web analytics
  

Trump Tunda Serangan ke Iran

Sabtu, 22 Juni 2019 12:32 WIB Netizen Netizen
Netizen, Trump Tunda Serangan ke Iran, trump,iran

Presiden Amerika Donald Trump.(Reuters)

Tiga anggota kelompok garis keras yakni  Menlu Mike Pompeo, Penasehat Keamanan Nasional John Bolton dan Kepala Pusat Badan Intelijen Gina Haspel telah menyetujui serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran.  

Pesawat-pesawat pembom tempur telah mengudara dan kapal-kapal perang sudah dalam siaga penuh, tetapi Presiden Donald Trump pada Kamis malam (20/6/2019) waktu Amerika Timur membatalkan serangan itu. Apa yang sebenarnya terjadi? 

Iran merupakan negara yang tersisa dalam strategi AS, Saudi Arabia dan Israel  untuk menstabilkan Timur Tengah. Yordania, Irak dan Libya sudah terlebih dahulu  dijinakkan atau dihancurkan, sementara Syria yang berbatasan dengan Israel masih memerlukan waktu lama untuk kembali menjadi ‘musuh’. 

Menghancurkan Iran akan menenangkan Saudi yang cemas dengan ambisi teritorialnya. Menyenangkan Israel yang akan terbebas dari ancaman nuklir Teheran dan gangguan Hizbullah dari wilayah Lebanon atau Palestina. Mengapa serangan dibatalkan?

Di kalangan elit Washington terdapat perbedaan pandangan. Beberapa Senator menilai tindakan Garda Revolusi Islam Iran menembak jatuh pesawat pengintai tanpa awak Global Hawk dapat ditiru Korea Utara, dengan motif memaksa AS kembali ke meja perundingan. 

Meskipun demikian, mereka meragukan kesetiaan Ryadh dan Tel Aviv terhadap langkah-langkah berikutnya. Jangan-jangan AS dibiarkan maju sendiri sekalipun Saudi dan lainnya turut menanggung biaya perang.

Tambahan lagi, menilik kekuatan militer dan soliditas dalam negeri Iran maka tidak mungkin menghancurkan Iran dalam waktu singkat. Perang yang berkepanjangan berisiko menciptakan ketidakstabilan di Timur Tengah dan dunia, dalam aspek politik, ekonomi, perdagangan dan militer. Minimal lebih buruk dari embargo minyak tahun 1974. 

Perang akan menutup Selat Hormuz yang biasa dilewati kapal-kapal tanker menuju Eropa dan Asia Timur. Kenaikan harga minyak sekalipun menguntungkan para spekulan di Wall Street tetapi memicu resesi dunia. Eropa, Cina, Jepang, dan Korea Selatan akan terkena pengaruh. 

Indonesia juga bakal terpukul, apalagi defisit anggaran belanja diramalkan melebar karena pendapatan dari pajak tak mencapai sasaran.

Sebenarnya realisasi menjatuhkan Iran ditarget tahun 2009. Ketika itu kalangan generasi muda dan kaum konservatif diadu domba. Rencana tersebut gagal total, tetapi niat menghancurkan Iran tetap membara.

Penarikan AS dari perjanjian kesepakatan pengendalian nuklir Iran,  Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), pada Mei tahun lalu dan menggantinya dengan sanksi ekonomi merupakan langkah awal mengikuti jalan ‘lama’. 

Penarikan itu sesungguhnya sulit dimengerti karena akan mengendalikan pengembangan nuklir Iran hingga 2030. Tapi bagi elit Washington yang setuju, penarikan dipandang menghapus ketidakpastian.

Penarikan diri itu disertai penerapan atas Iran, yakni dengan  mengancam akan menjatuhi sanksi kepada negara-negara yang membeli minyak mentah, produk tambang dan baja Iran. Di samping memasukkan pasukan elit Iran, Korps Garda Revolusi, ke dalam daftar teroris.  

