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2019, Pemerintah mewajibkan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk menyelenggarakan layanan PAUD. Dengan demikian, PAUD menjadi salah satu layanan wajib di selenggarakan Pemda.

Data Kemendikbud mencatat bahwa pada 2019 terdapat sekitar 6,3 juta anak usia 0-6 tahun, didampingi oleh 514 ribu tenaga pendidik dengan jumlah unit pendidikan pra sekolah sebanyak 232.411 unit. Dari data ini dapat dilihat rasio guru dan anak pada semua jenjang adalah 1:12, artinya satu orang guru mendampingi 12 anak.

Berdasarkan Kemendiknas, rasio ideal guru dan anak pada jenjang TPA (0-4 tahun) adalah 1:4, jenjang PAUD 2-4 tahun adalah 1:8, dan jenjang PAUD 4-6 tahun adalah 1:15.

Dari sisi anggaran, pemerintah memberikan dukungan yang besar. Data Kemendikbud menyebutkan bahwa pada tahun 2019 alokasi Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD mencapai 4,457 triliun.

Dana tersebut diserahkan kepada seluruh satuan pendidikan PAUD dengan jumlah bantuan sebesar Rp 600 ribu per anak per tahun. Selain itu, dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan pra sekolah pemerintah mengalokasikan tidak kurang 500 Milyar untuk membangun infrastruktur sekolah dan menyediakan buku serta alat permainan edukasi.

Menilik data BPS, pada tahun 2018 dari 83.931 desa/kelurahan baru 60.410 desa/kelurahan memiliki sekolah Pos PAUD dan 53.575 desa/kelurahan memiliki sekolah TK. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah masih perlu meningkatkan infrastruktur sekolah demi pemerataan pendidikan anak.

Dukungan Orang Tua

Pemerintah telah mengambil peran dalam mendukung pendidikan anak dengan cara memfasilitasi sarana dan prasarana pendidikan anak. Pemerintah berharap besar terhadap para orang tua untuk mempercayakan pendidikan buah hatinya kepada PAUD yang sudah disiapkan oleh pemerintah.

Sebagai warga negara yang baik, selayaknya para orang tua ikut membantu kesuksesan program pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan anak usia dini. Namun dalam memilih sekolah PAUD bagi anak, orang tua harus tetap mempertimbangkan beberapa hal.

Pertama, orang tua seharusnya mengenali karakter anak. Dengan mengenali karakter anak, orang tua dapat berkomunikasi dengan guru mengenai karakter anak sehingga guru dapat memberikan perlakuan khusus terhadap anak jika ia membutuhkannya.

Dilihat dari karakter anak, orang tua dapat memastikan kesiapan untuk mengikuti pendidikan PAUD. Kesiapan anak tidak dapat ditentukan dari usianya karena karakter, pertumbuhan dan perkembangan tiap anak berbeda-beda.

Kedua, orang tua harus mencari informasi mengenai sekolah yang sesuai bagi anaknya. Masing- masing sekolah memiliki kebijakan dan fasilitas yang berbeda. Orang tua harus memperhatikan hal ini karena erat kaitannya dengan dengan output pendidikan yang diterima oleh anak nantinya.

Selain itu, karakter anak juga akan berpengaruh terhadap pilihan sekolah. Jarak sekolah dengan tempat tinggal juga merupakan hal penting untuk diperhatikan. Sebaiknya, pilihlah sekolah yang dekat dengan tempat tinggal.

Yang ketiga, orang tua harus tetap memikirkan budget pendidikan anak usia dini. Meski pemerintah telah memberikan anggaran BOP PAUD, tapi beberapa sekolah masih menentukan besaran iuran pendidikan per bulan.

Besarnya iuran masing- masing sekolah akan berbeda-beda sesuai dengan kebijakan dan fasilitas yang disediakan. Beberapa sekolah ternama di kota besar bahkan biayanya mencapai puluhan juta per tahun. Tapi orang tua tak perlu khawatir karena masih banyak sekolah PAUD dengan standar fasilitas tertentu dengan biaya yang ramah di kantong.

Dalam hal pendidikan anak pada usia dini, pemerintah telah menjalankan perannya dalam menyediakan pendidikan terbaik bagi anak bangsa. Dan mengingat pentingnya usia emas anak, sewajarnya orang tua memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya melalui PAUD.

Tapi, keputusan akhir untuk memilih mana sekolah terbaik bagi anaknya ada di tangan orang tua melalui berbagai pertimbangan. Pemerintah dan orang tua sudah semestinya saling mendukung demi pendidikan terbaik anak-anak bangsa.

 

Etik Isnaeni, SST

Statistisi Ahli Pertama BPS Kota Tasikmalaya

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

terbaru

Urgensi Integrasi Data

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 15:52 WIB

“Kita harus ngomong apa adanya, ini tidak efektif”. Kegundahan Presiden Joko Widodo atas progres Pemberlakuan Pembatasan...

Netizen, Urgensi Integrasi Data, PPKM,Integrasi data,BPS Jabar

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 09:29 WIB

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen, Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran, Situ Aksan,Sejarah Situ Aksan,Sin Ming,Iklan Situ Aksan,Sin Ming Hui Bandung

Penerjemah Sunda Pertama

Netizen Kamis, 25 Februari 2021 | 10:00 WIB

Raden Kartawinata menduduki posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, menjadi penerjemah...

Netizen, Penerjemah Sunda Pertama, Penerjemah Sunda,raden kartawinata,K.F. Holle

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Netizen Senin, 22 Februari 2021 | 15:08 WIB

Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembag...

Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:59 WIB

Beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut sebagai produsen sampah nomor dua terbesar di dunia.

Netizen, Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara, Sampah,Indoensia,Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN),Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sekolah di Sumedang

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:54 WIB

Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh...

Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB

Manfaat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai diragukan setelah Uni Soviet bubar, juga ketika negara-negara pecah...

Netizen, Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China, NATO,Pakta Pertahanan Atlantik Utara,Joe Biden,Amerika Serikat,Australia,china,Presiden Cina Xi Jinping

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:54 WIB

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen, Mencegah Kebakaran Sejak  Dini, mencegah kebakaran,dinas kebakaran,cara mencegah kebakaran

artikel terkait

dewanpers