Bukan saat yang Tepat

Rencana penyerangan pada Kamis lalu itu sepertinya merupakan puncak dari pembalasan atas penembakan drone di atas selat Hormuz, serta serangan terhadap tanker minyak  dua kapal tanker Kokuka Courages asal Jepang dan Front Altair dari Norwegia di selat Oman.

Amerika Serikat menuduh Iran menyerang kedua tanker. Lucunya, pernyataan itu dibantah Presiden Kokaku Sangyo, Yutaka Katada.

"Kami menerima laporan bahwa ada sesuatu yang terbang ke arah kapal. Tempat di mana proyektil mendarat secara signifikan lebih tinggi dari permukaan air, jadi kami benar-benar yakin bahwa ini bukan torpedo atau ranjau limpet." 

Kurasa tidak ada bom waktu atau benda yang menempel di sisi kapal, tukasnya pada konferensi di Tokyo, 14/6/2019. Tanker membawa 25 ribu  methanol dalam perjalanan menuju Singapura dari Arab Saudi. 

Serangan lebih dipandang sebagai sabotase karena berlangsung di tengah kunjungan PM Shinzo Abe ke Teheran untuk membahas hubungan ekonomi kedua negara. Di samping mendengarkan aspirasi para pemimpin Iran dalam hubungan dengan AS.      
 
Pembatalan serangan oleh Trump tampaknya a.l disebabkan bangsa Iran tengah bersatu padu, tidak dalam kondisi seperti Irak di dibawah Saddam Hussein. Selain daripada itu banyak negara saat ini yang tidak simpati dengan gaya uniteralis yang dilakukan Trump.Jadi dukungan diperkirakan hanya diperoleh dari Inggris Saudi dan Israel. 

Kekuatan militer Iran juga jauh lebih kuat dibanding Irak. Iran memiliki peluru kendali balistik Seijjil, berdaya jangkau 2.500 km, yang dapat membawa hulu ledak nuklir seberat 1.000 kg.  

Iran mempunyai kapal selam Ghadir yang dapat mengganggu arus lalulintas di selat Hormuz. Ghadir dapat membawa rudal anti kapal Khalij yang mampu menghantam sasaran sejauh 200 km. 

Efektivitas pesawat tempur AS juga dapat dihalangi rudal S-300. Kehebatan rudal buatan Rusia ini sudah terbukti di palagan udara Syria. Serangan AS terhadap Iran juga dapat membakar semangat Hezbollah yang dikabarkan memiliki 160 ribu peluncur roket di perbatasan dengan Israel.

Iran mempuyai 850 ribu tentara, 523 ribu diantaranya aktif. 398 unit kapal perang. 2.531 tank dan sedikitnya 1000 rudal. 509 unit pesawat terbang. Kekuatan militer yang tidak mungkin dihancurkan dalam waktu singkat.  

Kemungkinan lain yang turut diperhitungkan Trump adalah faktor Rusia dan China. Kedua negara telah memperlihatkan dukungan kepada Presiden Venezuela Nicolaas Maduro yang akan digulingkan Amerika Serikat. 

Ambisi Akan Dilanjutkan 

Sebagai negara yang ingin mendominasi dunia, AS dengan berbagai cara akan menjatuhkan Iran untuk menstabilkan Timur Tengah dan menguasai cadangan minyak Iran yang diprediksi berjumlah 158.300 juta barrel. 

Salah satu peluang baru adalah apabila Iran mengabaikan isi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) dengan melanjutkan melanjutkan pengembangan peluru kendali serta pengayaan uranium. Pengabaian ini  boleh jadi akan membuat Prancis, Jerman dan Inggris mendukung langkah-langkah AS, termasuk dengan menyerang Iran.

Banyak pihak yang akan membeli atau menyimpan dolar AS serta emas sebagai safe heaven. Tingkat suku bunga pinjaman akan meningkat karena banyak negara yang memerlukan dana untuk menutup anggaran belanja.  

Siapakah yang mendapat manfaat? Sebagian kecil elit dunia, di antaranya, perusahaan-perusahaan migas, industri militer, perbankan, dan lembaga keuangan serta perusahaan yang menjual bahan mentah dalam matauang asing. Secara umum, Amerika Serikat yang menjadi pemenang!

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Tag
Editor: Redaksi AyoBandung.Com

terbaru

Pesona Nepal van Java Majalengka: Feature Ecomuseum “Kampung Cibuluh”

Netizen Senin, 25 Januari 2021 | 11:08 WIB

Desain rumah yang tersusun secara teratur serta pemandangan hijau yang disajikan menjadikan kampung ini sebagai Nepal-ny...

Netizen, Pesona Nepal van Java Majalengka: Feature Ecomuseum “Kampung Cibuluh”, Kampung Cibuluh Majalengka,Pesona wisata kampung Cibuluh Majalengka,Kampung Cibulung mirip suasana Nepal,Kampung Cibuluh di kaki Gunung Ciremai,Potensi wisata Kampung Cibuluh

Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi COVID-19

Netizen Senin, 25 Januari 2021 | 10:06 WIB

Mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan menjadi isu dan agenda prioritas dalam berbagai pertemuan yang diselenggarakan...

Netizen, Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi COVID-19, Ketahanan Pangan,ketahanan pangan di masa pandemi,isu ketahanan pangan,jaminan ketersedian pangan

Relevansi Penerapan Merdeka Belajar terhadap Pandemi Covid-19

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 19:07 WIB

Akankah adanya kebijakan merdeka belajar--kampus merdeka relevan untuk diterapkan pada pendidikan tinggi teknik, khususn...

Netizen, Relevansi Penerapan Merdeka Belajar terhadap Pandemi Covid-19, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim,Merdeka Belajar,Pandemi Covid-19,pendidikan di masa pandemi covid 19,kebijakan merdeka belajar

Oleh-Oleh Tak Sekadar Barang Bawaan

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 18:07 WIB

Oleh-oleh itu sendiri sebenarnya menunjukkan kekhasan daerah wisata yang sudah kita kunjungi pada kesempatan itu.

Netizen, Oleh-Oleh Tak Sekadar Barang Bawaan, oleh-oleh Bandung,Pedagang Oleh-oleh,Cemilan buat Oleh-oleh

Jalan Suryani, Pasar Loak Baru Segala Ada

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 17:15 WIB

Kota Bandung dikenal dengan pasar loak Astanaanyar dan Cihapitnya, tapi dalam beberapa taun terakhir tepatnya empat taun...

Netizen, Jalan Suryani, Pasar Loak Baru Segala Ada, pasar loak Bandung,Pasar Loak Astana Anyar,Pasar loak Cilaki,pasar loak jalan suryani,pasar loak,Bandung Baheula

Ketika Ponsel Ketinggalan di Dalam Taksi Online

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 14:23 WIB

Hal yang perlu diperhatikan adalah saat kita sedang bepergian. Berusahalah untuk selalu berhati-hati saat membawa atau m...

Netizen, Ketika Ponsel Ketinggalan di Dalam Taksi Online, Ponsel,kehilangan ponsel,bermain ponsel,ponsel ketinggalan,ketinggalan ponsel,menaruh ponsel

Menyoal Tantangan Sektor Pertanian di Era Pandemi

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 13:47 WIB

Penyebab Turunnya Nilai Tukar Petani di Jabar

Netizen, Menyoal Tantangan Sektor Pertanian di Era Pandemi, nilai tukar petani,ntp jabar,BPS,tantangan pertanian,BPS Jabar,COVID-19,Pandemi Covid-19

Bersepeda, Menyehatkan atau Membahayakan?

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 13:30 WIB

Olahraga Bersepeda, Menyehatkan atau Membahayakan?

Netizen, Bersepeda, Menyehatkan atau Membahayakan?, Bersepeda,jantung,olahraga pandemi,COVID-19,Bandung Hari Ini,jalan digunakan untuk sepeda

artikel terkait

dewanpers